Jakarta I Realitas – Kasus baru positif Covid-19 terus bertambah. Berdasarkan data yang disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika, (Jubir Kemkominfo) Dedy Permadi, lewat keterangan pers di Sekretariat Presiden, Senin (12/7/2021) sore, kasus baru Covid-19 di Indonesia kembali mencatatkan rekor, yaitu ada 40.427 kasus baru.
Dengan tambahan tersebut, total kasus Covid-19 di Indonesia sejak Maret 2020 hingga Senin (12/7/2021) berjumlah 2.567.630.
Di tengah lonjakan pertambahan angka positif Covid-19 yang kian memprihatinkan itu, pemerintah mengimbau warga agar menaati protokol kesehatan pencegahan Covid-19.
Saat ini, warga harus menaati aturan dalam PPKM Darurat agar pandemi virus korona segera dapat teratasi. Bagaimana dengan jagat pendidikan?
Di tengah lonjakan pertambahan angka positif Covid-19 yang demikian, demi keselamatan jiwa dari bahaya virus korona, para siswa dianjurkan untuk tetap tinggal dan belajar dari rumah (study from home), menjalani pembelajaran jarak jauh (distance learning).
Bagaimana para guru menghadapi dan menyikapi situasi yang demikian agar pembelajaran tetap menyenangkan, bermakna, dan bermutu?
Di tengah situasi yang demikian, guru harus tampil menjadi ‘Seniman Pendidikan’. Guru dituntut memiliki kemampuan menyesuaikan diri, beradaptasi terhadap perubahan dan perkembangan yang terjadi.
Guru dituntut mampu dan mau untuk terus belajar dan memiliki kreativitas (seni) dalam mendidik dan mengajar.
Di tengah pandemi Covid-19 yang kian memprihatinkan ini, para guru dituntut untuk lebih aspiratif, kreatif, eksploratif, proaktif, inovatif, dan inspiratif. Guru dituntut untuk membekali diri dengan keahlian khusus.
Di tengah semesta porak poranda akibat virus korona sekarang ini, guru mesti membekali diri dengan keahlian-keahlian khusus.
Di tengah kondisi yang mereduksi dan mendistorsi semangat belajar anak-anak kita saat ini, guru harus tampil ke depan sebagai pembela nilai-nilai kemanusiaan sejati. Ketika peserta didik loyo dalam belajar, guru harus tampil sebagai dinamo yang memberikan dorongan hasrat belajar yang kuat. Ketika mentalitas peserta didik ‘down’ akibat virus korona, guru harus tampil sebagai penawar dan penyelamat.
Ketika peserta didik membutuhkan figur yang ‘ideal’, sosok guru tampil ke depan sebagai personifikasi nilai-nilai ideal.
Kini, di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang kian melelahkan, guru yang memiliki seni mengajar, mendidik dan menginspirasi mutlak diperlukan.
Pembelajaran daring tetap akan berlangsung ke arah yang lebih baik, menyenangkan, bermakna, dan bermutu di bawah bimbingan seorang guru yang memiliki seni mengajar dan mendidik yang aspiratif-inspiratif.
Seni mengajar dan mendidik yang aspiratif-inspiratif sangat diperlukan dalam menghadapi berbagai tantangan akibat pademi Covid-19 saat ini dan untuk mencapai tujuan pembelajaran (pendidikan) yang telah ditetapkan sebelumnya.
Seni mengajar dan mendidik yang inspiratif akan menjadi daya ungkit dan api pemicu perubahan sikap mental, perilaku, dan mindset peserta didik dalam belajar, untuk berubah dan mengubah.
Guru yang memiliki seni mengajar dan mendidik yang baik akan menjadi energi positif yang dapat mengobarkan api semangat belajar peserta didik dan membangkitkan dorongan mereka untuk rela bekerja keras.
Guru sebagai seniman pendidikan memahami para peserta didiknya secara baik dan mengetahui apa kebutuhan mereka.
Sebagai seniman pendidikan, guru dapat menjadi guru yang ‘membumi’, kontekstual, dan inspiratif. Gambaran visinya mengakar kuat, penjelasannya mudah dimengerti.
Keberadaannya sungguh diabdikan untuk pelayanan dan kepentingan peserta didiknya.
Guru sebagai seniman pendidikan menyadari betul potensi, kapasitas, atau sumber daya yang dimilikinya dan juga peserta didiknya.
Dengan demikian, ia akan dengan sangat bersemangat untuk mengajak peserta didiknya untuk belajar lebih bersemangat, membuat ‘nilai tambah’, membuat perubahan: berubah dan mengubah.
Guru sebagai seniman pendidikan akan mampu memotivasi peserta didik secara personal sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Peserta didik akan merasa “terangkat” dan seolah menjadi “superman” yang selalu merasa mampu untuk melakukan sesuatu dan berbuat lebih. Guru yang memiliki seni mendidik akan mampu membuat peserta didik untuk menghargai dirinya sendiri.
Dengan mengenal dan memahami secara baik peserta didiknya, guru sebagai seniman pendidikan dapat menjadi lebih dari sekadar ‘guru’ yang baik, namun ia juga dapat menjadi mentor, inisiator, fasilitator, motor, inspirator, dan mediator bagi peserta didiknya dalam optimalisasi pengembangan diri dan menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi.
Guru sebagai seniman pendidikan dapat ‘mengikat’ peserta didik secara emosional.
Alasan emosional inilah yang membuat ‘kebersamaan’ guru – peserta didik menjadi semakin solid daripada sekadar hubungan guru-siswa dan hubungan pertemanan.
Dengan demikian, sikap respek dan prestis yang dapat mengangkat semangat peserta didik dalam belajar dapat ditumbuhkembang-suburkan di kalangan peserta didik.
Guru yang menyadari keberadaannya sebagai seniman pendidikan dapat memanfaatkan setiap peluang yang ada untuk menjadikan dirinya lebih kreatif dan inspiratif, lebih passionate dalam mencermati minat dan bakat peserta didiknya.
Hal itu juga menjadi kesempatan baginya untuk membuat gambaran visi dan imajinasinya menjadi lebih mudah dimengerti para peserta didik.
Di tengah semesta porak poranda akibat pandemi Covid-19 saat ini, guru harus menjadi ‘Seniman Pendidikan’ agar ia mampu membakar semangat juang peserta didik untuk melejitkan prestasinya secara optimal.
Kini, guru harus mempunyai obsesi untuk mewujudkan cita-cita besarnya dalam rangka optimalisasi kemanusiaan manusia peserta didiknya, tidak sekadar memikirkan “what’s in it for me”.
Dan itu hanya mungkin terwujud kalau guru sungguh menjadi ‘Seniman Pendidikan’ dalam setiap proses pembelajaran dan pendidikannya. Semoga! Tutup nya. (Deddy Karim)


