27819 KALI DIBACA

Dua Terdakwa Yang Terlibat Pembunuhan Pedagang Es Campur Dituntut Hukuman Mati

Dua Terdakwa Yang Terlibat Pembunuhan Pedagang Es Campur Dituntut Hukuman Mati
example banner

LHOKSUKON I Realitas – Dua terdakwa yang terlibat dalam kasus pembunuhan pedagang es campur, Jajuli (34) warga Desa Ujong Kulam, Kecamatan Matangkuli, Aceh Utara dituntut hukuman mati dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Lhoksukon, Selasa (9/7). Kedua terdakwa adalah Jamaliah alias Novi (30) istri korban, dan selingkuhannya, Musliadi alias Adi (26), warga Desa Matang Manyam, Kecamatan Baktiya.

Tuntutan terhadap keduanya dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Harri Citra Kesuma SH dalam sidang yang dipimpin T Latiful SH didampingi dua hakim anggota, Bob Rosman SH dan Fitriani SH. Sedangkan kedua terdakwa hadir ke ruang sidang bersama pengacaranya, Taufik M Noer SH.

Materi tuntutan yang dibacakan kepada terdakwa antara lain menguraikan rencana pembunuhan terhadap korban. Kedua sudah sepakat untuk membunuh Jajuli sepekan sebelum kejadian. Di mana Jamaliah mengaku sering dimarahi oleh korban. Kemudian persoalan tersebut disampaikan Jamaliah kepada selingkuhannya, Adi.

Terlebih, Jamaliah dan Adi sudah saling cinta dan saling menyayangi. Bahkan, keduanya berencana akan menikah setelah korban dibunuh. Selain itu, keduanya juga sudah berulangkali melakukan hubungan suami istri saat korban tak ada di rumah. Keduanya bertemu pada Agustus 2018. Kala itu, Adi bekerja sebagai pembantu tukang di rumah mertua Jamaliah di Desa Ujong Kulam, Kecamatan Matangkuli.

Dalam materi tersebut jaksa tidak menguraikan hal-hal yang meringankan bagi terdakwa. Sedangkan hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa mengakibatkan hilang nyawa orang yang sudah direncanakan dulu. Perbuatan terdakwa juga sangat meresahkan masyarakat dan menimbulkan kesedihan yang berkepanjangan. Selain itu, terdakwa juga berbelit-belit dalam keterangan.

Perbuatan terdakwa melanggar Pasal 340 KUHPidana Juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Karena itu, jaksa meminta majelis hakim untuk menghukum terdakwa dengan hukuman pidana mati. Seusai mendengar materi tuntutan itu, hakim memberikan kesempatan kepada kedua untuk berkonsultasi dengan terdakwa. Setelah mendengar tuntutan JPU, hakim menunda sidang hingga Rabu (17/6/19).

Seperti diberitakan sebelumnya, Jajuli ditemukan oleh istrinya tewas bersimbah darah dengan luka gorok di bagian leher, pada 15 September 2018 sekira pukul 02.30 WIB, di tempat tidur dalam kamarnya. Sebelum kejadian itu, Jamaliah mengaku tertidur saat menidurkan anaknya dalam kamar lain. Belakangan terungkap pelaku pembunuhan itu dilakukan Musliadi atas suruhan Jamaliah.

Saat sidang dibuka hakim, Jamaliah yang duduk di kursi pesakitan mulai terlihat menangis. Bahkan, ketika mendengar tuntutan hukuman mati, Jamaliah terus-terus menangis sampai keluar dari sidang. Sedangkan Mulyadi saat mendengar materi tuntutan sesekali menunduk. Ia juga tersentak saat mendengar dengan hukuman pidana mati.

“Klien saya tadi menangis ketika mendengar materi tuntutan tersebut. Karena itu, saya akan mengajukan pembelaan dalam sidang yang akan datang. Kami berharap supaya majelis hakim memberikan hukuman yang ringan kepada klien saya,” ungkap pengacara terdakwa, Taufik M Noer SH.(jaf/Nrl)

 

 

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS