Blangpidie | Realitas – Pasokan air ke sejumlah areal persawahan di Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) masih terlalu minim dan tidak maksimal mengaliri areal lahan petani.
Sehingga, banyak petani yang mengeluh lantaran terancam gagal ikut proses tanam serentak MT Gadu 2018 yang sudah berlansung beberapa hari lalu.
Sandiman (60), salah satu petani yang memiliki lahan di kawasan areal persawahan Paya Laot, Desa Lhueng Baro, Kecamatan Manggeng, Senin (16/7/2018) mengaku kuatir dengan kondisi debit air yang kian minim di wilayah setempat.
Bahkan air yang berada di dalam saluran tidak cukup untuk dialiri kesawah.
Biasanya, kawasan Paya Laot termasuk lahan sawah yang tidak kesulitan pasokan air.
Jika musim penghujan, air akan membanjiri kawasan itu.
“Mungkin karena sedang musim kemarau, debit air jadi berkurang.
Sehingga, lahan yang baru saja dibajak kembali mengeras,” tutur Sandiman.
Meski begitu, Sandiman bersama dengan petani lainnya meminta pemerintah melalui instansi terkait agar bisa mencari solusi untuk masalah yang dihadapi pihaknya itu.
“Jika tidak ada solusi, maka lahan yang sudah dibajak terpaksa menunggu hujan turun atau bertambahnya debit air baru di garap kembali,” ungkapnya.
Bukan hanya di Paya Laot, hal serupa juga dialami beberapa kawasan areal persawahan lainnya di Kecamatan Manggeng.
Seperti persawahan Desa Padang, Tengah, Pante Raja, Sejahtera dan Panton Makmu.
“Meski tidak seluruhnya, namun ada beberapa titik yang tidak bisa teraliri air kedalam sawah, akibat debit air yang sedikit,” kata Muhammad Yani salah satu petani di Desa Padang.
Untuk itu, Yani meminta pemerintah segera mencari solusi agar masalah air di areal persawahan dalam Kecamatan Manggeng dapat teratasi.
“Kami sangat mendukung program tanam serentak yang dicanangkan pemerintah.
Jika tidak ada air, bagaimana kami bisa ikut tanam serentak.
Menggarap lahan saja tidak bisa,” pungkasnya.
Menanggapi keluhan petani di Kecamatan Manggeng itu, Camat Manggeng, Tabari yabg dihubungi terpisah membenarkan bahwa beberapa lahan petani diwilayah setempat sempat mengalami kekeringan karena tidak tercukupi air.
Akan tetapi, pihaknya bersama para petani lainnya terus berupaya untuk memecahkan masalah tersebut agar air kembali teraliri ke sawah petani.
Demi mengejar program tanam serentak di Abdya, Tabari mengaku sudah beberapa kali melakukan gotong royong bersama petani yang areal persawahannya kesulitan air.
Seperti, areal di Desa Ujung Padang dan Lhueng Baro.
“Ternyata, upaya itu tidak sia-sia. Perlahan, debit air sudah mulai teraliri kesawah petani meski belum sepenuhnya tapi sudah bisa dilakukan penggarapan,” terangnya.
“Sumber air kita dari Krueng (Sungai) Baru dan Krueng Manggeng.
Saat debit air dalam sungai berkurang, maka sudah pasti lahan petani akan kering.
Jadi kami sudah melakukan upaya semaksimal mungkin agar program tanam serentak dapat terkejar,” demikian sambungnya. (Syahrizal)

