Delapan Oknum Polisi Kasus Rekayasa ‘Ganja Tak Bertuan’ Berbuntut Pemecatan

oleh -138.489 views
Foto: Kabid Humas Polda Sumut Kombes Hadi Wahyudi

IDUL FITRI

Medan I Realitas – Polda Sumatera Utara (Sumut) akan menindaklanjuti putusan Pengadilan Negeri Medan tentang 8 oknum polisi di kasus rekayasa ‘ganja tak bertuan’. Polda Sumut mengatakan bakal melakukan pemecatan terhadap kedelapan terpidana.

“Internal kita nanti, kita tindaklanjuti, yang jelas kalau sudah lebih dari 3 bulan saja, sudah dapat diberhentikan dengan tidak hormat,” kata Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Hadi Wahyudi, saat dimintai konfirmasi, Rabu (13/1/2021).

Hadi menuturkan pihaknya menghormati putusan PN Medan yakni menjatuhkan vonis 10 hingga 20 tahun penjara terhadap 8 oknum polisi tersebut.

“Kita tetap menghormati apa yang menjadi keputusan pengadilan,” ucap Hadi.

Di persidangan, Aiptu Martua Pandapotan Batubara (eks Kanit IV Sat Narkoba Polres Padangsidimpuan) divonis 13 tahun penjara, denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Sebelumnya, Aiptu Martua dituntut pidana penjara seumur hidup.

Kemudian enam terdakwa lainnya, Briptu Rory Mirryam Sihite, Bripka Andy Pranata, Brigadir Dedi Azwar Anas Harahap, Bripka Rudi Hartono, Brigadir Antoni Fresdy Lubis, dan Brigadir Amdani Damanik, masing-masing divonis 10 tahun penjara. Awalnya, mereka dituntut 20 tahun penjara.

Mereka juga dituntut membayar denda masing-masing sebesar Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Sedangkan Brigadir Amdani Damanik subsidernya 3 bulan kurungan.

BACA JUGA :   Dukungan Penunjukan Komjen Listyo Sigit Prabowo Menjadi Kapolri, Apresiasi Dari Tokoh Agama

Putusan yang paling berat, dijatuhkan kepada terdakwa Bripka Witno Suwito dan seorang warga sipil bernama Edy Anto Ritonga alias Gaya. Mereka masing-masing divonis pidana 20 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan.

Putusan itu lebih ringan dibandingkan dengan tuntutan yang diberikan jaksa dengan tuntutan hukuman mati. Dalam kasus ini, Witno merupakan mantan anggota Polres Padangsidimpuan dengan pangkat bripka.

Rekayasa tersebut berawal pada Jumat, 28 Februari 2020, sekitar pukul 10.00 WIB. Kasat Narkoba Polres Padangsidimpuan AKP Charles Jhonson Panjaitan mengumpulkan anggotanya, yang terdiri atas terdakwa Aiptu Martua Pandapotan, Bripka Andi Pranata, Brigadir Dedi Azwar Anas Harahap, Bripka Rudi Hartono, Brigadir Antoni Fresdy Lubis, Brigadir Amdani Damanik, dan Briptu Rory Mirryam Sihite.

Kemudian Kasat Reskrim memberikan arahan kepada anggotanya untuk menangkap terhadap peredaran gelap narkoba di wilayah hukum Polres Padangsidimpuan. Setelah menerima arahan, anggota bubar untuk mencari target operasi (TO).

Pada pukul 13.30 WIB, terdakwa Witno Suwitno menghubungi HP milik Bripka Andi Pranata dan menyuruh untuk bertemu dengannya di sebuah warung makan di belakang City Walk.

BACA JUGA :   Fasilitasi Hidup Dengan Bebas Riba Sesuai Qanun LKS No.11 Tahun 2018 Lembaga Keuangan Syariah No.11 Tahun 2018  di Provinsi Aceh

Sekitar pukul 13.40 WIB keduanya bertemu. Saat itu Witno mengajak Andi menuju Kampung Darek, Wek VI, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan.

Keduanya menuju lokasi menggunakan mobil yang dikemudikan Andi. Tiba di lokasi, Witno turun dari mobil dan bertemu beberapa warga yang belum dikenalnya di pinggir jalan, depan Gang Dame 5. Dia mengatakan wilayah tersebut akan digerebek dan diperiksa terkait kasus narkoba dari rumah ke rumah.

Setelah itu, Witno kembali ke mobil dan meminta Andi melajukan mobil menuju Tomyam Muslim, yang berada di Gang Dame Kampung Darek. Di lokasi tersebut, Witno dihubungi Edi Santoso alias Edi Ramos, yang masuk dalam DPO.

Edi Ramos berkata kepada Witno ingin menyerahkan ganja miliknya yang berada di Kampung Darek. Dia memberi syarat agar dirinya dan Edi Anto Ritonga alias Gaya tak ditangkap. Edi Ramos mengaku ingin memberikan ganja tersebut karena takut terjadi penggerebekan di Kampung Darek.

Witno setuju dan meminta nomor telepon Gaya. Witno lalu membuat janji bertemu dengan Gaya di Gunung Kampung Darek. Witno bersama Andi pun menuju Kampung Darek, Wek VI, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan, Kota Padangsidimpuan. Tapi mereka turun dari mobil karena mobil tak bisa naik ke bukit.

BACA JUGA :   Patroli PPKM Cegah Warga Berkerumun

Witno lalu menghubungi Brigadir Amdani Damanik dan meminta untuk menemuinya. Pukul 14.40 WIB, Brigadir Amdani Damanik tiba di lokasi mengendarai sepeda motor. Mereka lalu pergi ke sebuah bukit yang berada di Kampung Darek sesuai perkataan Gaya. Tiba di lokasi sekitar pukul 15.30 WIB, mereka ditemui Gaya.

Gaya mengatakan bersedia menunjukkan ganja tersebut asalkan tak ditangkap. Witno diajak ke sebuah rumah yang berada di bukit tersebut.

“Kemudian Edi Anto Ritonga alias Gaya bersama Kucok (DPO) langsung mengeluarkan 4 buah karung plastik yang berisi narkotika jenis daun ganja kering dari dalam rumah Kucok. Lalu meletakkan karung plastik yang berisi narkotika jenis daun ganja kering tersebut di pinggir jalan,” kata JPU.

Setelah itu Witno mengatakan petugas bakal melakukan razia narkoba lagi dari rumah ke rumah. Dia lalu menghubungi Aiptu Martua Pandapotan untuk meminta datang pakai mobil ke Gunung Kampung Darek karena ada barang bukti ganja.