98419 KALI DIBACA

Rekanan Proyek Jetty Ditahan, Polres Abdya Bidik Tersangka Berikutnya

Rekanan Proyek Jetty Ditahan, Polres Abdya Bidik Tersangka Berikutnya
Kapolres Abdya, AKBP M Basori SIK didampingi Kasat Reskrim Iptu Zulfitriadi SH memperlihatkan berkas perkara hasil penyidikan dalam dugaan korupsi proyek Jetty Rubek.
example banner

Blangpidie | Realitas – Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Aceh Barat Daya (Abdya) telah menahan satu tersangka yang merupakan rekanan dalam dugaan Korupsi Proyek Pembangunan Jetty Rubek Meupayong, Kecamatan Susoh, Kabupaten setempat sekitar empat hari yang lalu.

Foto: Realitas/Syahrizal
Kapolres Abdya, AKBP M Basori SIK didampingi Kasat Reskrim Iptu Zulfitriadi SH memberikan keterangan pers terkait penahanan satu tersangka dugaan korupsi proyek Jetty Rubek Meupayong, Kecamatan Susoh yang berlansung di Aula Mapolres setempat, Jumat (14/12/2018)

 

Untuk tersangka berikutnya, Polisi masih melakukan persiapan berkas dokumen agar penetapan tersangka selanjutnya sudah dilengkapi syarat formil maupun materilnya.

“Tersangka berikutnya masih kita lengkapi berkasnya. Kemungkinan awal tahun 2019 sudah kita umumkan seperti hari ini juga,” kata Kapolres Abdya, AKBP M Basori SIK didampingi Kasat Reskrim, Iptu Zulfitriadi SH dalam konfrensi Pers di Aula Mapolres Abdya, Jumat (14/12/2018) jelang siang.

Sejauh ini, polisi belum bisa menyebutkan inisial tersangka berikutnya. Pasalnya, masih ada beberapa berkas yang harus dilengkapi lagi.

“Kali ini rekanan dulu yang kita tahan, nanti berikutnya bisa jadi dari instansi terkait,” tutur Kapolres Basori.

Dalam berkas perkara itu, polisi telah menahan MN (48) warga Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh selaku rekanan dalam Proyek Jetty (tanggul batu gajah) yang terpasang di mulut Muara Desa Rubek Meupayong, Kecamatan Susoh.

Proyek Jetty tersebut dikerjakan dengan menggunakan dana Otsus APBK tahun 2016 sebesar Rp.2,3 miliar lebih.

Polisi menduga ada indikasi korupsi dengan mengurangi volume pekerjaan sebagaimana tertuang dalam gambar dan kubikasi pekerjaan sehingga bangunan Jetty tersebut rusak dan tidak dapat difungsikan.

Hal itu juga diperkuat dengan hasil Audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Aceh yang menemukan kerugian negara dalam proyek tersebut sebesar Rp.468 juta lebih.

“Sebelum BPKP melakukan audit, penyidik juga sudah turun kelapangan dengan menghadirkan tim ahli dari Unsyiah, Banda Aceh, intinya memang besar kerugian negara yang timbul dalam proyek tersebut,” tambah AKBP Basori.

Atas perbuatan melawan hukum itu, tersangka akan dijerat dengan pasal 2 ayat (1) dan atau pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dalam Undang-Undanga nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 31 tentang tindak pidana korupsi dengan ancaman kurungan 4-20 tahun penjara dan denda antara Rp.200-Rp.1 miliar.

“Dalam kasus korupsi, tidak ada toleransi dan akan kita tindak lebih lanjut, kita akan mempelajari dokumennya dalam beberapa hari kedepan, insyaallah awal tahun nanti sudah ada tersangka baru lagi,” demikian paparnya dihadapan awak media termasuk menghadirkan tersangka dalam jumpa pers tersebut. (Syahrizal/iqbal)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS