Publisher Indonesia Dukung Bareskrim Polri Ungkap Kebocoran Data 279 Juta WNI

oleh -84.489 views
WNI

IDUL FITRI

Surabaya I Realitas – Jagat media sosial dan media online saat ini dihebohkan oleh berita bocornya 279 juta WNI yang diperjualbelikan.

Bareskrim Polri langsung bergerak cepat menyelediki kasus viral ini, Kabareskim Polri Komjen Pol Agus Andrianto langsung memerintahkan Dirtipidsiber Brigjen Pol Slamet Uliandi untuk bergerak cepat.

REALITAS TV

Kasus bocornya data 279 juta WNI ini juga mendapat sorotan dari Komunitas Publisher dan Programer Indonesia.

“Ini memprihatinkan dan berbahaya”, ungkap Toni Romansyah Publisher dan Programmer asal Surabaya Jawa Timur dalam keterangan tertulisnya kepada awak media Minggu (23/5).

Lebih lanjut sejak kasus ini muncul, di grup teman-teman juga heboh karena data yang ditampilkan valid.

“Kami melihat data ini kalau disalahgunakan tentu membahayakan bagi pemiliknya”, pungkas Toni.

Pria yang saat ini fokus membangun SEO dan Go Digital untuk UMKM ini mendukung penuh Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto untuk membongkar kasus ini.

“Tentunya kami mendukung penuh Bareskrim Polri untuk mengungkap kasus ini karena ini membahayakan, 1 lembar KTP dan KK saja walaupun fotokopian bisa banyak kejahatan yang ditimbulkan”, tegas Toni.

Toni juga meminta institusi/lembaga yang menghimpun/menyimpan database masyarakat untuk benar-benar menjaga privacy data tersebut.

BACA JUGA :   KSAD Andika Perkasa Didukung 4 Anggota DPR Ini Jadi Panglima TNI

Saat ini banyak aplikasi baik webbase/android/IOS yang dibangun oleh badan atau lembaga negara sebagai wujud pelayanan, walau bersifat client di smartphone masyarakat tapi tetap terhubung ke server, bisa saja ada bug saat update aplikasi dan lain sebagainya.

“Kita contohkan apk di playstore, itu bisa di re-apk dan dibaca semua connection rule, api dan lain sebagainya”, tutup Toni.

Cara Mengetahui Data Pribadi Bocor dan Tips Proteksi

Pakar Siber dari CISSERrec, Pratama Pershada membeberkan cara mengetahui apakah data pribadi bocor di forum-forum peretas atau darkweb. Dia juga memberi tahu cara untuk memproteksi data yang sudah bocor.

Seperti diketahui  data 279 juta penduduk Indonesia diduga bocor dan dijual di forum peretas Raid Forums pada 12 Mei 2021.

Berdasarkan pantauan, data itu diunggah oleh akun bernama kotz. Dalam deskripsinya, data yang dimilikinya itu terdiri dari nama lengkap, KTP, nomor telepon, email, NID, dan alamat.

Akun itu juga memberikan 1 juta data sampel secara gratis untuk diuji dari 279 juta data yang tersedia.

Bahkan, akun itu menyebut ada 20 juta data foto pribadi di dalam data yang dimilikinya itu. Dari jumlah 279 juta data yang ramai diperbincangkan, Kominfo menemukan kurang dari 1 juta di antaranya diduga kuat dari dataBPJS Kesehatan yang bocor.

BACA JUGA :   Di Balik Pentingnya Pasal Penghinaan Terhadap Presiden

“Kalau data pribadi yang bocor di-publish pada forum-forum peretas atau darkweb, kita bisa mengetahui dengan menggunakan beberapa website pemeriksa kebocoran data pribadi yang di dalam database mempunyai miliaran data yang sudah bocor untuk mengetahui apakah ada akun online kita yang bocor dalam kejadian kasus kebocoran sebelumnya,” kata Pratama kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (22/5).

Untuk mengecek akun yang menjadi korban peretasan atau tidak, Pratama menyebut bisa menggunakan firefox mozilla yang bisa diakses di Monitor Firefox, selain itu ada avast.com dan haveibeenpwned atau juga bisa menggunakan www.periksadata.com buatan anak negeri.

“Pengecekan pada website-website tersebut relatif aman dan bisa dipertanggungjawabkan. Mereka menggunakan database yang memang sudah tersebar ke darkweb dan forum-forum internet. Berbagai kasus kebocoran data sebelumnya seperti marketplace Tokopedia, Bukalapak, Bhinneka sudah terdata di website pemeriksa data tersebut.”

“Namun berbeda lagi jika pada kasus kebocoran yang tidak di-published, tidak diperjual belikan, dan tidak disebar diforum peretas atau darkweb. Sudah pasti kita tidak akan mengetahuinya, intinya yaitu harus selalu berhati-hati terhadap data pribadi kita,” ujarnya.

BACA JUGA :   Masyarakat Belawan Krisis Kepercayaan Kinerja Aparat Keamanan

Pada prinsipnya, saat data disetor ke PSTE (Penyelenggara Sistem dan Transaksi Elektronik) atau instansi pemerintah, pengguna hanya bisa berharap data aman. Masalahnya di Indonesia adalah tidak ada undang-undang terkait data pribadi yang melindungi data masyarakat baik online dan offline yang sangat ditunggu kehadirannya.

Namun jika data pribadi sudah ketahuan bocor, Pratama menyebut masih ada cara untuk memproteksi kembali data tersebut.

Bahkan, menurut dia, masyarakat bisa mengamankan data pribadi sendiri sebelum pemilik layanan baik itu swasta maupun negara bisa mengamankan data pribadi pengguna yang bocor.

“Misalnya dengan mengubah password yang baik dan kuat. Aktifkan two factor authentication. Pasang anti virus di setiap gawai yang digunakan, jangan menggunakan wifi gratisan, jangan membuka link yang tidak dikenal dan mencurigakan, serta pengamanan standar lainnya.”

“Tetapi kalau bocornya dari pihak PSTE, kita sebagai korban tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Hanya bisa menjadi korban yang tidak berdaya ketika data pribadi kita sudah diambil orang,” ujar Pratama. (*)

UPDATE CORONA

Tentang Penulis: Editor Rahmad Wahyudi

Gambar Gravatar
Rahmad Wahyudi Adalah Wartawan di Media Realitas