DUBAI | REALITAS – Pasukan Pengawal Revolusi Iran mengumumkan pada Minggu 22 September 2024 bahwa mereka telah menangkap 12 orang yang diduga terlibat dalam rencana aksi terhadap keamanan negara Iran. Kelompok ini diduga berkolaborasi dengan Israel dalam upaya yang ditujukan untuk menciptakan ketidakstabilan di dalam negeri.
Dalam pernyataan resminya, Pasukan Pengawal Revolusi menyebut bahwa setelah upaya rezim Zionis (Israel) dan para pendukung Baratnya, terutama Amerika Serikat, gagal mencapai tujuan mereka di Gaza dan Lebanon, mereka kini berusaha menyebarkan krisis ke Iran melalui tindakan-tindakan yang mengancam keamanan negara.
Ketegangan di Timur Tengah telah meningkat tajam setelah ribuan pager dan walkie-talkie yang digunakan oleh anggota Hizbullah di Lebanon meledak dalam sebuah serangan yang diduga kuat dilakukan oleh Israel.
Konflik ini menyebabkan rentetan baku tembak lintas perbatasan yang paling intens antara Hizbullah dan Israel, di mana konflik ini berjalan paralel dengan perang Gaza yang hampir berlangsung selama setahun.
Menurut Pasukan Pengawal Revolusi, jaringan beranggotakan 12 orang ini berhasil diidentifikasi dan ditangkap di enam provinsi berbeda di Iran. Namun, pihak berwenang tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai waktu penangkapan tersebut.
Insiden ini menambah panjang daftar ketegangan di kawasan tersebut. Pada akhir Juli lalu, pemimpin politik kelompok Hamas, Ismail Haniyeh, tewas dalam sebuah pembunuhan di Teheran yang dituduhkan kepada Israel oleh otoritas Iran. Meski demikian, hingga kini, Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait dugaan tersebut.
Peningkatan eskalasi di Timur Tengah ini memperlihatkan bagaimana konfrontasi Israel dengan kelompok-kelompok yang didukung Iran, seperti Hezbollah dan Hamas, mulai menyebar ke wilayah Iran, memperumit dinamika konflik yang sudah berlangsung lama di kawasan ini.(Ryfq)
Sumber: Rt



