Kisah Bidan Di Antara Dua Perang : KOMPLIK & COVID-19

oleh -374.759 views
Nona Rita Kurnia

Siang itu suasana di Puskesmas Kecamatan Langsa Kota, Langsa, Aceh, di datangi dua tamu asing.

Semua paramedis dan petugas medis masing-masing sibuk memberikan pelayanan berarti satu sama lainnya.

Tidak ada yang mengetahui kalau di antara ratusan kunjungan pasien itu ada tamu tak diundang sudah terinpeksi positif virus corona, Seperti biasa mereka melakukan tugas rutinitas hingga membuat laporan. Tidak ada identitas pasien corona.

Pada Rabu (22/04/2020) pihak gugus covid-19, Kabupaten Aceh Tamiang justeru kehilangan jejak dua warganya yang masuk dalam ODP (Orang Dalam Pantauan) covid-19.

Petugas Gugus covid melacak ke sana ke sini dua santriawan asal Pesantren Pacitan Jawa Timur yang sudah terpapar corona itu, sudah menyeberang ke kota tetangganya, Langsa. Persisnya di Gampong Sungai Paoh Tanjong, Langsa.

Hasil pantauan lebih lanjut diketahui, ketika di Langsa mereka ikut mendampingi ibunya berkunjung ke Puskesmas Langsa Kota. Mereka ke sini untuk pengurusan surat rujukan ibunya.

Kabag Protokol dan Humas Pemko Langsa M.Husein, S.SOS, MM saat dikonfirmasi Wartawan Senin (27/04/2020) malam membenarkan hal ini.

Mengetahui terjadi kecolongan, malam itu juga dr Akbar Kepala Puskesmas ini langsung mengeluarkan perintah isolasi ke 47 paramedis, petugas medis dan non medis yang berdinas hari Rabu itu.

Walikota Langsa Tgk Usman Abdullah.,SE pun cukup tanggap memantau perkembangan ancaman covid-19 ini.

Untuk mencegah ancaman perluasan virus, Toke Suum, sebutan akrab walkot ini, dua hari setelah itu spontan memberlakukan jam malam, demi masyarakat nya agar tidak ada yang terkena wabah virus yang membahayakan.

Nona Rita Kurnia salah seorang paramedis terkena isolasi mandiri sedang”dirumahkan” secara mandiri.

Dia mengakui peristiwa menghebohkan itu terjadi Hari Rabu itu.

Awalnya tidak satu pun di antara kami mengenal dan mengetahui mereka itu santri pacitan mendampingi orang tuanya ke puskesmas ini.

Kebetulan BPJS atas nama ibunya masih tercatat berdomisili di Sungai Paoh Tanjong.Benar, ini masuk wilayah kerja Puskesmas Langsa Kota dulu.

BACA JUGA :  Sembilan Bulan Mengambang, Kasus Dugaan Pelanggaran Syariat Islam di Aceh Timur Belum Ada Kejelasan : Kuasa Hukum Mawardi Minta Kedua pelaku Segera di Tahan

Malam itu Nona kebetulan balik lagi Puskesmas ini karena terbatas fasilitas labtop untuk menyicil sisa tugas hariannya.

Kepala Puskesmas dr.Akbar begitu melihatnya langsung memberitahu peristiwa siangnya dan memerintahkannya segera pulang ke rumah untuk menglockdownkan diri selama 14 hari ke depan.

Sejak Rabu malam itu, kami semua “diisolasi”secara mandiri, tutur si Pengelola Program Promosi Kesehatan (Promkes) Senin petang.

Saat wawancara dengan terlockdown yang juga si pemilik nama, NRK Gading ini kami sengaja membuat batas jarak.

Maaf ya, kita harus jaga jarak, katanya.

Sambil menghela nafas panjang Dia berkata: Stock beras sudah menipis.

Kalau sayur-mayur bisa dibeli anak-anak pada pedagang di mulut Lorong Senator di sana.

Di rumah saja kami harus jaga jarak mana mungkin keluar? Entahlah sambung Dia lagi.

Tidak betah juga kalau kelamaan begini terus.

Untung anak-anak tidak sekolah dan tidak mengaji, jika tidak, siapa yang akan mengantarnya.

Suami sudah terlockdown di Jakarta, kini tidak ada pesawat terbang domestik yang beroperasi.

Dibilang sedang berperang tapi tidak orang. Nyatanya kita harus ngumpet dan diharap di rumah hingga 14 hari.

Ini termasuk taktik dan strategik berperang melawan virus corona.

awasi diri dan kewaspada harus diutamakan, jika ingin nyawa tidak berterbangan, urainya lagi.

Perang kali ini musuhnya tidak bisa dilihat secara kasat mata, namun musuhnya ada di sekitar kita. Musuhnya
kian merayap, hinggap dan bertengger di mana-mana.

Korbannya pun semakin banyak berjatuhan.

Ketika perang masa komplik dulu, musuhnya gampang ditebak dan langsung ditembak.

Bagi putri bungsu tujuh bersadara dan mantan Bides (Bidan Desa) ini, lockdown bukan hal baru. Dalam rentang waktu persis tiga windu, sudah dua kali mengalami lockdown.

Pertama sekali ketika Kota Idi, ibu kota Aceh Timur 14 jam dalam genggam
GAM sekitar 2001 silam.

BACA JUGA :  Sat Reskrim Polres Langsa Ungkap Dugaan Pencurian Granit RS Regional, Kerugian Ditaksir Rp1,5 Miliar

Saat itu bukan satu hari, tapi berhari-hari pasca itu tidak ada kenderaan yang melintas.

Azan dan Shalat berjamah Magrib hingga Subuh tidak pernah terdengar lagi selama pertikaian GAM versus TNI/POLRI.

Sebelum magrib warga sudah berdiam diri di rumah. Jam malam pun diberlakukan. Kalau keluar malam membantu orang melahirkan harus lapur pos tantis dan harus menggunakan obor (suwa).

Ketika itu dia bertugas di Desa Seuneubok Jalan, Alue Nireh, Aceh Timur. Dia mengaku pernah dijemput pasukan berseragam untuk membantu pengobatan medis karena ada yang terluka.

Tapi dia tidak tahu lokasinya di tengah kegelapan malam itu. Ternyata pasukan baret merah itu bukan dari TNI-POLRI walau pun memiliki perangkat perang hampir serupa, kisahnya.

Berbarengan munculnya covid-19 awal tahun ini, sedianya hatinya sangat lega. Mengapa bukan, begitu menperoleh informasi bahwa, semua item program promkes sepanjang 2020 nihil kegiatannya.

Dalam hatinya, pas sekali terhapusnya kegiatan ini.Berarti kegiatan penyuluhan berbentuk kerumunan (crowded) massa dan tatap muka praktis tidak ada, ujar si Miss Triple Seven julukan komunitas kempo untuknya.

Ee,…di luar nalarnya. Puskesmas tempat Dia mencari nafkah dikunjungi pendatang luar. Yang bersangkutan itu tidak paham dengan urusan menginsolisasi dari walau sudah terpaut corona.

sistem pengisolasian diri setelah dinyatakan rapid test itu positif.Maka sejak itu hebohlah warga Kota Lansa.

Lebih menghebohkan lagi ibu dua putra satu putri ni, tatkala munculnya dua sosok perempuan misterius membuat opini seolah-olah Kota Langsa dalam kedaan bahaya covid-19.

Kedua perempuan sok tahu itu memviralkan gambaran covid-19 melalui video Medsosnya bahwa kota langsa sudah memasuki zona, dilarang atau mencari jalan lain.

Beberapa saat kemudian dia membantah sendiri sebelum akhirnya ditangani pihak Polresta Langsa. Kepada dua pelaku hoax diwajibkan menandatangani pernyataan dan mintak maaf di depan publik. (*)