Pembentukan Karakter Para Pemegang Masa Depan

oleh -145.489 views
Masa Depan

IDUL FITRI

Oleh Kelompok : Jumarni Hidayatul Ajra Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Langsa

Masa depan adalah pariode/waktu yang nanti akan dihadapi ataupun dimiliki pada waktu yang akan datang.

REALITAS TV

Sering kali masa dikaitkan dengan harapan atau keinginan yang ada pada diri setiap manusia untuk lebih baik lagi dari pada waktu sebelumnya. Masa depan tidak lepas dari keadaan yang kita lakukan pada saat sekarang ini.

Sedari sekarang kita harus dapat membuat atau mempersiapkan masa depan nantinya agar lebih berguna dimasa mendatang. Karena masa depan ditentukan dari perbuatan kita pada masa lalu dan masa sekarang.

Dalam pembentukan karakter setiap orang tidaklah lahir dengan sendirinya ataupun tidak semata-mata diwarisi berdasarkan keturunan.

Ada proses yang harus dilewati yang seiring terjadinya proses tersebut sehingga dapat menjadi suatu karakter.

Mulai dari manusia lahir dan hidup tumbuh dan berkembang sehingga  menjadi dewasa di keluarga, lingkungan serta setiap manusia dapat bergaul dan bermain bersama teman-temannya.

Sikap orang tua sering kali cemas dan selalu berpikiran negatif terhadap anak dapat menjatuhkan mental anak, sering kita lihat di lingkungan saat ini khususnya di kampung saya sendiri di desa Lawe Loning Aman, Kecamatan Lawe Sigala- Gala tepatnya di Kabupaten Aceh Tenggara, dimana yang saya lihat orang tua sering kali memukul anak, membentak tidak memberikan nasehat yang baik ketika anak salah, sering menjatuhkan kemampuan anak.

Sehingga dari perbuatan atau sikap orang tua yang seperti ini biasanya membuat anak merasa minder terhadap lingkungan, tidak berani untuk tampil, dan dengan karakter yang sepeti ini dapat dibawa anak hingga usia dewasa.

Pada saat sekarang juga sedang terjadi pandemi wabah yang menggemparkan dan juga dirasakan Indonesia dan dirasakan juga seluruh penjuru dunia, yang mana pandemi wabah yang sering disebut sekarang ini wabah Covid-19 tersebut sudah berlangsung di akhir tahun 2019 hingga sekarang pada tahun 2021.

Pandemi wabah Covid-19 tersebut belum juga kunjung usai. Dimana wabah Covid-19 tersebut menghambat semua kegiatan manusia.

Yang tadinya ada yang bekerja dikantor dan menemui orang banyak jadi berpindah tugas dan melakukan aktivitas semua di rumah. Hal ini juga terjadi di dunia pendidikan, dimana anak-anak yang harus berangkat pergi ke sekolah bertemu dengan teman-temannya, gurunya dan juga melakukan pembelajaran jadi berpindah tempat di rumah masing- masing.

Penutupan sekolah-sekolah dapat menghambat pencapaian target yang telah ditentukan oleh pemerintah ataupun sekolah dan juga penutupan sekolah ini juga berlaku di desa Lawe Loning Aman.

Dengan kondisi yang sekarang dapat menimbulkan dampak secara akademis dan juga pembentukkan karakter anak secara psikologis. Jadi agar wabah pandemi ini tidak menyebar, maka pemerintah menghimbau agar masyarakat tetap tinggal dirumah dan bekerja dari rumah.

Hal ini sebenarnya bisa menjadikan orang tua secara intens dalam membentuk karakter untuk para anak-anaknya atau yang kita sebut juga para pemegang masa depan nantinya. Para pemegang masa depan ini seharusnya pembentukan karekter tidak semata- mata diberikan di sekolah saja, melainkan di rumah juga harus diberi. Dan orang tua yang paling utama terhadap pembentukkan karakter anaknya.

Dan ini menjadi tantangan bagi orang tua dan juga anak. Mulai dari anak yang mulai bosan belajar di rumah, mengakibatkan orang tua harus ekstra dalam memberikan pengajaran dan pembelajaran baik untuk akademis anak maupun pembentukan karakter dirumah.

Astrid Gonzaga Dionisio dalam konferensi pers di BNBP, Kamis (2/4/2020). “anak kita adalah anak yang dinamik, enerjik, sesuai perkembangannya ingin dekat teman- temannya. Apalagi anak remaja yang lebih nyaman bersama teman sebaya dibandingkan orangtua”. (Tabi’in, 2020)

Kebosanan yang di rasakan anak selama dirumah saja tidak terlepas dari keingintahuan anak dalam mengeksplor dunia dan itu tidak mungkin dilakukan anak hanya berdiam diri dirumah saja. Biasanya sebelum ada wabah ini anak sering mengeksplor dunianya bersama teman–temannya bermain bersama dan melakukan aktifitas lainnya secara bersama.

Menurut Renvil Reynaldi, salah satu psikiater anak dan remaja menjelaskan bahwa perubahan sesuatu dapat menyebabkan dampak psikologis pada anak, biasanya disebabkan karena stres yang terlalu lama berdiam diri dirumah dalam kurung waktu yang lama, kegiatan terganggu, dan mengambil banyak kegiatan bereksplorasi anak sehingga anak tidak melakukan kegiatan tersebut pada saat berdiam diri di rumah.

Tai’in, 2020)Dikarenakan anak- anak tidak sama dengan orang dewasa, biasanya orang dewasa dihadap dengan situasi yang sama  seperti anak berdiam diri dirumah saja dalam waktu yang lama, orang dewasa dapat lebih memahami dampak  pada masa sekarang dan masa yang akan datang.

Orang tua yang ada di desa Lawe Loning Aman, biasanya dituntut oleh sekolah agar membantu dan bekerja sama selama belajar di rumah untuk dapat menjelaskan, menerangkan, sesuai dengan tingkat pencapaian yang akan diraih dan sesuai dengan panduan yang telah diberikan oleh pihak sekolah untuk tingkatan usia si anak.

Orang tua tidak hanya mengikuti panduan dari sekolah saja, sebaiknya orang tua juga harus mencari tahu dan mempelajari apa- apa saja yang di butuhkan si anak pada setiap perkembangan usia si anak.

Dan juga saya melihat di desa Lawe Loning Aman ini, melihat orang tua belum mampu mengusai ataupun orang tua jarang sekali mencari tahu tentang kebutuhan yang seharusnya anak butuhkan sesuai tingkatan usianya.

Terbukti karena saya melihat langsung proses kegiatan pembelajaran anak dari rumah. Orang tua sering memaksa anak agar anak bisa sesuai dengan kehendak yang orang tua itu sendiri mau tanpa tahu dampak yang ditimbulkan oleh anak.

Dan anak semakin terbebani di karenakan tuntutan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan belajar tanpa melihat dampak psikologis yang timbulkan anak. Dan juga karena belajar dari rumah sekolah sering kali memberikan tugas tambahan yang lebih banyak dari pada ketika anak sekolah normal.

Sikap orang tua yang tidak sabaran dalam memberikan atau menemani anak bermain serta belajar, sehingga seringkali muncul kekesalan dan juga orang tua melampiaskan emosinya pada anak dikarenakan merasa jenuh dengan belajar dari rumah.

Dan seharusnya orang tua harus memahami kesejahteraan psikologis anak dalam artian tidak membuat anak stres ketika berada di rumah dan membuat suasana belajar menjadi menyenangkan saat belajar di rumah.

Dampak dari wabah Covid-19 ini kebanyakan orang tua tidak kurang kreatif serta inovatif dalam memberikan rangsangan pola asuh pada anak, salah satunya dapat kita lihat dari karakter kemandirian anak di rumah.

Sejak diterapkannya belajar dari rumah dan juga melakukan aktifitas di rumah saja, anak- anak yang biasanya dapat melakukan kegiatan secara mandiri di luar, jadi sekarang tidak bisa melakukan apa-apa sendiri. Dikarenakan sikap orang tua yang berdalih kasih sayang terhadap anak, hal ini dapat memicu ketidak mandirian anak.

Dan juga sikap anak yang tidak bisa belajar dengan baik dikarenakan faktor yang ada yaitu kondisi yang di dapat secara psikologis anak, yang mana Psikologis anak secara tidak langsung merasa tertekan karena aturan yang tidak diperbolehkan bermain diluar bersama teman-temannya karena adanya alasan wabah Covid-19.

Secara tidak langsung bisa menjadikan gangguan prilaku yang ada pada anak. Gangguan perilaku ini bisa menjadikan anak yang tidak mau dinasehati oleh orang tuanya dengan sering membantah.

Bayangkan saja karekter para pemegang masa depan nantinya akan seperti apa, dengan seperti yang kita liat di atas banyak dampak buruk yang terjadi pada anak. Dan juga anak itu adalah pemegang masa depan bangsa dan negara.

Dan jika nanti nantinya sekolah-sekolah telah aktif belajar lagi saya berharap sekolah bisa bekerja sama dengan orang tua dalam pembentukan karaktek para pemegang masa depan ini.

Penulis: Jumarni Hidayatul Ajra/Andine Aldama Byanca/ Putri Ramadhani /Annisatuz Zahara /Widya

UPDATE CORONA