97419 KALI DIBACA

Harga Gabah di Abdya Teracam ‘Terjun Bebas’

Harga Gabah di Abdya Teracam ‘Terjun Bebas’
example banner

Blangpidie | Realitas – Harga gabah hasil panen padi di tingkat petani Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) terus anjlok dan terancam ‘terjun bebas’. Pasalnya, dengan kondisi hasil panen yang rata-rata mencapai delapan ton per hektare tidak mampu membuat petani merasa diuntungkan.

Firman, petani di Kecamatan Tangan-Tangan kepada Realitas, Rabu (28/3) mengaku menjual harga gabah kepada agen pengepul (penampung) dengan besaran Rp.4.200 per kilogram (Kg). Harga tersebut dibandrol oleh agen pengepul jika menggunakan mesin pemotong padi (combine harvester). Jika menggunakan jasa tukang potong, maka harga padi bisa mencapai Rp.4.500 sampai dengan Rp.4.700 per Kg.

“Dengan kisaran harga antara Rp.4.200 sampai Rp.4.300, itu tidak akan bertahan lama. Bisa dipastikan, pada hari-hari selanjutnya akan turun lebih rendah bahkan bisa terjun bebas,” kata Firman dengan nada mengkwatirkan.

Beberapa hari yang lalu, lanjut Firman, harga gabah jika dipotong secara manual masih tergolong stabil yakni Rp.5.000-5.200 per kg. Semantara menggunakan mesin pemotong, sekitar Rp.4.700 per kg. “Saya tidak yakin harga itu naik lagi. Karena, petani saat ini akan memasuki musim panen raya,” ungkapnya.

Akibat terus anjloknya harga gabah, tambah Firman. Petani merugi dan tidak cukup untuk membiayai musim tanam kedua. Harga jual gabah tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan petani mulai dari proses garap lahan hingga memasuki masa panen padi.

Bahkan, ada petani menggunakan mesin potong dari luar wilayah Abdya yang dibandrol ongkos potong Rp.35.000 per karung besar. Kalau menggunakan mesin milik pemerintah kabupaten (Pemkab), hanya sekitar Rp.25.000 per karungnya. “Jika terus anjlok, cukup mencekik leher petani,” demikian ujarnya.

Petani lainnya, Sariani juga mengutarakan serupa. Pasca ditinggal cerai sumainya, Sariani terjun lansung untuk bertani demi menghidupi kedua anaknya yang masih mengenyam pendidikan. Menurutnya, musim panen raya padi tahun ini menjadi cerita pilu bagi petani. “Harga gabah kali ini cukup pilu, padahal panen yang dihasilkan cukup bagus,” tuturnya singkat.

Disisi lain, salah satu Pemerhati Pertanian di Abdya, TM Daod Yuska menilai, pemerintah tidak punya daya sanggup untuk menampung gabah petani ditambah kelembagaan ekonomi petani juga belum ada. Sehingga kemungkinan permainan harga di tingkat agen sangat rentan terjadi.

Apalagi para petani tidak memiliki alasan lain untuk tidak menjual hasil panen mereka, sebab biaya penggarapan lahan untuk musim tanam selanjutnya menjadi salah satu faktor petani terdesak untuk menjual gabah meski dengan harga terendah. “Harapan kita, pemerintah akan lebih siap dalam menampung serta menstabilkan harga gabah di Abdya khsusnya,” harapnya singkat.

Sementara itu Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya, Nasruddin membenarkan kalau harga gabah saat ini turun berkisar antara Rp.4.200-4.300 per kg. Sementara jika harga gabah kering atau yang dipotong secara manual hanya Rp.4.500 per kg.

“Hal itu disebabkan karena terjadinya pergeseran harga fleksibel 20 persen dari harga pembelian pemerintah (HPP). Pada 24 Maret 2018 lalu, juga terjadi perubahan harga fleksibel 10 persen dari HPP,” sebutnya.

Sejauh ini, hasil rata-rata ubinan padi di Abdya tergolong sangat memuaskan yakni mencapai delapan ton per hektare. Kondisi tersebut dipicu karena tingkat kesuburan tanaman serta perawatan tanaman yang dilakukan petani sehingga menghasilkan gabah yang maksimal.

Turunnya harga gabah kali ini masih di awal masa panen, karena baru sekitar 30 persen areal persawahan yang sudah memasuki masa panen. Sedangkan selebihnya, masih dalam proses menunggu dan menjelang panen. (Syahrizal)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS