Sumenep | REALITAS — Sejarah baru saja menitikkan tinta emasnya di Bumi Sumenep. Untuk pertama kalinya dalam catatan panjang sejarah daerah ini, sebuah ikatan kekeluargaan yang berhimpun dalam Yayasan Bani Insan Peduli (BIP) berhasil menyatukan visi kemanusiaan dalam satu wadah yang megah namun tetap bersahaja. Bertempat di Jalan H.M. Husni Thamrin, Kecamatan Kota, yayasan ini seolah kembali “menutupi awan dengan sayap kepedulian” melalui perhelatan sosial berskala besar yang menyentuh relung hati.
Kesuksesan acara ini tak lepas dari sosok dibalik layar yang kini menjadi figur pengusaha legendaris di Sumenep. Beliau adalah buah hati dari Almarhumah Hajjah Ainun, seorang ibu Kharismatik yang telah berhasil menanamkan benih adab dan budi pekerti yang luhur.
Nilai-nilai itulah yang membentuk karakternya hingga menjadi pribadi yang sukses secara materi, namun tetap merunduk kepada fakir miskin dan anak yatim hingga ke akar rumput. Di kediaman Founder BIP yang terletak di Pajagalan, suasana khidmat menyelimuti kehadiran para tokoh, donatur, serta keluarga besar Bani.
Dalam momen yang menggetarkan jiwa, AlibZainal Abidin’s pengusaha dermawan yang akrab disapa Bang Ali atau Bang Bidin, mengajak seluruh hadirin untuk merenungi kedalaman sebuah hadis masyhur. Sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya secara berdampingan, beliau menyampaikan pesan yang penuh getaran spiritual.
“Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Aku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga seperti ini’, seraya beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Inilah visi besar kita hari ini. Kita tidak hanya memberi santunan, kita sedang mengantre untuk berdiri berdampingan dengan Baginda Nabi di surga nanti,” tutur Ali Zainal Abidin dengan penuh ketulusan.
Rangkaian kegiatan ini merupakan harmoni antara olahraga, kesehatan, dan kepedulian sosial. Diawali dengan Road Show Goes To Sumenep berupa sepeda santai yang dihadiri langsung oleh Bupati Sumenep bersama Yayasan Makarimul Akhlaq, acara ini menjadi simbol kuatnya sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga sosial.
Tak berhenti di situ, Yayasan BIP juga menggandeng Klinik As Salamah untuk memberikan layanan pengobatan gratis. Layanan ini disambut dengan antusiasme tinggi, terutama oleh kalangan dhuafa yang mendapatkan pemeriksaan medis serta konsultasi tanpa dipungut biaya sedikitpun.
Puncak kemanusiaan ini ditutup dengan kehangatan yang luar biasa pada sore hari. Pukul 15.00 WIB, suasana kekeluargaan memuncak dalam acara “Ngopi Santai” yang melibatkan 1.000 tukang becak, abang ojek daring, hingga para pejuang kebersihan (tukang sapu). Di sana, tidak ada sekat antara pengusaha dan pekerja; yang ada hanyalah tawa dan rasa syukur yang menyatu di bawah langit Sumenep.
Langkah Yayasan Bani Insan Peduli ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa tinggi ia mendaki, melainkan seberapa dalam ia bersedia membungkuk untuk merangkul sesama.
Alhamdulillah wasyukurillah” (الحمد لله والشكر لله)
“Segala puji bagi Allah dan segala syukur bagi Allah”.(R. M Hendra)


