30419 KALI DIBACA

Senator Asal Aceh Tgk. H. M. Fadhil Rahmi, LC Mengunjungi Balita Yang Terindikasi Bocor Jantung

Senator Asal Aceh Tgk. H. M. Fadhil Rahmi, LC Mengunjungi Balita Yang Terindikasi Bocor Jantung
example banner

Simeulue I Realitas – Senator Asal Aceh Tgk. H. M. Fadhil Rahmi, LC Mengunjungi Balita Yang Terindikasi Bocor Jantung, Anggota DPD RI Asal Aceh Tgk. H. M. FADHIL RAHMI, L.C mengunjungi Nabila Azyyati balita pederita kasus gizi buruk dan juga terindikasi bocor jantung, katarak, hingga gangguan pendengaran.

Di Desa Sua-sua Kecamatan Teupah Tengah Kabupaten Simeulue Provinsi Aceh. (22/11/19)

Namanya Nabila Azyyati. Lahir pada 15 Februari 2016, anak ke-4 dari pasangan suami istri Ali Rahman-Asmani, warga Desa Sua-Sua, Kecamatan Teupah Tengah, Kabupaten Simeulue.

Meski masih berumur tiga tahun delapan bulan, namun derita Nabila sungguh tak terperi. Karena pertumbuhannya tidak seperti balita normal lainnya.

Balita ini didera kasus gizi buruk dan juga terindikasi bocor jantung, katarak, hingga gangguan pendengaran.

Nabila juga belum bisa berjalan, layaknya bayi seusianya.

“Pada bulan puasa lalu anak saya dirujuk dari RSUD Simeulue ke RSIA Banda Aceh. Selanjutnya dari RSIA dirujuk lagi ke RSUDZA,” kata Asmani, ibunda Nabila dalam perbincangan dengan MediaRealitas.com”

Menurut Asmani, selama di RSUDZA, anaknya sudah menjalani serangkaian penanganan medis, perawatan dan terapi. “Alhamdulillah ada perubahan sedikit”.

Tim medis RSUDZA juga sudah melakukan operasi katarak yang mendera kedua mata putrinya.

Nabila juga menjalani terapi saraf dua kali seminggu dan penanganan gizi.

Menurut pengakuan Asmani, Nabila juga terindikasi bocor jantung, dan telah melakukan pengobatan yang berikan oleh dokter.

Tapi sudah dua bulan obat jantung sudah berhenti karena keterbatasan biaya untuk melajutkan pengobatan ke banda aceh yang sebulan sekali.

Karena obat jantung yang tiap bulannya dikasih oleh dokter, Nabila harus juga di periksa perkembangannya kesehatannya untuk menyesuaikan obat yang baru.

Namun Asmani belum tahu bagaimana rencana penanganan lebih lanjut terhadap balitanya, karena hal biaya.

Sedangkan mengenai gangguan pendengaran, juga belum ada kemajuan karena alat bantu dengar yang ditanggung BPJS ternyata tidak merespons ketika dipasangkan ke telinga anaknya.

“Menurut informasi, alat itu harus beli sendiri. Dengar-dengar harganya mencapai Rp 80 juta. Ya Allah dari mana kami dapatkan uang sebanyak itu,” ujar Asmani.

Sedangkan suaminya, Ali Rahman pekerjaan hari-harinya seorang penggalas ikan dari hasil tangkapan nelayan, untuk kehidupan mereka yang memang tercatat sebagai keluarga miskin.

Fadhil mengatakan “akan melakukan koordinasi dengan dokter yang menangani adek Nabila di RSZA beberapa bulan lalu. Langkah apa untuk selanjutnya perawatan yang harus dijalani Nabila ini.

Fadhil akan menugaskan Asprinya Agam untuk melakukan koordinasinya.

Lanjutnya lagi, karena penyakit yang di derita adek ini komplek : katarak, pendengaran, gizi buruk, tidak bisa bergerak seperti anak normal biasanya serta indikasi bocor jantung. Sebagaimana diceritakan orang tua Nabila.

Sehingga kita butuh kepastian medis dari dokter yang pernah menanganinya beberapa bulan lalu.

Kalau memang harus pengobatannya ke jakarta RS jantung, maka ini butuh biaya. Saya akan berfikir bersama staff mencari jalan keluarnya dan berkoordinasi dengan pihak terkait.

‘Semoga Nabila bisa sehat dan normal kembali sperti balita lainnya. Aamiin. (Zulfadli/Yudi)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS