Pemanfaatan Replanting Sawit Menjadi Lahan Uang

oleh -426.759 views
Replanting
Foto : Reka Aulia Mahasiswi Institut Agama Islam Negeri IAIN Langsa

Oleh : Reka Aulia Mahasiswi Institut Agama Islam Negeri IAIN Langsa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Replanting sawit adalah penanaman kembali terhadap komoditi tanaman yang sebelumnya diusahakan.

Adapun replanting kebun sawit, berarti mengganti tanaman kelapa sawit yang sudah tidak produktif lagi, dan umumnya tanaman sawit sudah berusia lebih dari 25 tahun, diganti dengan cara sebelumnya tanaman yang sudah tua ditumbangkan baik secara mekanis maupun secara kimia (dengan cara disuntik), lalu kemudian ditanam kembali dengan tanaman baru (bibit) yang layak tanaman, usia bibit sawit yang ditanam umumnya berusia 12 hingga 15 bulan.

Keputusan untuk melakukan replanting harus sudah berdasarkan pertimbangan yang sangat matang dan merupakan hasil musyawarah atau kesepakatan secara bersama, karena salah satu dampak yang akan dirasakan oleh pemilik lahan adalah hilangnya pendapatan yang telah dinikmati selama 25 tahun akibat kegiatan replanting dan ini akan berlangsung selama tiga tahun ke depan, yaitu menunggu kebun sawitnya berproduksi kembali.

Bahkan jika para pemilik kebun sawit sebelumnya  tidak mempersiapkan anggaran untuk kegiatan penaman kembali akan menjadi beban yang sangat berat, karena kegiatan replanting akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Sehingga diperlukan cara yang terbaik agar kegiatan replanting tidak menjadi beban dan menimbulkan masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan baik.

Didesa saya terdapat beberapa masyarakat yang kebun nya direplanting.

Foto : Lahan Sawit/Mediarealitas.com

Alhasil mereka kehilangan pendapatan. Karena memang mereka tidak bekerja dimasa tua nya seperti sekarang.

Biasanya mereka hanya mengharapkan hasil kebun sawit miliknya, namun sekarang mereka kehilangan pendapatan tersebut.

“kalau tidak direplanting nggak ada lagi anggaran untuk tahun depan, mau gimana lagi  memang sudah waktunya di tumbang.

Karna sudah berpuluh-puluh tahun lamanya pohon pun sudah tinggi dan buahnya sudah berkurang.

Terkadang pendapatannya hanya sedikit, terlebih lagi di saat buah nya sedikit dan harga juga menurun. Kalau sudah begini ya mau nggak mau harus terima kenyataan.

Meski kehilangan pendapatan untuk 3 tahun kedepan.” Ucap salah satu warga yang saya wawancara.

Mereka sangat pasrah dengan keadaan sekarang.

Di satu sisi menguntungkan karna ada program pemerintah untuk mereplanting lahan mereka dan mereka pun tidak harus mengeluarkan biaya karena semua nya di biayai oleh pemerintah.

Mereka hanya perlu mengeluarkan biaya untuk perawtaan nya saja. , namun sisi lainnya mereka juga haruskehilangan pendapatan.  

Berbulan-bulan lamanya sejak lahan tersebut di replanting dan sudah dilakukan upaya penanaman hingga selesai, mereka bangun dari keterpurukan.

Mereka menanami sayuran di sela-sela pohon sawit kecil tersebut.

Ada berbagai macam sayuran yang ditanam, diantaranya adalah ubi, kangkung, kacang panjang, terong, gambas, labu air, timun, pisang, cabai, papaya dan kacang hijau.

Hal ini tentu saja menjadikan perekonomian mereka meningkat.

Pak tino memiliki lahan seluas kurang lebih 3 Ha. Ia memberikan izin kepada siapa pun yang hendak bertani dan menggunakan lahan tersebut.

Guna dapat menghasilkan perekonomian masyarakat.

Ia tidak meminta sewa bahkan jika ada yang hendak bertani ia mengucapkan banyak ribuan terimakasih dikarenakan kebunnya bersih dan terganggu dari hama.

Ketika saya sebagai mahasiswa KPM IAIN Langsa pergi ke kebun nya, ada 5 orang yang menggarap tanah pak tino. Mengingat pada beberapa bulan ke belakang ini sayuran susah didapatkan dikarenakan sulit air dan juga musim kemarau telah tiba, namun tak memudarkan semangat para petani dikebun tersebut.

Mereka harus menyirami tanaman mereka pada musim panas seperti sekarang ini. Mereka semua menanam sayuran. Dan disetiap harinya mereka dikebun.

Jarang berada dirumah, walaupun menanam jenis sayuran yang sama, tidak menjadikan mereka untuk takut kalah saing terhadap hasil panen nya dengan petani yang lain.

Butuh beberapa bulan untuk mendapatkan hasil panen, dikarenakan mereka harus membuat lahan dan membersihkannya. Antusias warga setempat pun sangat bagus. Mereka terkadang datang ke kebun untuk membeli sayuran.

Dan terkadang juga datang untuk membantu panen sayuran. Mengingat banyak sekali peminat sayur maka tak mematahkan semangat agen yang turut datang untuk membeli sayur ke kebun.

Baru sekitar 5 bulan yang lalu tanah tersebut digarap petani sudah mendapatkan keuntungan yang lumayan banyak. Perharinya terkadang bisa mencapai 200 hingga 300  ribu. Dipastikan perbulannya hasil mereka mengeluarkan omset yang berjuta-juta.

Selain dijadikan lahan pertanian saya juga menjumpai salah satu warga yang menjadikan lahan tersebut menjadi lahan persawahan.

Setahun bisa 2 kali nanam padi. Dan sekalinya panen bisa mencapai 2 ton beratnya.

Sudah kebayang dong hasilnya berapa.

Walaupun bertani perlu banyak modal namun usaha tidak akan menghianati hasil bukan?

Maka tak heran jika orang lain banyak yang ingin mencontoh hasil kerja mereka memanfaatkan lahan replanting untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan hidup.

Bukan hanya untuk orang tua, namun untuk generasi milenial seperti saya dan anak anak lainnya para penanam sayur ini juga patut dicontoh. Hal itu tentu saja dapat menciftakan lapangan pekerjaan bagi setiap kalangan.

 Sebagai generasi penerus harus bisa memanfaatkan hasil alam untuk meningkatkan taraf ekonomi. Dan juga harus bersyukur terhadap sang pencifta.