Implementasi PROLANIS BPJS Kesehatan, Sudah Maksimalkah?

oleh -990.579 views
oleh
Implementasi PROLANIS BPJS Kesehatan, Sudah Maksimalkah
Wahyu Gito Putro, S.K.M., M.Kes. Afiliasi : Program Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Banyaknya kasus penyakit tidak menular menjadi fokus setiap negara didunia. Pergeseran gaya hidup Kesehatan menjadi salah satu penyebab sehingga diperkirakan di tahun 2030 jumlah penderita penyakit tidak menular meningkat sebanyak 80% dari total populasi.

Seringnya mengkonsumsi makanan cepat saji, malas berolah raga, dan tidak cukup beristirahat merupakan beberapa faktor utama yang menyebabkan penyakit tidak menular seperti penyakit hipertensi, diabetes mellitus, dan penyakit jantung coroner (PJK).

Bukti penyakit tersebut perlu menjadi prioritas adalah karena banyaknya kasus kematian yang diakibatkan oleh penyakit hipertensi, diabetes mellitus dan penyakit jantung koroner dengan banyak kasus sebanyak 450.000 kasus setiap tahun nya diseluruh negara didunia.

Indonesia membuktikan keseriusannya untuk menurunkan jumlah kasus penyakit tidak menular dengan membuat program yang dibersamai oleh BPJS Kesehatan. Program tersebut memiliki nama Program Layanan Penyakit Kronis (PROLANIS).

PROLANIS menargetkan penderita hipertensi dan diabetes mellitus tipe 2 melalui fasilitas pelayanan primer. PROLANIS ini memiliki beberapa layanan, diantaranya yaitu: 1) Konsultasi Medis Peserta Prolanis (Jadwalnya sudah disepakati antara peserta dan fasilitas pelayanan primer; 2) Edukasi Peserta PROLANIS; 3) Reminder Melalui SMS Gateway (Untuk memotivasi peserta untuk secara aktif memeriksakan kondisinya ke fasilitas layanan primer); dan 4) Home Visit.

PROLANIS mulai diterapkan oleh BPJS Kesehatan melalui fasilitas pelayanan primer pada tahun 2014. Selama perjalanan pelaksanaan program yang ditinjau dari ukuran dan tujuan program yaitu untuk meningkatkan kualitas hidup dinilai dari kunjungan peserta lansia yang terdiagnosa hipertensi dan diabetes mellitus tipe 2 pada program PROLANIS. Lilik Maesaroh dan Weni Rosdiana didalam penelitiannya yang dilakukan pada tahun 2020 di Madura menyatakan bahwa kualitas hidup peserta masih belum meningkat secara maksimal.

Hal tersebut ditinjau dari banyaknya lansia yang di diagnosis terkena penyakit hipertensi dan diabetes mellitus tipe 2 pada medical record BPJS Kesehatan masih belum semua terdaftar dan ikut serta sebagai peserta PROLANIS. Di D.I. Yogyakarta, hal serupa juga terjadi dengan tingkat kompleksitas yang tinggi. Kurangnya ketersediaan obat untuk peserta PROLANIS menjadi permasalahan tambahan, dimana kesadaran penderita penyakit hipertensi dan diabetes mellitus tipe 2 untuk ikut serta dalam program masih menjadi masalah utama.

Dibuktikan dari data nasional yang diperoleh dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 bahwa prevalensi untuk diabetes mellitus meningkat dari 6,9% ditahun 2013 menjadi 8,5% ditahun 2018. Sementara untuk kasus hipertensi peningkatan juga terjadi dari 25,8% ditahun 2013 menjadi 34,1%.

Di negara maju seperti Inggris, komitmen yang sama juga diimplementasikan. Pemerintah membuat program dengan nama National Health Service of Diabetes Prevention Program (NHS-DPP). Program ini dibentuk untuk merubah gaya hidup dengan face-to-face group service atau digital service. Program dilakukan selama 9 bulan dengan fokus utama adalah memperhatikan berat badan, memperhatikan konsumsi makanan, dan memperhatikan aktivitas fisik.

Selama pelaksanaan program dari 2015 sampai dengan 2017, target capaian meningkat dengan artian penderita diabetes mellitus tipe 2 sukses diintervensi menggunakan metode face-to-face group service atau digital service. Ditunjukkan dari penelitian yang dilakukan oleh Linda Penn et al., pada tahun 2018 menyatakan bahwa pada tahun 2015 yang sukses mengikuti program adalah sebesar 48%, selanjutnya pada tahun 2016 pencapaian naik menjadi 71%, dan pada tahun 2017 menjadi 116%.

Dari perbandingan program yang dilakukan di Indonesia dan Inggris sebagai upaya menurunkan kasus penyakit hipertensi dan diabetes mellitus dapat ditarik kesimpulan bahwa program yang dilakukan di Indonesia melalui program PROLANIS BPJS Kesehatan masuh belum maksimal. Untuk memaksimalkan program, berikut beberapa alternatif solusi yang bisa dipertimbangkan, antara lain:

1) Permasalahan kurangnya kesadaran penderita penyakit hipertensi dan diabetes mellitus tipe 2 untuk ikut serta dan berpartisipasi pada layanan PROLANIS dapat ditingkatkan dengan pendekatan stakeholder.

Pendekatan dilakukan antara fasilitas pelayanan primer dengan ketua RT dan tokoh setempat dengan harapan stakeholder dapat mengingatkan dan mendorong warganya yang terdiagnosa penyakit hipertensi dan diabetes mellitus tipe 2 untuk ikut serta dalam program PROLANIS;

2) Permasalahan kurangnya ketersediaan obat untuk peserta PROLANIS dapat diselesaikan dengan melakukan analisis kebutuhan obat secara optimal sehingga perencanaan dengan jumlah aktual kebutuhan bisa seimbang.

Kurang maksimalnya implementasi program PROLANIS yang mengakibatkan masih banyaknya penderita penyakit hipertensi dan diabetes mellitus tipe 2 di Indonesia perlu menjadi fokus utama pemerintah. Melakukan kerjasama yang melibatkan stakeholder sebagai upaya peningkatan kesadaran penderita disuatu wilayah, serta memaksimalkan analisis kebutuhan obat merupakan beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk memaksimalkan implementasi program.

Opini Wahyu Gito Putro, S.K.M., M.Kes. Afiliasi : Program Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret.