15819 KALI DIBACA

Kampus, Mencetak Manusia Kritis Atau Memangkas Manusia Kritis?

Kampus, Mencetak Manusia Kritis Atau Memangkas Manusia Kritis?
Dedi Ismatullah, mahasiswa ilmu komunikasi universitas Malikussaleh. 16 Februari 2020.
UPDATE CORONA

Lhokseumawe I Realitas – Kampus, Mencetak Manusia Kritis Atau Memangkas Manusia Kritis?.

Bisa kita lihat bahwa gaya Pendidikan di Indonesia masih terkesan “kolonialis”. bagaimana tidak, sejak awal masuknya pendidikan formal di Indonesia melalui politik etis kolonial Belanda hingga hari ini setelah merdeka, sistem pendidikan kita masih sama saja yaitu sebagai pabrik tenaga kerja Minggu, 16 Februari 2020

Sekolah dan perguruan tinggi dijadikan tempat untuk mencetak buruh-buruh siap kerja, bukan untuk tempat mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dulu, kolonialis Belanda mendirikan sekolah hanya untuk menghasilkan tenaga birokrat yang dapat di rekrut dalam jabatan jabatan teknis di pemerintahan kolonial Belanda.

Sebagai contoh, sejak 1864 oleh Belanda telah diintroduksi sebuah program ujian yang disebut “Klein Ambtenaars’ Examen”, yaitu sebuah program ujian pegawai rendah yang harus ditempuh agar seseorang dapat diangkat sebagai pegawai pemerintah.

Sangat jelas bahwasanya sampai sekarang Indonesia masih menganut sistem kolonialis yang di wariskan oleh Belanda tersebut.

Jelas itu sangat kontra dengan bunyi pembukaan UUD 1945 yaitu “Mencerdaskan kehidupan bangsa”, dimana yang seharusnya pendidikan hadir kepada setiap warga negara untuk dapat memberikan ilmu dan kecerdasan dalam berpikir.

Namun nyatanya sekarang di setiap kampus masih saja memangkas habis setiap mahasiswanya yang berpikiran kritis, sungguh sangat kolonialis sekali.

Kampus sangat terobsesi menjadi pabrik untuk mencetak sarjana terbaik, bobrok dan kebusukan di tutup dan di lindungi demi menjaga polesan citranya tetap cantik.

Mereka terus menerus menekan agar kita seragam dalam berpikir, menggunakan pola pengajaran yang menindas, menjauhkan kita dari kenyataan yang sesungguhnya menjauhkan kita dari pada rakyat menjadikan kita seperti budak, pendidikan semakin jauh dari rakyat tertindas.

pendidikan selama ini dapat diibaratkan sebagai sebuah “bank”. Dalam sistem ini, anak didik adalah objek investasi dan sumber deposito potensial.

Mereka tidak berbeda dengan komoditas ekonomis lainnya yang lazim dikenal. Depositor atau investornya adalah para guru yang mewakili lembaga kemasyarakatan yang berkuasa, sementara depositonya berupa pengetahuan yang diajarkan kepada anak didik.

Dapat kita lihat bahwa sistem pendidikan seperti itu adalah reproduksi ideologi kelas dominan sebagai alat mempertahankan kekuasaan mereka.

Anak didik pun lantas diperlakukan sebagai ”bejana kosong” yang akan diisi sebagai sarana tabungan atau penanaman “modal ilmu pengetahuan” yang akan dipetik hasilnya kelak.

Jadi, guru adalah subjek aktif, sedang anak didik adalah objek pasif yang penurut. Pendidikan akhirnya bersifat negatif di mana guru memberi informasi yang harus diingat dan dihafalkan.

Akibatnya, para murid diperlakukan sebagai objek teori pengetahuan yang tidak berkesadaran pada realitas di sekelilingnya.

Sistem yang demikian berdampak pada “dehumanisme pendidikan”. dehumanisasi diartikan sebagai pelanggeng hegemoni kaum dari kelompok sosial tertentu untuk menindas kaum dari kelompok sosial lainnya.

Menindas juga dapat diartikan menafikkan ide-ide tentang kemanusiaan. Dimana para mahasiswa semakin jauh dengan realitas sosial yang ada, kemudian dibuat semakin tidak peduli terhadap permasalahan rakyat.

Saya sangat mengharapkan akan hadirnya suatu sistem pendidikan yang dapat benar benar memanusiakan manusia.

Proses belajar mengajar sebagai bentuk investigasi kenyataan. Dimana proses tersebut melibatkan dosen dan mahasiswa secara bersama sama mencari dan memecahkan problematika yang terjadi terhadap rakyat. Sistem pendidikan problem solving,yaitu “si A bersama si B”, “bukan si A kepada si B”.

Dengan demikian tidak ada lagi yang namanya dosen adalah dewa dan mahasiswa harus tunduk patuh, akan tetapi Para mahasiswa diharuskan memahami bahwa kegiatan mengetahui adalah suatu proses yang tidak pernah berakhir.

Sedangkan bagi para dosen, mereka harus memposisikan diri juga sebagai murid yang tidak pernah berhenti untuk belajar.

Maka dari itu saya sangat yakin bahwasanya Pendidikan yang dialogis dapat menuntun kaum tertindas ke dunia yang lebih manusiawi.

Saya meyakini bahwasanya Pendidikan itu bertujuan untuk mencerdaskan setiap anak manusia, bukan sebagai alat untuk melanjutkan hegemoni kekuasaan demi memuluskan tindakan penindasan. (Yudi)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS