PGRI Mengecam Oknum Guru Berbuat Asusila

oleh -204.312 views

IDUL FITRI

Aceh Singkil | Realitas – PGRI Mengecam Oknum Guru Berbuat Asusila.

Akhir-akhir ini dalam pemberitaan dimedia menyoroti kasus asusila diduga ada dilakukan oleh beberapa oknum guru.

Perbuatan itu sangatlah tidak pantas dan kita mengecam Oknum guru telah mecoreng profesi guru dan dunia pendidikan.

Hal itu dikatakan Ketua Persatuan Guru Repobulik Indonesia (PGRI) Kabupaten Aceh Singkil, M. Nazur kepada Realitas, Rabu, (03/06/2020).

” Sangat tidak pantas dilakukan apalagi bagi seseorang yang berprofesi sebagai guru, karena guru adalah profesi yang sangat menjunjung tinggi nilai moral dan etika”. Ujarnya.

M. Najur tegaskan, PGRI sebagai organisasi profesi berkomitmen akan memberikan sanksi kapada guru yang sudah terbukti melanggar kode etik profesi, sebagai mana tertuang dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga PGRI dapat dikenai sanksi sesuai pasal 12 ayat (3) poin : (a). peringatan lisan atau tertulis (b). pemberhentian/pembebasan selaku pengurus organisasi (c). pemberhentian/pembebasan sementara sebagai anggota, atau (d). pemberhentian tetap sebagai anggota.

Terkait dengan sanksi kepewaiannya dalam hukum. PGRI sepenuhnya menyerahkan kepada pihak kepolisian dan BKPSDM, PGRI tidak akan memberikan bantuan hukum kepada oknum guru yang sudah melakukan pelanggaran kode etik profesi. Tegas M. Najur sedikit berang.

Kepada Pihak Kepolisian dan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Suber Daya Manusia (BKPSDM), ia berharap oknum tersebut diberikan sanksi, agar bisa menjadi pelajaran bagi guru lainya.

Dikesempatan itu juga, Ketua PGRI M. Najur kepada Realitas, menyampaikan menghimbau kepada seluruh guru Aceh Singkil agar kejadian tersebut menjadi pelajaran sehingga hal serupa tidak terulang lagi dikemudian hari, PGRI juga menghimbau agar seluruh guru saling ingat mengingatkan, saling nasehat menasehati kepada sesama guru, agar tidak ada lagi guru yang terjerumaus kedalam kasus yang serupa, apabila ada guru yang memiliki gejala ataupun gelagat yang mengarah kepada hal tersebut, mari kita ingatkan mereka, sehingga mereka tidak terlalu jauh masuk kelembah yang hina itu.

Selain itu M. Najur juga menyampaikan pesan moral dan mengajak guru semua, agar selalu mendekatkan diri kepada agama, karena hal semacam ini hanya mampu kita tangkal dengan pendekatan agama.

Belajar dari kasus itu, Pengurus PGRI Aceh Singkil menyarankan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil, melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Yayasan yang menyelenggarakan Pendidikan harus berani dan segera menijau kembali beberapa diantaranya:

-Dalam melakukan rekruitmen guru bukan PNS (GBPNS) agar tetap mempedomani UU Nomor 14 Tahun 2005, yakni guru harus memiliki ijazah S1 dan linear antara disiplin ilmu yang dimiliki dengan bidang study yang diajarkan disekolah, karena berdasarkan pantauan nya salah satu oknum guru yang terjerat dalam kasus asusila ini hanya memiliki ijazah SMA, sehingga secara aturan yang ada belum layak dikatakan sebagai guru.

– Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil, agar dalam melaksanakan Pendidikan dan pelatihan kepada guru, tidak hanya memasukan materi yang berkaitan dengan kompetensi paedagogik saja, tetapi materi yang berkaitan dengan Pendidikan karakter juga harus menjadi materi wajib dalam pelatihan.

– Dari kasus tersebut hanya bisa ditangkal dengan pendekatan agama, PGRI mohon kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh singkil, agar menginstruksikan kepada Sekolah untuk melaksanakan kajian-kajian keagamaan di sekolah minimal dua minggu sekali. Tutup M. Najur.(Rostani/Yudi).