YARA Desak Pj Gubernur Aceh Bertindak dan Tidak Larut Dalam Seremoni

oleh -61.579 views
oleh
Burung YARA: Rohingya Seharusnya Diarahkan Ke Myanmar Bukan Ke Pengungsi!
Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Safaruddin.

Banda Aceh | MEDIAREALITAS – Burung kuntul mengancam keselamatan penerbangan di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), hal itu disebabkan lokasi Bandara yang berdekatan dengan tempat pembuangan akhir.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Safaruddin, SH, MH, ia meminta Pj Gubernur Aceh, Bustami Hamzah, SE MSi untuk segera melakukan langkah kongkrit mengatasi persoalan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tersebut,” ujar safar, di Banda Aceh, Rabu (1/5/2024).

Safaruddin juga mengingatkan Pj Gubernur Aceh agar tidak larut dalam kegiatan seremoni sehingga lupa pada tugasnya sebagai Pemimpin di Aceh yang harus fokus pada pelayanan dan kesejahteraan masyarakat dan kepentingan publik lainnya.

Ia mencontohkan salah satu hal mendesak yang harus dilakukan adalah melakukan pencegahan agar burung yang berkumpul di seputar TPA dekat Bandara Sultan Iskandar Muda tidak sampai menjadi malapetaka pada penerbangan kedepannya.

Safaruddin mengharapkan persoalan itu tidak dianggap sepele oleh Pj Gubernur Aceh, jangan sampai keberadaan TPA tersebut menjadi bencana yang membahayakan jiwa.

“Perlu dilakukan kajian ilmiah apakah keberadaan TPA di dekat Bandara patut dipertahankan, apakah pembangunan TPA tersebut sudah dilakukan kajian lingkungan yang memadai termasuk keselamatan penerbangan, jika tidak ada terpaksa harus dipindahkan ke lokasi lain yang tidak membahayakan,” imbuh Safaruddin.

Safaruddin juga menyorot kinerja Pj Gubernur Aceh, Bustami yang minim inovasi sejak memimpin Aceh, tetapi terkesan sibuk dengan kegiatan seremoni, sedangkan banyak persoalan masyarakat belum tertangani, termasuk proses pembangunan dan pelelangan proyek APBA yang belum terealisasi hingga saat ini.

Sebagaimana diberitakan media massa bahwa General Manager AP II Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Darmadi, mengakui kesulitan mencegah risiko serangan burung kuntul terhadap penerbangan. Pasalnya, lokasi tempat pembuangan akhir berdekatan dengan bandara setempat.

“Memang untuk burung banyak tantangan karena habitatnya di situ. Maka perlu dilakukan pemindahan habitat sebenarnya. Namun itu cukup memakan biaya besar dan sulit,” kata Darmadi kepada Media beberapa waktu lalu.

Untuk diketahui ribuan ton limbah di TPA menarik perhatian ribuan burung kuntul yang berpotensi menyebabkan kecelakaan pesawat. Burung tersebut terbang dalam kawanan besar dan mencari makan di sekitar lokasi pembuangan limbah. Hal ini, memungkinkan burung-burung itu melintasi rute terbang pesawat yang bakal mendarat atau tinggal landas dari Sultan Iskandar Muda.

Untuk informasi sebagaimana dilansir dari laman www.skybrary.aero, serangan burung atau bird strike adalah tabrakan antara burung dan pesawat yang sedang terbang. Biasanya kejadian tersebut terjadi saat pesawat akan lepas landas (take off) atau mendarat (landing).

Bird strike yang terjadi pada pesawat dapat berakibat pada struktur badan pesawat maupun pada mesin pesawat itu sendiri, khususnya pada bagian mesin jet pesawat. Bila burung terkena mesin pesawat, mesin akan kehilangan daya dorong dan burung akan terbawa ke intake udara mesin. Hal tersebut akan berakibat fatal dan memungkinkan terjadinya kecelakaan fatal.

Kegagalan mesin pesawat bisa terjadi pada sebagian maupun keseluruhan mesin. Hilangnya fungsi instrumen penerbangan tersebut terjadi karena adanya efek benturan pada sistem Pilot Static System yang dapat membuat kerusakan pada pembacaan instrumen dependen pesawat.

Kegagalan mesin secara keseluruhan maupun sebagian atau hanya pada satu mesin saja akan sangat mempengaruhi pesawat. Bila bird strike terjadi pada lebih dari satu mesin, maka pesawat rentan kehilangan kontrol. Biasanya pada kasus tersebut, bird strike terjadi karena adanya sekawanan burung berukuran sedang atau sekelompok burung dengan ukuran kecil namun dalam jumlah banyak.

Menurut peneliti Inggris dan Kanada, tabrakan burung dan pesawat telah dikaitkan dengan lebih dari 106 kematian warga sipil selama dua dekade terakhir. Diperkirakan kejadian ini menyebabkan kerusakan sekitar 1,2 miliar dolar atau sekitar 17.357.520.000 rupiah per tahun.

Salah satu kasus serangan burung yang mendapat banyak perhatian adalah kasus Airbus A320 yang ditabrak kawanan burung pada 15 Januari 2009, setelah lepas landas dari Bandara LaGuardia di kota New York Amerika Serikat.

Pesawat itu pun juga melakukan keajaiban ajaib di Sungai Hudson. Beruntung tidak ada korban dalam jiwa peristiwa ini, sehingga ini dikenal sebagai ‘Miracle on the Hudson’ atau ‘Keajaiban di atas (Sungai) Hudson’.

Sementara itu, salah satu kasus serangan burung mematikan terjadi di Boston pada tahun 1960. Dilaporkan dari Langley Advance times, sebuah Lockheed L-188 Electra terbang melewati kawanan besar 120 burung jalak setelah lepas landas.

Ini menyebabkan keempat mesin pesawat mati sebelum menabrak pelabuhan Boston. Akibatnya, 62 dari 72 penumpang pesawat tewas dalam kecelakaan pesawat itu.

Kasus bird strike lainnya terjadi pada 10 Desember 1969, sebuah pesawat Ilyushin IL-14P yang dioperasikan oleh Aeroflot/Georgia jatuh sekitar empat menit setelah lepas landas. Semua 17 orang di dalamnya tewas dalam kecelakaan itu, yang terjadi sekitar 1.150 kaki di atas laut.

Laporan berikutnya mengungkap bahwa tragedi itu akibat pesawat bertabrakan dengan sekawanan besar burung.

Peristiwa lainnya terjadi pada 23 November 1962, sebuah pesawat Vickers 745D Viscount, United Airlines penerbangan 297, lepas landas dari Newark, New Jersey menuju ke Washington, D.C.

Sayang, saat berada di udara, pesawat dihadapkan pada sekawanan angsa tundra. Meski hewan ini merupakan jenis angsa terkecil tapi cukup untuk menjatuhkan pesawat komersial.

Badan pesawat akhirnya jatuh ke tanah dari ketinggian sekitar 6 ribu kaki. Pesawat itu jatuh 10 mil (16 km) barat daya Baltimore dan meledak. Semua orang yang berada di dalam pesawat, yang terdiri dari 13 penumpang dan 4 kru terbunuh akibat kecelakaan itu.

Peristiwa lainnya terjadi Pada 15 September 1988, sebuah Boeing 737-260 milik Ethiopian Airlines menabrak sekawanan merpati. Saat itu, pesawat berada pada kecepatan 146 knot, dan ketinggian 5.730 kaki di atas permukaan laut.Laporan awal mengatakan 31 dari 102 orang di dalamnya tewas dalam kecelakaan. (*)