Bawa Ponsel Saat Ujian, 510 Peserta SBMPTN Didiskualifikasi

oleh -147.489 views

IDUL FITRI

Jakarta | Realitas Bawa Ponsel Saat Ujian, 510 Peserta SBMPTN Didiskualifikasi.

Panitia Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) akhirnya mengumumkan daftar peserta yang lolos dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2020.

Dari 702.420 peserta yang mendaftar UTBK, hanya 23,87 persen yang dinyatakan lulus.

“Yang lulus (SBMPTN) ada 167.653 peserta. Kalau dipersentasekan sekitar 23,87 persen. Ini berarti kurang lebih keketatan secara nasional satu banding lima,” kata Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), Mohammad Nasih, dalam pengumuman melalui konferensi video, Jumat (14/8/2020) kemarin.

Nasih mengatakan, dari 702.420 peserta yang ikut UTBK itu, sebanyak 156.060 di antaranya adalah pemegang Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK) dan 546.370 peserta reguler.

Tercatat 28,55 persen atau sebanyak 44.554 peserta KIPK, dan 22,53 persen atau sebanyak 123.099 peserta reguler lolos SBMPTN 2020.

Selain 167.653 peserta yang lulus, Nasih juga mengatakan ada 510 peserta UTBK yang didiskualifikasi. Dari jumlah itu, 218 peserta di antaranya didiskualifikasi karena melanggar aturan saat ujian.

“Secara total ada 510 peserta yang didiskualifikasi. 218 peserta di antaranya karena pada saat pelaksanaan ujian yang bersangkutan membawa Hp, berbicara dengan yang lain, atau karena memfoto dan menyebarkan,” ujarnya.

Sementara 292 peserta lainnya didiskualifikasi karena foto yang diunggah pada pendaftaran atau dibawa ketika ujian tidak sesuai dengan wajah peserta. Untuk itu mereka dihentikan dari seleksi.

Nasih juga mengatakan, meski 167.653 peserta dinyatakan lolos SBMPTN, namun belum tentu seluruhnya akan menjadi mahasiswa baru di perguruan tinggi yang dituju.

“Lulus seleksi itu belum tentu akan masuk. Karena ada syarat yang harus diikuti, misalnya buta warna, dan lain-lain. Termasuk persyaratan yang dibutuhkan masing-masing PTN,” ujarnya.

Menurut Nasih, peserta yang lolos juga perlu memperhatikan jadwal daftar ulang dan biaya uang kuliah tunggal (UKT) masing-masing PTN. Karena bisa jadi peserta gagal menjadi mahasiswa baru jika terlewat jadwal mendaftar ulang.

Ia pun mengimbau peserta berkomunikasi dengan pihak perguruan tinggi jika mengalami kendala dalam daftar ulang. Salah satunya termasuk terkendala ekonomi.

“Peserta yang bukan pemegang KIP Kuliah tapi berasal dari keluarga tidak mampu, diharapkan langsung menghubungi PTN bersangkutan untuk difasilitasi. Kita tidak ingin ada peserta lulus tapi karena aspek ekonomi tidak daftar ulang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nasih menyampaikan agar peserta yang tidak lolos SBMPTN jangan putus asa. Ia mengatakan masih ada jalur mandiri di sejumlah PTN yang menerima minimal 30 persen dari keseluruhan daya tampung.

Dan pada masa pandemi ini, jalur mandiri pada sebagian besar PTN dapat menggunakan nilai UTBK. Sertifikat nilai UTBK dapat diunduh mulai 15 Agustus pukul 15.00 WIB.

Paling Diminati

Selain mengumumkan jumlah peserta yang lulus, pada kesempatan yang sama Nasih juga mengumumkan daftar PTN yang paling diminati. Dari total 85 PTN yang ikut dalam SBMPTN 2020, UGM menjadi PTN dengan jumlah peminat terbanyak.

Ada 62.507 peminat yang mendaftar masuk ke universitas tersebut, sementara daya tampung perguruan tinggi di Yogyakarta itu hanya 2.454 orang.

“Persis sesuai namanya. UGM itu kan (huruf) M-nya megah sekali, maka pesertanya juga banyak, sementara daya tampungnya hanya 2.454 orang,” kata Nasih.

Di bawah UGM, ada Universitas Brawijaya dengan peminat terbanyak kedua. UB yang membuka daya tampung 6.012 orang di SBMPTN tahun ini diminati 61.743 pendaftar.

“Daya tampung di UB relatif lebih besar, jadi tentu saja berdasarkan data ini yang paling ketat di SBMPTN tahun ini adalah UGM,” kata Nasih.

Kemudian di urutan ketiga ada Universitas Padjadjaran yang memiliki peminat 56.446 orang. Daya tampung UNPAD dalam seleksi bersama tahun ini adalah 2.437 orang.

“Unair (Universitas Airlangga) ada di urutan sekian ya, saya nggak bisa ngitung malahan,” kata Nasih yang juga merupakan rektor Unair ini.

Unair sendiri ada di urutan ke-15 perguruan tinggi paling diminati pada SBMPTN 2020 ini. Sementara di peringkat 10 besar, selain UGM, UB, dan UNPAD, ada Universitas Indonesia, Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Sumatera Utara (USU), dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Untuk tingkat persaingan dalam memperebutkan kursi program studi yang diminati, Nasih menyebut persaingan paling ketat ada di jalur menuju Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI).

“Ilmu komunikasi UI, pendaftarnya cukup banyak peminatnya 2.988, diterimanya hanya 24, luar biasa keketatannya,” kata Nasih.

Keketatan adalah rasio antara peminat dengan yang diterima. Untuk Ilmu komunikasi UI, rasio antara peminat dengan yang diterima adalah 1:125. Di bawah Ilmu Komunikasi UI ada Ilmu Hubungan Internasional UI dengan rasio antara peminat dengan yang diterima 1:90, kemudian Ilmu Komunikasi UNPAD dengan rasio 1:87, serta Manajemen UNPAD dengan rasio 1:86.

Adapun untuk program studi sains dan teknologi (saintek), keketatan tertinggi ada pada jalur masuk Teknik Informatika Universitas Padjadjaran (Unpad). Angkanya, jumlah peminat ada 2.465 orang dan yang diterima hanya 32 orang. Rasionya adalah 1:77. (Trb/Faishal)