27819 KALI DIBACA

Polisi Tangkap Pelaku Pemerasan Pornografi Online

Polisi Tangkap Pelaku Pemerasan Pornografi Online
example banner

Jakarta | Realitas – Aparat Dit Siber Bareskrim Polri menangkap tersangka ‘Sextortion online’ dengan modus memberikan layanan video call sex online kepada korbannya.

Dari tindakan tersebut, tersangka memeras korban hingga mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.

Tersangka yang ditangkap berinisial SF (25), yang merupakan admin dari beberapa akun palsu yang dikelolanya untuk menipu korban.

Sedangkan dua tersangka lainnya, AY dan VB, masih dalam pengejaran petugas.

Kasubag Opinev Bag Penum Ro Penmas Divhumas Polri AKBP Zahwani Pandra Arsyad mengatakan, penangkapan tersebut berawal dari laporan masyarakat.

Setelah dilakukan pelacakan yang cukup panjang, pelaku berhasil diamankan di kediamannya di Sidrap, Sulawesi Selatan, Rabu (6/2/2019) lalu.

“Jadi pelaku ini melakukan Sextortion atau pemerasan pornografi online dengan modus menyediakan jasa video call sex yang dilakukan tiga tersangka, jadi saat ini satu orang tersangka berhasil ditangkap dan dua lagi berstatus DPO,” kata AKBP Pandra, Jumat (15/2/2019).

Kata Pandra, para tersangka melakukan penipuan dengan modus memberikan jasa layanan video call sex.

Setelah korbannya tertipu, mereka lalu memeras.

Selama melancarkan aksinya, SF tidak bekerja sendirian.

Ada AY yang memiliki modus yang serupa dengan SF, yaitu membuat akun palsu Iain, yang juga menawarkan layanan jasa VCS (Video Call Sex), serta melakukan pemerasan terhadap korbannya jika mendapatkan konten seksual dari korban.

Sedangkan VB memiliki peran menyiapkan rekening bank yang kemudian digunakan oleh pelaku untuk menerima dana transfer dari para korbannya.

“Jadi bila korban terperdaya dan ikut memperlihatkan aktivitas seksual atau ketelanjangan pribadi, maka SF akan merekam adegan dan menyimpan file tersebut, dan pelaku kemudian akan mengancam korban dan memaksa korban agar mengirimkan sejumlah uang,” jelasnya.

Bila permintaan tidak dipenuhi, maka pelaku akan mengedarkan file video tersebut kepada teman-teman korban di media sosial, sehingga korban yang merasa terancam tersebut menuruti permintaan para pelaku.

“Jumlah kerugian atas pemerasan yang dilakukan oleh para tersangka ini membuat korban mengalami kerugian hingga Rp 30 juta per korban, yang diperas secara berkala,” ucapnya.

Atas perbuatannya, tersangka terancam pasal 29 jo 30 UU 44/2008 tentang Pornografi, dan pasal 45 ayat 1 dan 4 jo pasal 27 ayat 1 dan 4 UU 19/2016 tentang perubahan UU 11/2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. (tribunnews/iqbal)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS