Komisi III Minta Propam Usut Oknum Polisi Diduga Menganiaya Anak

oleh -188.489 views
Komisi
Foto: Ilustrasi anianya Anak

IDUL FITRI

Jakarta I Realitas – Komisi III DPR RI menyesalkan kejadian tersebut. Wakil Ketua Komisi III DPR Fraksi Partai NasDem Ahmad Sahroni menilai, kejadian ini sangat memalukan.

Tiga orang anak di bawah umur inisial AG (12), RN (14) dan AJ (16) bersama MS (22),  di Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton mengaku disiksa dan dipaksa untuk mengakui menjadi pelaku pencurian yang tidak mereka lakukan.

REALITAS TV

Propam Polri selaku organisasi di kepolisian yang bertugas mengawasi dan menindak para anggotanya wajib memeriksa dan mengusut para oknum yang terlibat.

“Kekerasan polisi ini bukan sekali terjadi, dan ini sangat memalukan. Oleh sebab itu saya mendesak Propam Polri untuk memeriksa anggotanya.

BACA JUGA :   Polda Aceh Pastikan Pelaksanaan Shalat Idul Fitri Tetap Terapkan Prokes

Dan bila terbukti melakukan kesewenang-wenangan, maka Polri wajib pecat anggota tersebut,” katanya kepada wartawan, Jumat (16/4/2021).

Lebih lanjut, Sahroni mengingatkan agar kejadian kekerasan seperti ini jangan sampai terjadi lagi. Sebab akan merusak nama institusi dan merusak reputasi polisi di masyarakat.

“Satu di antara visi dari Pak Kapolri sendiri kan untuk membuat polisi lebih humanis, lebih melayani masyarakat, jadi praktek-praktek arogan seperti ini udah harus dimusnahkan.

Propam Polri wajib memastikan kejadian ini tidak terulang kembali. Jangan sampai nama institusi rusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” pungkasnya.

Untuk diketahui, kasus tersebut berawal dari laporan seorang warga bernama Saharudin yang bekerja sebagai kepala sekolah bulan Desember 2020.

BACA JUGA :   4.833 Narapidana di Aceh Dapat Remisi Idul Fitri Tahun Ini

Dirinya melaporkan telah kehilangan uang Rp 100 juta dan dua buah ponsel ke Polsek Sampuabalo. Selain itu, dua buah laptop di rumahnya juga raib.

Setelah itu, RN mengatakan, dirinya mendapat kabar jika adiknya ditangkap karena kasus pencurian.

“Awalnya saya tidak tahu, saya dengar ada ribut-ribut di rumah, saya bangun dan ada yang bilang adikku dibawa polisi katanya mencuri,” kata RN kepada sejumlah media, Selasa (13/4/2021).

Beberapa waktu kemudian, RN juga dipanggil untuk diperiksa di Polsek Sampuabalo. Saat itulah, RN mengaku disiksa dan diintimidasi oknum polisi agar mengaku melakukan pencurian

BACA JUGA :   Asisten II Pemkab Batu Bara Wakili Bupati Tinjau 3 Pasar

“Saya sempat ditampar empat kali di bagian pipi dan dipukul di pipi dua kali, ditendang di bagian perut dua kali dan diancam dan ditodong sama senjata di paha di telapak tangan, dan di kepala,” ucap RN.

RN saat itu merasa ketakutan dan akhirnya menyerah terpaksa mengakui dirinya mencuri.

Selain RN, ada dua orang temannya juga disiksa hingga trauma saat diperiksa oknum penyidik di Polsek Sampuabalo.

“Saya sangat ketakutan dan tertekan, dan saya langsung berbohong, iya betul kalau kita yang melakukan (pencurian) karena kita selalu diancam,” kata RN. (Trb/Red)

UPDATE CORONA