32619 KALI DIBACA

Beralih ke Kedelai Lokal, Kualitas Tahu dan Tempe Diprotes Konsumen

Beralih ke Kedelai Lokal, Kualitas Tahu dan Tempe Diprotes Konsumen
example banner

Mamuju I Realitas – Beralih ke Kedelai Lokal, Kualitas Tahu dan Tempe Diprotes Konsumen

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS membuat harga impor kedelai tinggi,akhirnya, pengusaha tahu dan tempe beralih menggunakan kedelai lokal.

Namun, keputusan untuk menggunakan kedelai lokal tersebut tidak berjalan mulus,sejumlah pedagang diperotes pelanggannya lantaran kualitas dan rasa tahu dan tempe tak sebagus dengan yang dibuat dari kedelai impor yang dinilai kualitasnya memang jauh lebih baik dan lebih bersih.

Budi Santoso, salah satu pengusaha tahu dan tempe di Mamuju kepada wartawan di lokasi produksi tempe tahu miliknya, Jumat (14/9/2018) mengaku terpaksa beralih menggunakan kedelai lokal yang kualitasnya di bawah kedelai impor mengundang protes sejumlah pelanggan setianya.

Alasannya, produksi tahu dan tempe yang biasa mereka konsumsi kualitasnya tidak sama sejak ia beralih menggunakan kedelai lokal.

Komentar pelanggan makin kecut lantaran Budi juga mengurangi ukuran tahu dan tempe dari biasanya. Ini untuk menyiasati agar ia tak merugi dan usahanya yang dirintis belasan tahun lalu tetap bisa produksi.

“Sejak beralih menggunakan kedelai lokal banyak pelanggan yang protes,kualitas dan rasanya memang beda,” jelas Budi.

Hingga kini harga kedelai impor masih bertengger di kisaran Rp 8.700 per kilogram dari harga sebelumnya Rp 7.000 per kilogram,meski saat ini konsumen pengusaha tahu dan tempe sudah mengeluhkan kondisi kualitas produksi tahu dan tempe yang tidak sama seperti sebelumnya, saat ini para pengusaha masih menggunakan bahan kedelai impor.

Para pengusaha berharap harga kedelai impor bisa segera normal dan ekonomis, agar dapat melanjutkan roda usaha mereka,(kps/ade).

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS