Pengelohan Tembakau Berbasis Tradisional DI Desa Bukit Meuriam

oleh -155.489 views
Pengelohan
Foto: Mahasiswa Manajemen keuangan syariah, yeni marlinda

IDUL FITRI

Oleh :  yeni marlinda Mahasiswa Manajemen keuangan syariah ekonomi dan bisnis islam IAIN Langsa

Aceh Timur, Tembakau atau yang biasanya disebut dengan nama bakong aso merupakan hasil alam berupa daun yang diproses melalui berbagai tahapan hingga menjadi tembakau yang bisa dipergunakan atau dikonsumsi.

REALITAS TV

Bahkan tembakau bisa dijadikan sebagai obat alternatif yang bisa memberi banyak manfaat. Bagi Sebagian orang tembakau sudah tidak asing lagi, terutama dikalangan masyarakat desa, namun tetapi masih banyak juga masyarakat luar yang belum mengetahui apa itu tembakau (bakong aso) dan manfaatnya.

Banyak sekali manfaat yang bisa di ambil dari tembakau (bakong aso), salah satunya bisa mengobati sakit gigi, cara penggunaanya pun sangat mudah cukup mengambil sedikit tembakau dan menaruhnya di gigi yang terasa sakit.

Tidak heran banyak masyarakat desa sekarang mengandalkan tembakau ini untuk mengobati sakit giginya atau sekedar suka mengonsumsi tembakau karena sudah terbiasa maka sudah merasa enak.

Bagi Sebagian orang yang sudah merasakan tembakau ini akan merasa ketagihan, apabila tidak memakannya merasa ada yang kurang karena banyak sekali manfaat yang terkandung di dalamnya bagi yang sudah mencobanya. Namun bagi orang yang belum pernah merasakan tembakau ini akan merasa hal-hal yang tidak biasa, seperti pusing disebabkan tembakau ini sedikit memabukkan bagi pengguna pemula.

Sejauh ini tembakau (bakong aso) merupakan hasil bumi yang berupa  tanaman dan hanya di ambil daunnya saja untuk di olah menjadi tembakau yang siap konsumsi dengan berbagai proses dan tahapan-tahapan yang sangat unik.

Dan hanya orang yang tertentu dan berpengalaman saja yang bisa mengolahnya dengan baik dan memiliki cita rasa yang khas saat dikonsumsi, apabila terdapat kesalahan atau kurang teliti pada saat pengelohannya maka itu akan menjadikan tembakau memiliki rasa yang hambar dan hal tersebut bisa mengakibatkan kerugian bagi petani tembakau karena mengurangi nilai jual di pasar.

Adapun proses pembuatannya masih sangat manual atau masih menggunakan teknik tradisional bahkan sedikit sekali yang paham cara pembuatannya dan sangat sedikit pula orang yang mau belajar tentang cara pembuatannya. Mengingat tembakau cuma dapat diproduksi dalam setahun sekali masyarakat lebih memilih mengerjakan pekerjaan lain yang bisa dilakukan setiap hari.

Penanaman tembakau (bakong aso) hanya dapat ditanam dalam setahun sekali atau pada musim hujan, mengingat Indonesia atau khususnya aceh hanya ada dua musim yaitu kemarau dan hujan jadi tembakau hanya dapat tumbuh pada musim hujan saja.

Jika ditanam pada musim kemarau juga akan mengakibatkan daunnya tidak tumbuh dengan baik dan menjadi keriting bahkan bisa menjadikan daunnya menjadi bewarna kuning dan akan sedikit daun yang tumbuh karena batangnya tidak akan tumbuh tinggi. Hal tersebut dapat mengakibatkan kualitas dari tembakau menurun apabila tetap diproses pembuatannya.

Adapun prosesnya diawali dengan penaburan bibit tembakau, bibit tembakau diperoleh dari bunga tembakau yang sudah tua dan bunga tembakau tersebut dijemur terlebih dahulu sampai kering dan bisa disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama.

