179219 KALI DIBACA

Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara Mengunjungi Rumah Tidak Layak Huni di Kabanjahe

Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara Mengunjungi Rumah Tidak Layak Huni di Kabanjahe
example banner

Januari 2018, Mujianto Ketua Tzu Chi Medan ketika melewati Desa Kutambelin, Kabupaten Karo, Sumatera Utara terlihat olehnya rumah yang berada di pinggir jalan besar, dinding rumah itu dalam keadaan sudah sangat miring, dengan rasa penasaran, Mujianto turun dari mobil dan mendatangi rumah tersebut, ketika tiba di depan rumah itu, keluarlah seorang nenek tua dan terjadilah perbincangan di antara Mujianto dan Sang Nenek yang bernama Siti Br Purba (80).

 

Sang nenek mempersilahkan Mujianto masuk ke gubuknya yang memang sudah reyot dan tidak layak huni, timbullah niat di hati Mujianto untuk membantu membangun kembali gubuk nenek Siti, namun ternyata gubuk tersebut bukan milik sang nenek melainkan milik abang dari menantunya, sedangkan menantunya di akhir 2017 telah meninggal dunia.

Tanpa putus asa, Mujianto mendatangi kepala desa, Salomo Tarigan untuk dipertemukan dengan pemilik tanah, Mujianto bersyukur karena si pemilik dengan senang hati menghibahkan rumah tersebut kepada keponakannya atau cucu nenek Siti, dengan demikian, rumah Nenek Siti bisa dibangun kembali.

Sebelum bedah rumah nenek Siti dimulai, pada Minggu (18/03/2018), Mujianto membawa muda-mudi Tzu Chi yaitu Tzu Ching untuk mengunjungi nenek Siti, kunjungan ini dimaksudkan supaya mereka bisa melihat bahwa di dunia ini masih banyak orang yang menderita.

Di saat langit masih gelap, rombongan muda-mudi Tzu Ching sebanyak 20 orang telah berkumpul di Kantor Tzu Chi Medan, dan dengan bus mereka berangkat ke Kota Kabanjahe ditemani lima orang relawan, termasuk Mujianto sendiri.

 

Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Cabang Sumatera Utara Mujianto menyebutkan, Saya mau anak-anak melihat dan merasakan langsung bagaimana nenek Siti menjalani kehidupannya di gubuk yang reyot dan hampir tumbang ini, anak-anak bisa bersyukur atas kehidupan mereka yang serba canggih saat ini dan semoga bisa mengetuk hati mereka semua untuk ikut membantu saat rumah ini akan dibongkar untuk dibangun kembali nantinya,”jelas Mujianto.

Mujianto juga menyebutkan, Sesampainya di Desa Kutambelin, satu persatu mereka menyalami nenek Siti, ketika dipersilahkan masuk ke rumahnya, anak-anak sungguh terperangah melihat dinding rumah yang sudah miring, keadaan rumah memang sungguh memprihatinkan.

 

Rumah dengan dinding terpal yang berlubang dan atap seng yang sudah bocor ditutupi goni bekas dengan kondisi tempat tidur yang seadanya dan lantai langsung tanah, padahal suhu udara sangat dingin, kondisi ini membuat anak-anak meneteskan air mata, apalagi ketika mereka berbincang dengan nenek Siti, dengan usia 80 tahun, nenek Siti masih ke ladang dengan upah per hari Rp.10.000,”ujar Mujianto.

 

“Saya merasa prihatin dengan kehidupan nenek Siti yang tinggal di daerah pegunungan puluhan tahun dengan udara yang dingin namun rumahnya hanya berdinding terpal, atapnya juga berlubang, jika mau ke kamar mandi juga harus jalan begitu jauh, saya tidak bisa membayangkan jika saya berada di posisi nenek ini, untuk itu saya harus bersyukur dan tidak membanding-bandingkan lagi dengan orang lain yang sering membuat saya mengeluh,”ujar Helen salah satu muda mudi Tzu Ching.

“Rumah Nenek Siti sangat tidak layak huni, dindingnya beresiko rubuh, dan atap yang bocor harus ditutupi karung goni yang dijahit untuk mengurangi air yang masuk saat hujan, tempat tidurnya juga tidak terjaga kebersihannya, semuanya sangat tidak nyaman, maka jika berjodoh saya akan ikut terlibat saat bedah rumah nantinya, semoga dengan kunjungan kami ini, nenek akan merasakan kehangatan dan kekeluargaan,”kata Theresia muda mudi Tzu Ching.

“Shi Gong sering mengatakan, Jika orang yang menderita tidak bisa keluar meminta bantuan, maka kitalah yang harus mendatanginya untuk memberi bantuan dalam meringankan penderitaannya,”sebut Jefri Ang.

Dengan berkunjung ke rumah Nenek Siti, walaupun harus menempuh waktu sekitar dua setengah jam, namun membawa sejuta perasaan bagi anak-anak, dengan melihat penderitaan dan memahaminya, barulah dapat menyadari dan menghargai berkah, dengan menghargai berkah yang dimiliki, barulah dapat bersikap pengertian, berlapang dada, dan berpuas diri.

Orang yang mengenal rasa puas harus bersikap penuh pengertian, barulah bisa berlapang dada, orang yang bisa berlapang dada, barulah memiliki rasa syukur, inilah “Empat Ramuan Tzu Chi”, kita harus meminumnya dalam keseharian, dengan begitu barulah kita dapat menumbuhkan jiwa kebijaksanaan.(M.Nazar)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS