IKLAN YARA

Mantan Hakim Konstitusi Muhammad Alim Meninggal Dunia

oleh -74.489 views
UPDATE CORONA

Jakarta I Realitas – Mantan hakim konstitusi Muhammad Alim meninggal dunia di usia 76 tahun. Muhammad Alim merupakan hakim konstitusi periode 2008-2015 dari unsur Yudikatif/Mahkamah Agung.

“Innalilahi Wa Innailihi Rojiun. Telah meninggal dunia Bapak Muhammad Alim pagi ini pukul 06.00 WIB di Makassar,” kata juru bicara Mahkamah Konstitusi (MK), Fajar Laksono kepada wartawan, Rabu (18/8/2021).

MK menyampaikan bela sungkawa atas berpulangnya Muhammad Alim. Semasa bertugas di MK, Muhammad Alim dikenang sebagai hakim yang amanah, penuh dengan integritas dan berjiwa negarawan. Rencana dimakamkan di TMP Makassar,” ujar Fajar.

Kolega Muhammad Alim, hakim konstitusi Arief Hidayat mengakui Alim telah menorehkan prestasi melalui sumbangan pemikiran dan konsep melalui putusan-putusan MK. Menurut Arief, Alim juga telah menciptakan warna tersendiri bagi putusan MK.

BACA JUGA :   Kapolresta Pimpin Apel gelar Operasi Patuh lancang Kuning 2021 di Mako Polresta Pekanbaru

Hal itu diketahui dari putusan-putusan MK yang religius. “Warna Ketuhanan Yang Maha Esa, warna islami dari putusan-putusan Mahkamah Konstitusi itu memang betul menghiasi banyak putusan Mahkamah Konstitusi terutama berasal dari pemikiran-pemikiran Yang Mulia Bapak Dr. Muhammad Alim,” ungkap Arief pada pisah sambut Muhammad Alim pada April 2015 lalu.

Arief menyatakan kekagumannya terhadap sosok Alim. Menurut Arief, Alim merupakan teman diskusi yang sering memberikan pemahaman bagaimana menjaga independensi, imparsialitas dan keteguhan seorang hakim.

“Saya sering berdiskusi dengan beliau (Alim), mendapat pencerahan dari beliau  bagaimana menjaga independensi, imparsialitas, keteguhan seorang hakim, karena beliau adalah seorang hakim yang di mulai dari bawah yang kemudian menjadi seorang negarawan yang mengabdi di Mahkamah Konstitusi,” tutur Arief yang juga Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu.

Muhammad Alim lahir pada 21 April 1945. Ia menghabiskan masa kecilnya di Batu Sitanduk, Palopo, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Alim kecil kurang beruntung. Ayahnya, Singgih, meninggal dunia selang beberapa tahun setelah Alim lahir.

Sejak itu hanya ibunya, Zaenab, dan kedua bibi yang mengasuh dan membesarkannya.

Dengan menjahit, bibinya mengumpulkan rupiah untuk Alim hingga Alim kuliah dan menggondol Gelar Sarjana Hukum dari Universitas Hasanuddin pada 1974.

“Saya sekolah bukan karena ibu saya sanggup, tapi karena dibiayai oleh adik ibu saya,” kata Alim mengenang masa kuliahnya sebagaimana dikutip dari website MK.

“Jarak antara kampus dengan rumah famili tempat saya menumpang 5 km. Kalau harus jalan kaki tak sanggup. Mau bayar becak dari mana duitnya?” sambung Alim.

BACA JUGA :   Penembakan Seorang Ustaz di Tangerang, Diduga Sudah Dipantau Lama

Setahun setelahnya, ia menjadi CNPS di Pengadilan Tinggu Ujung Pandang. Lima tahun setelahnya, ia menjadi hakim di Pengadilan Negeri (PN) Sinjai.

Setelahnya, ia berpindah-pindah tugas mengadili berbagai perkara di Indonesia. Seperti di PN Poso, PN Serui, PN Wamena, PN Surabaya, Pengadilan Tinggi (PT) Jambi, PT DKI Jakarta, PT Kendari sebagai Wakil Ketua dan diangkat sebagai Ketua PT Sulawesi Tenggara.

Selain menyidangkan perkara, Muhammad Alim juga meneruskan kuliahnya hingga meraih gelar Doktor.

Pada 26 Juni 2008, Muhammad Saleh akhirnya disumpah sebagai hakim konstitusi oleh Presiden RI. (*)

Sumber: Dtc