Taman Hutan Lindung Kota Langsa Komitmen Jaga Kelestarian Alam

oleh -100.759 views

Langsa| REALITAS Di tengah rimbun pepohonan dan suara satwa yang khas, Taman Hutan Lindung Kota Langsa tetap menjadi destinasi edukasi dan konservasi yang hidup di tengah tantangan. Meski menghadapi penurunan pendapatan dan kewajiban anggaran dari tahun sebelumnya, pengelolaan taman ini terus berjalan dengan komitmen menjaga kesejahteraan satwa serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan dunia pendidikan.

Staf keuangan Taman Hutan Lindung Kota Langsa, Putri Rizka Mulyana, S.Kel, menjelaskan bahwa pendapatan kawasan tersebut mengalami penurunan cukup signifikan sejak beberapa bulan terakhir.
“Pada hari-hari biasa, rata-rata pendapatan sekitar Rp1.000.000 per hari. Akhir pekan biasanya bisa mencapai Rp2.000.000 hingga Rp3.000.000, sedangkan hari Minggu bisa lebih dari Rp5.000.000. Namun, sejak September hingga Desember ini, pendapatan kami menurun tajam. Bahkan pada hari besar, kadang belum mencapai Rp1.000.000,” ujarnya.

Putri menuturkan bahwa pihak pengelola memiliki kewajiban penyetoran ke Kas Daerah (Kasda) sebesar Rp10.000.000 setiap bulan. Namun, karena kondisi pendapatan belum stabil, penyetoran dilakukan secara bertahap.
“Untuk sementara, kami memprioritaskan kebutuhan pokok seperti pakan satwa dan gaji pegawai. Penyetoran ke Kasda akan tetap kami lakukan setelah kebutuhan operasional terpenuhi,” jelasnya.

Hal senada disampaikan oleh Dea Adriliani, S.E, staf pengelolaan hutan lindung. Ia menegaskan bahwa kesejahteraan satwa tetap menjadi prioritas utama di tengah keterbatasan dana.
“Alhamdulillah, sampai saat ini kebutuhan pakan satwa masih terpenuhi. Kami memastikan semua satwa mendapat perawatan dan makanan secara layak,” tuturnya.

Dea juga mengungkapkan bahwa populasi satwa di taman ini tergolong stabil, bahkan mengalami penambahan dari hasil hibah masyarakat dan kelahiran baru.

“Beberapa waktu lalu, kami menerima hibah ayam hias jenis ayam mutiara. Awalnya dua ekor, sekarang sudah menjadi tujuh. Selain itu, beberapa burung dan satwa kecil lainnya juga bertambah, bahkan rusa tutul kita sudah memiliki sampai 18 Ekor ” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Keuangan Taman Hutan Lindung Kota Langsa, M. Aris Setiawan, S.H, menjelaskan bahwa saat ini pihaknya masih menyelesaikan kewajiban keuangan dari tahun 2024.

“Memang masih ada sisa kewajiban tahun lalu yang harus kami lunasi. Sebagian pendapatan tahun ini digunakan untuk menutup kekurangan tersebut. Awalnya kami berharap hasil tahun ini bisa langsung digunakan untuk kegiatan 2025, tetapi secara aturan, utang lama harus diselesaikan terlebih dahulu,” terangnya.

Aris memastikan bahwa situasi ini tidak menghambat operasional taman. Pihaknya tetap melaksanakan kegiatan konservasi, edukasi, dan kontribusi daerah sebagaimana mestinya.
“Ini tidak menjadi hambatan bagi kami. Semua kegiatan tetap berjalan. Setelah proses audit yang saat ini sedang berlangsung hingga selesai, kami akan menyiapkan laporan dan data secara lengkap,” tambahnya.

Selain pengelolaan konservasi, pihak taman juga tengah mengembangkan program wisata malam dengan penerangan lampu taman untuk menarik pengunjung. Kegiatan ini dikemas agar tetap edukatif dengan melibatkan berbagai sekolah dan universitas.
“Kami bekerja sama dengan sejumlah kampus, seperti Universitas Al-Muslim dan beberapa universitas lainnya, untuk kegiatan edukasi dan penelitian. Banyak mahasiswa yang datang melakukan praktik lapangan di sini,” jelas Aris.

 

Berdasarkan data pengelola, jumlah satwa di Taman Hutan Lindung Kota Langsa saat ini terdiri atas berbagai jenis fauna, di antaranya:
– Buaya: 6 ekor
– Kura-kura: 36 ekor
– Rusa tutul: 18 ekor
– Rusa sambar: 10 ekor
– Rusa Bawean: 11 ekor
– Landak: 3 ekor
– Burung elang berbagai jenis: 8 ekor
– ⁠Ayam mutiara: 7 ekor
– Musang luak: 1 ekor
– Iguana: 1 ekor
– Kuau raja: 1 ekor
– Burung pegar: 2 ekor
– Tekukur biasa/balam: 1 ekor
– Beruk: 1 ekor
– Nuri merah Maluku: 2 ekor
– ⁠Burung kakaktua jambul kuning: 1 ekor
– Bangau tong-tong: 3 ekor
– ⁠Ular: 1 ekor

Dea menambahkan bahwa meski jumlah koleksi satwa tidak terlalu besar, keberagaman jenis yang ada sudah cukup menjadi daya tarik tersendiri.

“Anak-anak sekolah dan mahasiswa sering datang untuk belajar mengenal satwa secara langsung. Kami ingin taman ini menjadi ruang belajar dan rekreasi yang tetap bernilai konservasi,” tuturnya.

Dengan segala keterbatasannya, Taman Hutan Lindung Kota Langsa terus menunjukkan komitmen menjaga kelestarian alam serta memperkuat fungsi edukasi lingkungan bagi masyarakat. Kawasan ini diharapkan tetap menjadi paru-paru hijau sekaligus pusat pembelajaran alam bagi generasi muda di Kota Langsa dan sekitarnya.(Tim/Red)