5819 KALI DIBACA

Mahasiswa UTU Minta Kejari Meulaboh Usut Tuntas Kasus Bocah Meninggal Akibat Salah Suntik Oleh Perawat

Mahasiswa UTU Minta Kejari Meulaboh Usut Tuntas Kasus Bocah Meninggal Akibat Salah Suntik Oleh Perawat
Puluhan mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) Aceh Barat yang tergabung dalam Aliansi Pencari Keadilan untuk Azrul Amilin melakukan aksi unjukrasa ke kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat, Kamis (5/9/2019).(Mujiburrahman)
example banner

Aceh Barat I Realitas – Puluhan mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) Aceh Barat yang tergabung dalam Aliansi Pencari Keadilan untuk Azrul Amilin melakukan aksi unjuk rasa ke kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat, Kamis (5/9/2019).

Dilapangan, terlihat wajah kusut bercampur sedih rupa pasangan Nurhayati dan Hasan Basri, Warga Desa Pasie Teube, Kecamatan Pasie Raya, Aceh Jaya, orang tua Azrul Amilin yang juga datang berdemonstrasi bersama puluhan mahasiswa lainnya

Setahun sudah berlalu peristiwa itu, rasa sedih kehilangan anak bungsunya sampai sekarang belum berakhir, mereka kini menuntut keadilan seperti halnya kasus bocah Alfareza asal Desa Pante Cereumen, Kecamatan Pante Cereumen, Aceh Barat yang juga meninggal paska disuntik perawat.

“Saya pengen kasus anak saya juga disidang seperti kasus mereka Alfareza,” teriak Nurhayati saat berunjukrasa.

Koordinator Aksi, Maskur kepada wartawan mengatakan kedatangan mahasiswa ke kantor Kejari Aceh Barat untuk menyampaikan fakta baru mengenai obat yang digunakan pada pasien bernama Azrul Alimin saat dirawat dirumah sakit itu hingga bersakutan meninggal dunia, sehingga hal tersebut memperkuat, bahwa pasien itu benar-benar menjadi korban salah suntik.

Ia menambahkan, apalagi kartu obat pasien (KOP) yang digunakan untuk Azrul sama dengan KOP pasien Alfareza, dalam waktu bersamaan, keduanya dinyatakan meninggal dunia setelah mendapat suntik dari petugas rumah sakit (RSU-CND),”tegasnya.

Selain itu, berdasarkan hasil pemeriksaan saksi diruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Meulaboh ada tiga poin yang menjadi landasan kuat atas kelalaian dalam penanganan medis yang diterima dua bocah tersebut, ketiganya, yakni KOP yang digunakan Azrul sama dengan milik Alfareza.

Kedua, terdakwa Erwanti baru menyadari seperti salah meresepkan obat ketika melihat reaksi yang terjadi pada pasien Azrul, bukan reaksi yang ditimbulkan pada pasien Alfareza.

Ketiga, saksi mengeluarkan pernyataan selain Alfareza juga ada korban lain atas nama Azrul.

“Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam proses persidangan, patut diduga kuat perkara ini terdapat keterkaitan dan keterlibatan pihak lain yang patut dipanggil, diperiksa dan dimintai keterangan, kita juga menduga, ada dugaan pemalsuan dokumen terhadap obat yang keluar dari depot obat, ini harus diusut kembali,”sebutnya.

Kasi Tindak Pidana Umum Kejari Aceh Barat, Andri Hendrianyah pada kegiatan aksi merespon baik atas penyampaian pendapat yang dilayangkan mahasiswa di depan gerbang kantor tersebut. Tetapi, dirinya berharap agar mereka bersabar dan tidak ada anarkis dalam menyampaikan tuntutan.

“Untuk kasus ini, kita tidak akan tutup mata, Mahasiswa harus bersabar dulu, kita akan mencari bukti baru. Satu lagi, tidak ada kebal hukum disini, jika salah akan diproses,”tutup Kasi Tindak Pidana Umum Kejari Aceh Barat, Andri Hendrianyah. (Mujiburrahman) 

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS