29919 KALI DIBACA

Muslahuddin Daud Semangati Kader PDI-Perjuangan Simeulue

Muslahuddin Daud Semangati Kader PDI-Perjuangan Simeulue
Istimewa: Muslahuddin Daud di Simeulue, dua hari lalu.
example banner

Simeulue I Realitas – Muslahuddin Daud Semangati Kader PDI-Perjuangan Simeulue, Jangan khawatir PDI Perjuangan Pusat mendukung penuh kita Aceh dan Simeulue untuk bisa sejajar dengan yang lain.

Ada masalah sampaikan. Ada program ajuhkan. Kita Follow Up,” ungkap Muslahuddin Daud, Ketua PDI Perjuangan Aceh dalam pertemuan nya dengan DPC Simeulue, Selasa (10/21/2019).

Adapun Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Aceh yang menggantikan Karimun Usman ini menyatakan mengawali program kunjungan kerja perdana ke seluruh Aceh, sesuai instruksi Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto Ke Kabupaten Simeulue. Dua hari lamanya.

Muslahudin Daud yang akrab disapa bang mus tiba di Pulau Sinabang/Simeulue, dulunya pulau ini disebut dalam bahasa Aceh pulau “U” karena terkenal dengan penghasilan kelapangannya sebelum menjadi penghasil cengkeh bersama Koordinator Dapil 1 Aceh M. Saladin.

Saat tiba di Pulau “U” yang juga selama pemerintahan Bupati Drs. Darmili sepuluh tahun plus masa Pj. ini Pulau dijuluki Simeulue Ate Fulawan, disambut dengan suka ria pengurus dan simpatisan DPC PDI Perjuangan Simeulue.

Di hari pertama kunjungan Muslahuddin Daud, Minggu (8/12/2019) dari Bandara Lasikin langsung dibawa ke Kantor DPC PDI-Perjuangan setempat, dengan kondisi baru dan sangat sederhana.

Di kantor DPC PDI-Perjuangan Simeulue beronamen merah Muslahuddin Daud dan M.Saladin disuguhkan makan siang, gulai gurita, sayuran ubi dan ikan goreng. Makan bersama ala kampung secara lesehan bak kenduri itu berlangsung penuh akrab.

Usai makan siang bersama antara Ketua DPD PDI Aceh, Muslahuddin Daud melakukan pertemuan dan silaturahmi terbuka dengan pengurus Partai Banteng dan Kader Banteng Simeulue hingga sore hari.

Di hadapan para kader Bang Mus menyampaikan pidato politiknya. “Berpolitik itu penting, apabila punya niat ingin menolong dan membangun daerah dan negara,” ungkapnya mengawali.

Soalnya kata dia konstitusi dilahirkan oleh orang politik, jadi jika kita tidak mau terjun ke politik berarti sama saja kita biarkan orang “bodoh dan jahat” menguasai daerah ini.

Lebih lanjut Bang Mus yang dulu aktif di NGO asing dan menjadi Konsultan World Bank itu mencontohkan tentang pentingnya politik salah satunya pembuatan undang-undang atau Qanun itu produk orang politik.

Katanya, sebelum Ia terjun ke Politik dia dikenal sebagai profesional mapan, dengan penghasilan rata-rata perbulan Rp 75 juta, saat di Bank Dunia.

Kemudian b”Gratis memilih fasilitas kesehatan di seluruh dunia dan tiga kali sekali jatah ke luar negeri, namun faktanya program besar kebanyakan kandas karena saat implementasi pimpinan yang lahir dari politik bukan kader Banteng, tidak faham sehingga stagnan,” terangnya.

Nah, alasan itu mendorong dia kenapa harus terjun kepolitik. Katanya padahal penghasilan yang Ia capai mungkin sudah cukup lumayan, akan tetapi Ia merasa hanya bermanfaat bagi diri sendiri dan keluarga yang sejahtera.

“Sementara untuk rakyat Aceh belum sejahtera,”. Dia meyakini dan mengajak khususnya kader Banteng di Simeulue dan Aceh bahwa dengan melalui jalur politik akan bisa berbuat lebih banyak untuk kemakmuran rakyat.

“Sudah saya buktikan selama ini. Tanpa kekuasaan kita pegang, semua bisa menjadi zero (red-nol) bila yang mengendalikan politik di daerah kita orang yang tidak faham,’ terangnya. Imbauan ini disambut positif semua kader Banteng Simeulue.

Dihari selanjutnya Senin (9/12/2019) Muslahudin Daud melakukan Turun Lapangan (Turlap) dan bertemu langsung dengan warga kepulauan itu untuk menggali informasi serta melihat potensi yang ada.

Tampak masyarakat sangat terharu berjumpa dengan orang keercayaan Ibu Megawati soekarno putri di Aceh ini, mereka berharap Muslahudin Daud kiranya menyampaikan ke Penguasa Pusat ber-bagai masalah yang di Pulau Simeulue serta memperhatikan Pulau “U” itu.

“Bang Mus mohon di sampaikan ke pemerintah kita di pusat agar di buka lapangan kerja, disini sangat sulit ekonomi kita seharian kita kerja susah dapat uang 20.000,” jelas warga.

Mereka mecontohkan mereka yang kerja di pabrik tepung kelapa itu kadang kadang ada kerja kadang tidak. Menurut ada bahan/kelapa yang masuk ke pabrik itu.

Keluhan salah seorang ibu yang bekerja di pabrik tepung kelapa di kecamatan Teupah Selatanelatan,Simeulue ini langsung di respon dan meminta pada DPC agar memfollow up dengan memberikan proposal tentang pelatihan serta kemudian peralatan UMKM sesuai kegiatan yang digeluti warga itu untuk mereka berpenghasilan lebih. (Yudi)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS