IKLAN YARA

Film ‘Selesai’ Dinilai Rendahkan Perempuan, Tompi Dikritik Sebagai Sutradara

oleh -135.489 views
Film 'Selesai' Dinilai Rendahkan Perempuan, Tompi Dikritik Sebagai Sutradara
Penyanyi Tompi
UPDATE CORONA

Jakarta I Realitas – Film ‘Selesai’ sukses menarik perhatian masyarakat Indonesia. Film tersebut sudah disaksikan lebih dari 100 ribu orang dalam waktu seminggu penayangannya.

Namun sayangnya, ada suara yang tidak sejalan dengan film tersebut. Mereka mengkritik Tompi sebagai sutradara film ‘Selesai’.

Mereka menyinggung Tompi telah membuat film tentang perempuan tanpa menggunakan sudut pandang perempuan. Ia kemudian disebut terlalu seksis.

Netizen yang melancarkan kritik itu menyebut film ‘Selesai’ telah melecehkan perempuan.

“Pertanyaan: “Kenapa Tompi suka membuat film tentang perempuan tapi nggak pernah melibatkan perempuan?” Jawaban: “Ya ini kan sesuai kebutuhan. Kalau kami perlu tahu tentang perempuan kami akan tanya perempuan,” tulis seorang warganet.

BACA JUGA :   Kemenag Minta Dubes Arab Cabut Penangguhan Keberangkatan Haji

Menanggapi banyaknya kritik yang masuk, Tompi menanggapinya dengan santai. Ia menyebut film itu dibuat tanpa ada tujuan diberikan penilaian dari orang lain.

“Saya gak bikin film buat dinilai, bukan juga buat di apa ya, pengakuan dari si A, si B, si C, orang-orang tertentu, belum tentu juga mereka punya ilmunya, iya kan?” ungkap Tompi saat live di Instagram, beberapa waktu lalu.

“Itu tadi saya bilang, orang makan tempe lu kasih keju, gak bakal nyambung. Biarin aja,” lanjutnya.

Film yang tayang mulai 13 Agustus 2021 itu juga dikritik oleh netizen bernama Runi Arumndari. Ia menilai film yang dibintangi Ariel Tatum, Gading Marten dan Anya Geraldine tersebut seakan membenarkan adanya perselingkuhan di dalam rumah tangga.

“Oke aku akhirnya udah nonton Selesai dan mau bahas sedikit di sini,” kata Runi melalui akun Twitternya, 16 Agustus 2021.

BACA JUGA :   Ir H Arse Pane Ketua SBPMP4 Jakarta : Polda Aceh dan Polres Langsa Kita Minta Usut Tuntas Kasus Pembakaran Rumah Pengacara H A Muthallib

“Aku marah bangettttt sama segala isi naskahnya, terutama karakterisasi dan penyelesaian konfliknya yg malas banget sehingga hanya bisa comot stereotip sana sini. Dimulai dari stereotip lelaki tukang selingkuh yang berakhir “menang”, katanya.

Ia juga menilai Tompi seakan ingin mengangkat banyak isu tapi justru membuatnya lebih runyam.

“Dan yg paling parah, orang dengan mental illness yg berakhir “disalahkan dan dibuang”. Terkesan ingin bicara banyak isu sensitif tapi kok gini?” beber Runi. (*)

Source:Dtc