Bibit itu ditaburkan dulu dengan sembarang pada tanah yang subur dan lembab dan tidak terkena sinar matahari langsung artinya harus dibuat atap dari daun-daun pohon misalkan daun sawit, terus harus disiram setiap hari dan selalu diawasi dari binatang berupa semut yang memakan bibitnya, selama satu bulan lima belas hari.

kemudian setelah tumbuh kira-kira panjangnya sudah 4 cm, maka tembakau yang sudah tumbuh itu dipisah-pisahkan di tempat lain agar cepat tumbuh besar dan masih tidak boleh terkena matahari langsung. Setelah tumbuh 10 cm baru bisa di tanam di lahan yang luas yang telah dibersihkan dan disiram agar tidak layu. Dan selama proses penumbuhan tembakau harus tetap selalu di awasi dari serangan ulat-ulat daun yang memakan daun tembakau.

Waktu yang diperlukan untuk bisa memanen daun tembakau yaitu selama kurang lebih tiga bulan. Daun tembakau sebaikknya dipetik pada waktu pagi atau sore biar tidak terkena sinar matahari supaya daunnya tidak mudah layu.

Setelah di petik proses selanjutnya yaitu proses pelipatan, daun tembakau dilipat menjadi dua agar mudah di rajang. Kemudian proses selanjutnya daun tembakau dirajang kecil- kecil, dan perajangan menggunakan pisau khusus tembakau biar mudah pada waktu proses penjemuran. Penjemurannya menggunakan bleut (anyaman daun kelapa) dimana daun tembakau yang sudah di Rajang-rajang halus diletakkan dengan tipis di atas bleut (anyaman daun kelapa) tersebut.

Setelah kering atau warna nya sudah berubah dari hijau menjadi kecoklatan, tembakau di putar-putar dan digulung melingkar seperti bentuk obat nyamuk. Butuh keahlian dan harus ekstra hati-hati dalam menggulung tembakau itu, agar terbentuk sempurna melingkar. Kalau tidak teliti tembakau tersebut bisa menjadi putus-putus atau tidak padat.

bakau yang diperoleh langsung dari daun tembakau itu sendiri, prosesnya yaitu daun tembakau yang masih berwarna hijau dibiarkan selama beberapa hari hingga berubah warna jadi kecoklatan dan apabila diremas akan mengeluarkan air dengan sendirinya, dan air tersebut di pakai di tembakau yang sudah dibentuk seperti obat nyamuk tadi.

Proses penambahan air pun bisa memakai tangan atau kaki. Biasanya menggunakan kaki jauh lebih mudah dan cepat menyerap ditembakau. Dan setelah itu dibaluti juga dengan daun berwarna coklat agar tidak mudah kering dan ditimpa selama beberapa hari agar menjadi padat.

Setelah itu tembakau (bakong aso) sudah selesai proses pembuatannya dan tinggal menunggu beberapa minggu untuk bisa dijual dipasaran. Penjualannya pun biasanya akan diambil atau dibeli langsung oleh agennya yang turun langsung ke kampung dan dibeli sesuai dengan kualitas mabuk atau tidaknya tembakau itu.

Dan bisa juga dijual dengan membawa ke pasar dan menjualnya ke pedagang rempah-rempah yang akan menjualnya kembali kepada pembeli yang ingin beli eceran.

Untuk harga jualnya sangat bervariasi dan menurut musim biasanya dibeli dengan harga Rp. 140.000 sampai Rp. 160.000 per kilogram. Harga beli pun menurut kondisi pasar apabila lagi banyak tembakau dipasaran maka harga nya pun murah, begitupun sebaliknya.

Begitulah proses dari pembuatan tembakau berbasis tradisional di Bukit Meuriam, dengan adanya tembakau di Bukit Meuriam pun sangat membantu masyarakat dalam perekonomian dimasa pandemi covid-19. K arena nilai harga jualnya tidak berpengaruh sama sekali pada pandemi ini. (*)

UPDATE CORONA