Industri Hilir Sawit di Kotim Tak Harus Serta Merta Tapi Disarankan Secara Bertahap

oleh -99.489 views
Industri

IDUL FITRI

MEDIAREALITAS.COM – Industri Hilir Sawit di Kotim Tak Harus Serta Merta Tapi Disarankan Secara Bertahap.

Bilamana pemerintah daerah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam rangka meningkatkan nilai tambah (value added) dan efek dominan terhadap meluasnya peluang usaha dan tenaga kerja.

Maupun dampak kemajuan SDM, peradapan dan sosial lainya atau multiplayer efek.

Industri

Muhammad Gumarang selaku Pengamat Kebijakan Publik di Kalteng menyarankan bahwa kesempatan dan peluang besar Kotim melalui sektor perkebunan kelapa sawit yang merupakan tulang punggung ekonomi Kotim sangat mendukung atau layak.

Menurutnya dengan luas perkebunan besar swasta (PBS)  425.000 hektar inti plasma dan perkebunan murni milik masyarakat petani sekitar 24.400 hektar, ini merupakan kebun sawit terluas tingkat kabupaten di seluruh Indonesia.

Berdasarkan luasan perkebunan kelapa sawit yang dimiliki Kotim tersebut, sangat potensial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kotim dengan konsep berkelanjutan (sustainable) menjadikan industri hulu ke hilir.

Selama ini perkebunan kelapa sawit hanya memproduksi dan memperdagangkan  2 main product (produk utama) yaitu penyulingan (refinery) cpo dan refinery pko.

Kemudian ada pula  by product (produk sampingan) seperti karnel, cangkang, bungkil dan lainnya semua katagori berupa bahan setengah jadi bukan barang jadi (bukan industri hilir).

Jadi produk tersebut harus ditingkatkan menjadi industri hilir (finish goods) seperti minyak goreng kemasan, sabun, samphoo, mentega, bio diesel dan lainnya, sehingga menghasilkan value added dan multiplayer efek terhadap ekonomi, sosial, sdm dan lainnya bagi masyarakat Kotim.

“Untuk mewujutkan program tersebut, saya menyarankan kebijakan pemerintah daerah bisa dilakukan penerapannya secara gradual (bertahap),” ujar Gumarang kepada Wartawan Media Realitas, Senin (14/6/2021).

“Setiap perusahan perkebunan kelapa sawit (PBS)  memiliki PKS  yang menghasilkan produk utama refinery cpo dan pko, 20% dari jumlah atau kapasitas produk utama ,(cpo dan pko) diperuntukan untuk industri hilir yang dimiliki oleh perusahaan yang sama atau perusahaan lain sebagai penerima jaminan bahan baku industri hilir 20% tersebut,” paparnya.

Lanjut Gumarang, Tahapan 20% ini sebagai contoh saja dan selanjutnya melihat tren atau supply and demand terhadap produk industri hilir atau finish goods tersebut maka tahun ketahun selanjutnya bisa saja ditingkatkan.

Kemudian begitu juga terhadap by product (produk sampingan) bisa saja persentase tahapannya lebih besar untuk diproses menjadi barang jadi (finish goods) yang juga harus dibuat di Kotim.

Baik dalam perusahaan yang sama atau satu PBS, bisa juga perusahaan lain yang mendapat jaminan bahan baku dari PBS tersebut.

Perkembangan peningkatan persentasepun cara penilaiannya sama melihat dari perkembangan pasar atau supply and demand  hingga nanti akhirnya baik refinery cpo dan pko serta by product karnel, cangkang, bungkil dan lainnya akan 100% diproses menjadi barang jadi (finish goods) dalam program jangka panjang di produksi di Kotim, Provinsi  Kalimantan Tengah.

Sehingga Kotim akan memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan absolut dalam perdagangan lokal, domistik, regional maupun international.

Kedepannya nanti dan menciptankan peningkatan income perkapita masyarakat dan meningkatkan tingkat kemendirian ekonomi  Kotim secara significant dan Kotim benar-benar secara mutlak dan kokoh menjadi pintu gerbang ekonomi Kalimantan Tengah nantinya. (Misnato)

UPDATE CORONA