Walikota Aminullah Berjanji Segera Benahi Pelayanan Puskesmas Banda Raya

oleh -334.759 views
Walikota

Banda Aceh I Realitas – Walikota Banda Aceh H.Aminullah, SE, AK berjanji segera membenahi peran dan fungsi pelayanan di Puskesmas Banda Raya, Banda Aceh, Provinsi Aceh.

Walikota Banda Aceh yang betul turun ke lapangan ini, Rabu (30/6/2021) pagi langsung menanggapi berita miris yang dilansir sejumlah media online di Aceh dan luar Aceh.

Berita lansiran itu menyangkut perlakuan petugas medis dan paramedis dipandang rada aneh, tidak lazim dan kurang bersahabat dalam memberikan pelayanan terhadap pasien, di Puskesmas Banda Raya Pemko Banda Aceh.

Kebutulan di antara pasien yang merasa pelayanan dan perlakuannya kurang tepat saat melakukan proses rapid antigen itu, justeru Senator Indonesia perdana asal Aceh dan mantan Dewan Kesehatan Aceh 2000-2005, Adnan NS, mantan Ketua PWI Aceh.

Proses rapid test antigen itu berlangsung di bawah pohon tanpa tenda beralaskan tanah saja. Untuk itu si pasien harus menunggu waktu melebihi satu jam.

Kaki dan tangan pasien di tempat tumpukan bunga itu sempat mendapat “suntikan” nyamuk. Sementara petugas berkaca minus yang menyuruhnya duduk di pojok luar itu, hanya menyaksikan saja melalui celah bagian atas perangkat face shild dari kejauhan.

Selain menyampaikan terimakasi atas konfirmasi informasi ini, Walikota Amin yang sering disapa Bang Carlos oleh kawula muda, juga mengatakan segera memasan tenda di tempat pelayanan rapid test itu, agar pasein bisa duduk dengan tenang, ujar nya.

Sebenarnya tambah amin, kepada pers, pemisahan tempat pelayanan antara pasien umum dengan yang pasien Covid, atas saran mereka yang takut tertular, itu saja dilapangan, namun semuanya segera di perbaiki janji Aminullah.

Sementara Lukman selaku Kadinkes baru di Banda Aceh ini kepada pers mengakui, penanganan terhadap pasien rapit test belum pas Standar Operasional (SOP).

Ini segera kita benahi katanya, ujar Lukman kepada awak media.

Kalangan puskesmas menyatakan terkejut beredar berita ini disusul dilakukan Inpeksi mendadak (Sidak) kadiskes tadi pagi.

“Rupanya, bapak tokoh ya? Selama ini kita tidak tahu. Penampilannya biasa saja. Kadang sering pakai trainning naik sepeda ke sini”, ujar sumber meniru colotehan sesama mereka.

Kalangan lain menyebutkan, Rabu (30/6/2021) Kadinkes langsung menggelar rapat membahas tentang prosudur khusus dan layanan jitu di era covid ini.

Sebelumnya di beritakan media ini, Selasa (29/6/2021).

Mantan Ketua PWI Aceh Adnan NS Kecewa Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Banda Raya Banda Aceh Memprihatinkan.

Sebuah pemandangan miris, penuh keprihatinan dan ketidak layakan terjadi di Puskesmas Banda Raya, Banda Aceh Selasa(29/6/2021) pagi dalam memberikan pelayanan medis dalam melakukan rapid antigen terhadap para pasiennya, tempat sangat tidak layak.

Beberapa kalangan masyarakat setempat timbul pertanyaan, apakah perlakuan kurang etis, kurang layak, kurang manusiawi, kurang simpati dan muris ini diperkakukan terhadap pasien dalam test swab antigen ini karena ketidak adanya ketersediaan sarana dan fasilitas pada pusat pelayanan publik ini, tanya seorang warga didaerah itu.

Apa ataukah menganggap setiap orang yang diduga patut diduga terkena covid 19 harus diperlakukan seperti orang lepra (penyaket budok) harus diperiksa/diswap antigen itu di pinggir parit, atau di bawah pohon yang lembab tanpa dan dibiarkan disantap nyamuk dengan harus menunggu giliran rapid test melebihi satu jam yaitu sejak pukul 10.14 Wib.

Pantuan media ini Selasa (29/6/2021), Pasien itu sudah menunggu sejak pukul 09.04 Wib.Pukul 09.55 saya protes perlakuan kurang bersahabat, saya rencana membatalkan swap, ujar salah seorang warga yang enggan disebutka namanya kepada Media ini.

Tim dokter swab baru turun pukul 10.08 dan melakukan proses rapit pukul 10.14 Wib.

Katakanlah keadaan darurat, atau karena ketakutan bertatapan n atau berdekatan dengan pasien yang diduga terserang Covid 19, kan bisa saja disediakan tenda, teratak atau alas kaki atau perlak atau plastik, janganlah beralas tanah beratapkan langit, seperti memeriksa kerbau di padang gembalaan, ujar salah seorang pasein lainnya.

Begitu komentar beberapa pasien yang baru ke luar dari Pusat Kesehatan Masyarakat itu, Selasa (29/6/2021).

Di antara perlakuan dan tontonan tidak menarik dan tidak simpati dialami salah seorang tokoh Aceh Adnan NS Mantan Ketua PWI ACEH, juga Mantan Anggota DPD RI.

Bagi dunia kesehatan di Aceh namanya tidak asing sejak 1980 hingga 2005.Tugas kewartawannya 25 tahun di lingkup keshatan.

Dia pun dulu akrap dgn sejumlah dirjen di kementrian dan menkes di Jakarta.

Senator Aceh 2004-2009 yang juga tokoh Pers nasional, mantan ketua PWI Aceh dan mantan penasehat Pwi pusat ini tak berkutik ketika diperlakukan oleh tenaga profesional yang tidak proporsional ini demi untuk mengetahui dan memasikan kondisi kesehatannya apakah terkena covid, ketika ditawarkan oleh petugas setempat.

Padahal mantan Dewan Kesehatan Aceh(DKA) 2000-2005 ini Maret dan April sudah melakukan vaksin di RSIA dengan pelayanan terkesan paling baik.

Dia merasa diperlakukan rada aneh di awal berobat di Puskes ini.Saat mau ambil kartu sntrian langsung ditanyakan bapak sakit apa, tanya petugas kartu bagian depan, ujar Adnan.

Setelah diketahui menderita randang tengorokan, langsung dihadang, bapak duduknya di kursi ini(di tanah) bkn diteras.Beberapa saat kemudian diminta untuk pindah ke teras samping.

Tidak lama di situ dipanggil ke tetas depan dan diwawancara lagi: umur berapa, sakit apa, ada demam , ada sesak nafas, ada tersumbat hidup, ada mendatangi orang pesta?Jawabannya pukul 24 malam mengalami tersumbat hidung sebelah kanan, tapi paginya hilang.

Yang belum hilang sakit tenggerokan.Oke, mau diswap.Oh sangat mau, ucap saya untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya, tutur Adnan lagi.

Tapi alangkah terkejut, ketika saya tunjukan duduk dikursi di bawah pohon, ada tumoukan bunga di dekat pagar.

Tidak ada satu pun petugas yang memberikan edukasi, bahkan Zul bekas pejabat Disdik Aceh mentertawakan saya seperti orang buangan di situ.

Bebera orang yang melintas memperhatikan duduk sendirian sambil memukul beberapa nyamuk yang menyantapnya di bawah yang pepohonan yang lemban itu.

Usai pemeriksaan dan penyerahan bukti hasil rapid test negatif saya pun berlalu.

Yang mewancara kedua di teras depan berjarak tiga meter memegang buku berobat saya, tapi anehnya dia masih riwayat sakit dan kapan terakhir berobat, seolah petugas bermasker dan menggunakan face shild seperti saya, tak paham akan medis recordnya.

Saya memang sering tidak absen bermasker n face shild jika berpergian dengan bus umum, ujar nya lagi.

Justeru terkesan petugas ini ketakutan melihat kebiasaan ini setiap ke Rumah Sakit atau Puskesmas, tutup nya.

Media ini belum mendapatkan meterangan resmi dari Kepala Puskesmas setempat, menyangkut tempat pelayanan kesehatan yang begitu Bobrok di Puskesamas itu. (H A Muthallib)