Alokasikan Dana 2,35 M Untuk Mobil Dinas, Pemkab Aceh Utara Dapat Kritikan Dari Mahasiswa Malikulsaleh

oleh -29.759 views
Alokasikan Dana 2,35 M Untuk Mobil Dinas, Pemkab Aceh Utara Dapat Kritikan Dari Mahasiswa Malikulsaleh
Zulfikar, Sekretaris Jenderal BEM Universitas Malikussaleh.(Foto Net)

Aceh Utara | REALITAS – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mendapatkan kritik dari mahasiswa Universitas Malikussaleh setelah mengalokasikan dana sebesar Rp 2,35 miliar untuk pengadaan mobil dinas bupati dalam APBK 2025.

Anggaran tersebut dinilai tidak relevan mengingat Aceh Utara masih tergolong sebagai salah satu kabupaten dengan tingkat kemiskinan tinggi serta menghadapi berbagai persoalan lainnya, termasuk nasib ribuan honorer yang belum jelas statusnya.

Sekretaris Jenderal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Malikussaleh, Zulfikar menyatakan keprihatinannya atas penganggaran tersebut.

Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan penyelesaian masalah-masalah mendesak yang langsung berdampak pada kesejahteraan rakyat, seperti status 4.120 tenaga honorer di Aceh Utara.

“Di tengah kondisi sulit seperti ini, pemerintah malah mengusulkan pengadaan mobil dinas baru dengan nilai fantastis” kata Zulfikar kepada wartawan, Senin 13 Januari 2025 pagi.

BACA JUGA :  Hapus Stigma Menakutkan Kapolda Aceh Sukses Ubah Kantor Polisi Jadi Rumah Aman Bagi Warga

Dikatakan Zulfikar, ini adalah bentuk ketidakpedulian terhadap permasalahan yang terjadi di Aceh Utara.

“Alih-alih menyelesaikan persoalan honorer, pemerintah justru memilih untuk mengalokasikan anggaran ke barang mewah yang tidak mendesak,” ujar Zulfikar.

Ia juga menyoroti anggaran sewa kendaraan untuk keperluan asisten sebesar Rp 576 juta yang tercantum dalam Rencana Umum Pengadaan (RUP) Sekretariat Daerah Aceh Utara tahun 2025.

Menurutnya, hal ini semakin menunjukkan bahwa pemerintah tidak memiliki empati terhadap kondisi rakyat.

“Ini seperti menaruh jarum di kapas. Permukaan terlihat lembut, tapi sebenarnya ada sesuatu yang menyakitkan bagi rakyat. Apakah mobil dinas yang sekarang sudah tidak layak pakai? Apakah kebutuhan ini lebih mendesak daripada menyelesaikan masalah honorer dan kemiskinan?,” ujarnya.

BACA JUGA :  Jemi Rhoma Peroleh Nomor Urut 04 Usung Gerakan "NGAJI" (Mengabdi Tanpa Gaji)

Zulfikar juga mendesak Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Utara untuk menjalankan fungsinya sebagai pengawas kebijakan pemerintah.

Ia meminta agar DPRK tidak hanya diam dan membiarkan kebijakan yang dianggap tidak relevan ini berjalan tanpa evaluasi.

“DPRK Aceh Utara jangan membisu dan menutup mata. Ini adalah tanggung jawab legislatif untuk mengontrol kebijakan pemerintah, bukan malah diam dan membiarkan rakyat semakin terpuruk,” mintanya.

Zulfikar berharap pemerintah Aceh Utara mempertimbangkan kembali rencana pengadaan mobil dinas tersebut dan mengalihkan anggarannya untuk program-program yang lebih bermanfaat bagi masyarakat.

“Seperti pengentasan kemiskinan dan penyelesaian status honorer,” pungkas Zulfikar.(*)

 

Sumber: Ki