Kampar | REALITAS – Di tengah keterbatasan infrastruktur dan minimnya perhatian terhadap limbah peternakan, seorang pengusaha asal Riau, Ridwan, hadir membawa terobosan luar biasa yakni mengubah limbah bulu ayam menjadi pupuk organik berkualitas tinggi.
Dengan semangat wirausaha dan kepedulian terhadap lingkungan, Ridwan membangun pabrik pengolahan limbah UMKM daur ulang bulu ayam menjadi pupuk organik yang beralamatkan di Desa Baru Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar, meski terkendala akses listrik yang hingga kini belum tersedia.
“Program kami ini fokus pada pembersihan limbah bulu ayam, yang kami olah menjadi pupuk organik,” ujar Ridwan saat menerima pengurus Forum CFCD (Corporate Foundation for Community Development) Chapter Riau memberikan pembinaan dan semangat baru-baru ini.
Dalam sebulan, pabrik ini mampu memproduksi hingga 20 ton pupuk organik, yang tidak hanya dipasarkan di Provinsi Riau, tetapi juga menjangkau Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Bahan baku diambil dari seluruh pasar ayam potong di Kota Pekanbaru, menjadikan kegiatan ini sebagai solusi pengelolaan limbah kota sekaligus penggerak ekonomi lokal.
Namun, keterbatasan akses listrik menjadi tantangan utama dalam meningkatkan skala produksi. Ridwan optimis, jika aliran listrik bisa masuk ke lokasi pabrik, kapasitas produksi dapat meningkat signifikan.
“Kalau sudah ada listrik, kami bisa produksi lebih dari 20 ton per bulan. Harapan kami kepada pengurus CFCD Chapter Riau yang sudah berkunjung, agar bisa menyampaikan permasalahan ini ke pemerintah Kabupaten Kampar atau ke perusahaan-perusahaan yang bisa membantu memasukan pasokan listrik dan tambahan modal usaha,” lanjut Ridwan.
Tidak hanya mendukung ketahanan pangan melalui penyediaan pupuk organik, pabrik ini juga memiliki dampak sosial signifikan. Sekitar 50 orang tenaga kerja lokal kini menggantungkan hidupnya dari proses pengolahan limbah ini.
Selain bulu ayam, Ridwan dan timnya berencana memperluas jenis bahan baku limbah organik, termasuk tulang sapi, kerbau, dan kambing, sebagai upaya pengembangan produk dan diversifikasi usaha.
Ketua Forum Corporate Foundation for Community Development (CFCD) Chapter Riau, H. Efri Yarnuri, SH, M.Si, menyoroti potensi luar biasa dari UMKM ini. Ia menyebut bahwa langkah daur ulang limbah menjadi pupuk organik bukan hanya wujud kreativitas dan kemandirian, melainkan juga bentuk kepedulian terhadap ekologi dan keberlanjutan hidup masyarakat.
“UMKM daur ulang bulu ayam ini adalah bentuk nyata dari inovasi yang bermanfaat, baik bagi lingkungan maupun masyarakat. Mereka mampu secara mandiri mengolah bahan baku limbah menjadi produk bernilai tinggi,” ujar Efri dalam kunjungannya ke lokasi produksi.
Menurutnya, UMKM ini sangat berpotensi menjadi pionir dalam mendukung ketahanan pangan nasional, terlebih karena hasil produksinya dapat dimanfaatkan langsung oleh sektor pertanian dan perkebunan. Namun, Efri juga menggarisbawahi sejumlah tantangan yang masih dihadapi, khususnya keterbatasan modal dan akses listrik di lokasi pabrik, yang menghambat peningkatan kapasitas produksi.
Sebagai bentuk komitmen, CFCD Chapter Riau akan mengambil peran strategis dengan menjembatani kebutuhan UMKM tersebut melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Kami akan berupaya mencari ‘bapak angkat’ dari kalangan perusahaan untuk membantu melalui CSR, serta mendorong pemerintah daerah agar memberi perhatian khusus terhadap potensi besar yang dimiliki pabrik pengolahan limbah bulu ayam ini,” tegas Efri.
“Keberadaan UMKM ini telah berkontribusi besar dalam mendukung program pemerintah. Di antaranya, mengurangi angka pengangguran, menekan kemiskinan, serta menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, selaras juga dengan program Kapolda Riau, Green Policing, yang menitikberatkan pada pelestarian lingkungan dan penanggulangan krisis ekologis,” tutupnya. (Mirza Yamoli)

