IKLAN YARA

Polisi: Nakes Adalah Pahlawan, tapi Ada Konsekuensi Hukum Jika Lalai

oleh -61.489 views
UPDATE CORONA

Jakarta I Realitas – Di tengah upaya gencarnya pemerintah melaksanakan vaksinasi massal, kasus suntik ‘vaksin kosong’ di Pluit, Jakarta Utara, menjadi sorotan.

Di masa pandemi ini, tenaga kesehatan menjadi pahlawan, tetapi jika lalai ada konsekuensi hukum yang harus ia tanggung.

“Ada 3 (tenaga kesehatan) di jaman pandemi ini yang kita bisa bilang itu adalah pahlawan kita.

Tapi, ada konsekuensi kerja yang harus ditanggung setiap pelanggar, termasuk polisi juga sama, melanggar juga ada kode etiknya,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus dalam jumpa pers di Polres Metro Jakarta Utara, Jl Yos Sudarso, Selasa (10/8/2021).

“Siapa tiga orang itu? Yang pertama, adalah dokter yang merawat orang-orang yang COVID bagi kita kan pahlawan, nakes yang vaksin itu orang-orang yang jadi pahlawan, yang ketiga siapa, tukang gali kubur,” sambungnya.

BACA JUGA :   Cahaya Swalayan Alami Kerugian Capai Rp 2,5 Miliar Usai Kebakaran

Meski begitu, Yusri menegaskan pihaknya akan melakukan penindakan jika menemukan adanya pelanggaran dalam hal vaksinasi COVID-19.

“Yang namanya negara kita negara hukum, apapun kesalahan di situ ada aturan yang mengatur, termasuk di dalamnya UU Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah dan Penyakit Menular,” katanya.

Vaksinator Jadi Tersangka

Dalam kasus suntik ‘vaksin kosong’ ini, polisi menilai ada kelalaian dari tersangka EO. EO adalah seorang relawan vaksinator yang berprofesi sebagai perawat di sebuah Puskesmas di Jakarta Utara.

BACA JUGA :   Binsan Simorangkir Jalani Sidang Kode Etik, Wilson Lalengke Hadir sebagai Saksi

“Jadi karena kelalaiannya, memang menurut awal yang bersangkutan,” kata Yusri.

Yusri menyebut EO telah menyuntikkan vaksin kepada 559 warga pada hari yang sama ketika kasus terjadi, Jumat (6/8). Tapi sejauh ini belum diketahui berapa jumlah warga yang disuntik ‘vaksin kosong’ oleh tersangka.

Polisi masih mendalami hal ini. Namun, kepada polisi, EO mengaku dirinya telah lalai sehingga menyuntikkan ‘vaksin kosong’ ke pria berinisial BLP.

“Dia merasa lalai, dia tidak periksa lagi karena mungkin sudah diperiksa tapi kami masih dalami terus yang lain seperti apa,” ucapnya.

Vaksinator Sangat Dibutuhkan

Yusri mengatakan, di masa pandemi ini sulit mencari relawan vaksinator untuk percepatan vaksinasi menuju herd immunity. Polda Metro Jaya sendiri merekrut ribuan relawan relawan sebagai vaksinator.

BACA JUGA :   Mantan Teller Bank BRI Bobol Rekening Nasabah Hingga Miliyaran Rupiah

“Sekarang ini kita juga nyari sulit, karena banyak sekarang vaksinator ini yang terkonfirmasi positif sehingga sangat kurang vaksinator.

Vaksinasi Merdeka yang digagas oleh Polda Metro Jaya, kami merekrut 1.800 tenaga relawan kerja untuk vaksinator,” katanya.

Beberapa vaksinator yang terpapar COVID-19 membuat jumlah vaksinator terus berkurang.

“Tetapi sudah ada yang beberapa terkonfirmasi positif akhirnya kurang, kami masih mengejar. Akhirnya tenaga kerja mahasiswa-mahasiswa itu yang jadi vaksinator.

Mahasiswa yang co-as, kemudian dari klinik-klinik,” tuturnya. (*)

Sumber : Dtc