Di Sudut Bekasi, Hafiz Elkaromi Menjadi “Ayah Kedua” Bagi Santri Penghafal Al-Qur’an

oleh -36.759 views

Bekasi | REALITAS  —
Di sebuah rumah sederhana di kawasan Bekasi, setiap pagi aroma tempe goreng menyeruak dari dapur kecil. Bukan dari warung sarapan, melainkan dari tangan Hafiz Elkaromi, S.IP, yang bangun lebih awal untuk menyiapkan makan pagi anak-anak asuhnya sebelum mereka berangkat sekolah. Di sela kesibukan bekerja di kantor notaris, Hafiz menjalani rutinitas yang jarang terlihat: menjadi “ayah kedua” bagi para santri kecil penghafal Al-Qur’an—sebagian di antaranya adalah anak yatim.

Setiap sore, rumah itu kembali dipenuhi lantunan ayat suci. Anak-anak SD yang sedang menghafal Al-Qur’an duduk membentuk lingkaran kecil. Dengan mushaf di tangan, mereka bergantian menyetorkan hafalan, sementara Hafiz mendengarkan dengan telaten, membetulkan tajwid, atau sekadar mengusap kepala mereka yang tampak lelah sepulang sekolah.

Beberapa anak datang lebih cepat, bukan hanya untuk belajar. Ada yang ingin bercerita tentang pelajaran di sekolah, ada yang meminta bantuan mengulang hafalan, dan ada pula yang, dengan polosnya, hanya ingin duduk dekat Hafiz. Bagi mereka yang kehilangan salah satu orang tua, kedekatan seperti itu bukan hal kecil—itu adalah pengisi ruang rindu.

Kisah pengabdian Hafiz berakar dari keluarganya. Ia adalah putra dari almarhum H. Hayatullah HM Bin Ustadz. Ahmad Qizwini Bin Haji Masturo. Dikenal sebagai salah satu ulama bekasi yang berasal dari keturunan Sukabumi, dan pendiri Pondok Pesantren Hayatinnur di Jatimulya.

Warisan pendidikan itu masih diteruskan melalui lembaga Ibtidaiyah dan Diniyah yang tetap berjalan hingga kini. Lingkungan itu membentuk keyakinan Hafiz sejak kecil bahwa menyantuni yatim dan membimbing penuntut ilmu adalah jalan hidup, bukan sekadar amal.

“Kalau lihat mereka tersenyum atau hafalannya nambah, capek hilang,” ucap Hafiz pelan saat ditemui mediakota. Ia sempat terdiam ketika mengingat beberapa anak yang datang dalam kondisi rapuh, minder, atau tidak punya tempat kembali. “Yang penting mereka merasa aman, diterima.”

Setelah sesi mengaji malam hari, anak-anak masih betah berada di rumah itu. Mereka minta hafalan dicek ulang, mendengarkan kisah nabi, atau sekadar bersandar di bahu Hafiz sambil menunggu dijemput. Suasana yang tercipta bukan sekadar kelas mengaji, tetapi keluarga kecil yang hangat.

Di kota yang serba cepat dan penuh hiruk-pikuk, keberadaan sosok seperti Hafiz Elkaromi mengingatkan bahwa kepedulian masih punya ruang. Ia mungkin tak memiliki panggung besar, namun setiap hari ia menyalakan harapan bagi anak-anak yang sedang tumbuh, belajar, dan bermimpi—dengan hafalan Al-Qur’an di dada dan tempe goreng hangat di pagi hari.
(Pay)