Blangpidie | Realitas – Sebagian wilayah perairan pesisir Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) dalam sepekan terakhir sedang musim datangnya udang rebon.
Sehingga, memancing para nelayan tradisional yang berada dipesisir untuk memburu udang kecil yang menjadi masakan primadona di daerah setempat.
Hampir diseluruh pesisir pantai ramai dikunjungi warga untuk melihat para nelayan memanen udang rebon, sekaligus membeli hasil tangkapan nelayan tersebut.
Dimana, para nelayan masih menggunakan alat tradisional untuk menangkap udang rebon.
Kondisi itu terlihat di pesisir, Desa Moh Mameh dan Padang Kawa, Kecamatan Tangan-Tangan.
Hal serupa juga di Desa Lhok Pawoh, Kecamatan Manggeng dan Desa Rubek Meupayong, Kecamatan Susoh.
Hasan warga Padang Kawa, Kecamatan Tangan-Tangan, Kamis (30/8/2018) mengatakan, hampir setiap hari para nelayan dan masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir sibuk mencari udang rebon.
Mereka menyebar mulai dari perairan Lhok Pawoh, Kecamatan Manggeng, hingga Rubek Meupayong bahkan sampai ke Ujung Serangga, Kecamatan Susoh.
Pada musim barat, udang kecil yang biasa digunakan sebagai bahan baku utama terasi mendominasi hasil tangkapan nelayan tradisional dalam wilayah setempat.
Bahkan, udang rebon yang masih basah dan segar sengaja dikeringkan untuk menjadi udang sabu (udang kering).
Dimana, udang sabu ini termasuk salah satu lauk yang disukai masyarakat setempat saat menyantap nasi.
“Dalam seminggu ini, nelayan telah memanen udang rebon.
Sebagai nelayan kecil, kami bisa memperoleh keuntungan lumayan.
Masyarakat yang memiliki jaring juga ikut berbaur untuk mencarinya,” kata Hasan.
Harga yang lumayan membuat nelayan mendapatkan keuntungan lebih.
Kalau dijual kepada pengepul atau industri terasi perumahan, harga udang rebon kering mencapai Rp 27-30 ribu perkilogram, tergantung kualitasnya.
Khusus udang rebon basah, satu keranjang dengan bobot kurang lebih 20 kg, sekitar Rp150 ribu.
Sejauh ini, proses pengeringan mengandalkan panas matahari.
Udang rebon hasil tangakapan dari nelayan, oleh para pedagang dijemur di tempat terbuka yang langsung kena panas matahari.
Bahkan pada umumnya dikeringkan di halaman rumah.
Ada juga yang menjemur udang rebon di pinggir jalan desa dan dipinggir pantai.
“Udang rebon ini adanya bermusim tepatnya disaat musim barat, jadi persediaannya pun tidak selalu ada.
Kalau musimnya usai, udang tersebut juga susah didapat,” terangnya.
Secara terpisah, Wakil Bupati Abdya, Muslizar MT yang sempat mengunjungi lokasi udang rebon itu berlabuh, mengaku mendapatkan udang rebon dengan harga yang relatif murah.
Apalagi, langsung mendatangi lokasi penjaringan khusus untuk menangkap udang rebon.
Selain menggunakan alat tradisional, ada juga nelayan yang menjaring udang dengan menggunakan pukat darat (jaring berukuran sedang) yang sebelumnya dibentangkan di laut dengan menggunakan perahu.
Setelah pukat tuntas dibentangkan, barulah para nelayan dibantu masyarakat menghela jaring secara perlahan ke daratan.
“Lebih baik datang langsung ke lokasi penjaringan, harganya akan lebih murah jika dibandingkan membeli di pasar.
Apalagi kalau kita ikut membantu para nelayan menarik pukat udang rebon tersebut,” tuturnya singkat. (Syahrizal)


