Masyarakat Resah Harga Beras Masih Mahal

oleh -13.579 views
Masyarakat Resah Harga Beras Masih Mahal
Masyarakat di Indonesia tengah resah. Bukan soal hasil Pemilu 2024, melainkan keresahan mengenai harga beras di pasaran yang tak kunjung turun. Ya, harga beras masih mahal. Padahal pemerintah sudah jor-joran gelar operasi pasar hingga bagi-bagi bansos beras. Tujuannya adalah untuk bisa menekan harga beras dan menjaga daya beli masyarakat.

Jakarta | MEDIAREALITAS – Masyarakat di Indonesia tengah resah. Bukan soal hasil Pemilu 2024, melainkan keresahan mengenai harga beras di pasaran yang tak kunjung turun. Ya, harga beras masih mahal. Padahal pemerintah sudah jor-joran gelar operasi pasar hingga bagi-bagi bansos beras. Tujuannya adalah untuk bisa menekan harga beras dan menjaga daya beli masyarakat.

Perlu diketahui saja, soal harga beras ini, sebenarnya pemerintah mensgatur Harga Eceran Tertinggi berdasarkan zonasi. Untuk Zona 1 meliputi Jawa, Lampung, Sumsel, Bali, NTB, dan Sulawesi, HET beras medium senilai Rp 10.900/kg sedangkan beras premium Rp. 13.900/kg.

Sementara itu, untuk Zona 2 meliputi Sumatera selain Lampung dan Sumsel, NTT, dan Kalimantan, HET beras medium sebesar Rp 11.500/kg dan beras premium Rp 14.400/kg. Adapun zona 3 meliputi Maluku dan Papua, HET beras medium sebesar Rp 11.800/kg, dan untuk beras premium sebesar Rp 14.800/kg.

Tidak hanya soal mahalnya harga beras, keresahan masyarakat makin menjadi-jadi setelah beras di ritel modern mulai lenyap. Banyak yang menduga, langkanya beras di ritel modern seperri Alfamart dan Indomaret ini karena stok beras digunakan pemerintah untuk bagi-bagi bansos.

Namun ternyata bukan begitu faktanya. Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi menjelaskan, langkanya beras di ritel modern ini karena harga beras di tingkat produsen sudah tinggi, bahkan di atas HET.

“HET untuk beras premium adalah Rp 13.900 (per kg). Anda bisa bayangkan, ritel modern kira-kira berani enggak melanggar HET? Enggak berani. Reputational problem,” ungkap Bayu.

“Kalau sampai ketahuan, maka itu akan timbulkan masalah bagi si ritel modern. Dan orang tidak peduli, misal Alfamart yang ada di daerah mana, yang kena seluruh Alfamart, karena tanggung jawab manajemen,” tegasnya.

Alhasil, pengusaha produsen beras tak ingin menjual rugi ke ritel modern. Sehingga mulai mengurangi pasokan beras ke sana.

BACA JUGA :   ASN Akan Dapat 1 Unit Apartemen Di IKN, Kecuali Yang Jomlo

“Mereka mulai kurangi pasokan ke ritel modern. Kalau kita masuk ke pasar tradisional, itu tersedia berasnya, ada. Cuman mahal di atas HET (beras). Ini lah situasi gambaran perberasan sekarang,” pungkas Bayu.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menjelaskan mahalnya harga beras dan kelangkaan di pasar dan ritel dikarenakan terlambatnya masa panen. Hal ini membuat produksi beras hasil panen belum masuk ke pasar-pasar.

“Ya suplai, suplai itu karena memang panennya belum masuk. Yang dari produksi di panen belum masuk pasar,” kata Jokowi usai meninjau stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Kamis 15 Februari 2024.

Selain itu, kata dia, kelangkaan terjadi karena adanya masalah distribusi yang terganggu karena banjir. Namun, Jokowi menyebut masalah ini sudah diselesaikan melalui pengiriman dari Bulog ke daerah Pasar Induk Cipinang.

“Nanti dilihat saya kira akan dalam seminggu dua minggu ini saya rasa akan sedikit turun. Sambil nunggu panen kalau panen raya datang pasti sudah,” ujarnya.

Jokowi mengatakan Indonesia merupakan negara besar yang memiliki banyak pulau. Sehingga, masalah distribusi adalah hal yang biasa terjadi dan harus diselesaikan.

“Ya ini negara besar kita harus tau dan berpulau-pulau. Kalau distribusinya kadang terhambat ya itu yang harus diselesaikan. Tapi kan itu tidak semuanya gitu lho,” tutur Jokowi.

Bicara mengenai stok beras, Kementerian Pertanian (Kementan) memberikan penjelasan. Pertama, hasil produksi beras sejak akhir 2023 masih menunjukan angka surplus.

Direktur Serealia Tanaman Pangan Kementan Mohammad Ismail Wahab mengatakan, gejala El Nino memang sangat berdampak terhadap tingkat produksi padi dan beras. Namun, produksi beras nasional pada akhir 2023 masih surplus.

Surplus tersebut diperoleh dari hasil produksi beras sepanjang tahun lalu yang sebesar 30,96 juta ton. Plus tambahan alokasi impor beras sekitar 2,7 juta ton.

“Sehingga kita punya beras di tahun 2023 sebanyak 33,6 juta ton beras. Sementara kebutuhan di tahun 2023 hanya sekitar 30,62 juta ton. Artinya kita masih punya carry over dari 2023 untuk 2024 hampir sekitar 3 juta ton beras,” kata Ismail dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2024, dikutip dari YouTube Kemendagri RI.

BACA JUGA :   ASN Akan Dapat 1 Unit Apartemen Di IKN, Kecuali Yang Jomlo

Sementara pada awal 2024, ia melanjutkan, tambahan stok beras nasional berada di kisaran 1,31 juta ton. Itu berasal dari hasil produksi petani 910 ribu ton plus impor 400 ribu ton.

“Kalau ditambah carry over-nya, maka kita punya sekitar 4,31 juta ton beras. Artinya apa, kalau kita punya 4,31 juta ton beras, kebutuhan kita hanya 2,5 juta ton, harusnya di bulan Januari kita tidak sulit. Artinya beras itu cukup,” terang Ismail.

Soal tren kenaikan harga beras ditambah langkanya beras di pasar ritel mdern ini jelas mengancam ekonomi Indonesia. Kok bisa? Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S Budiman menjelaskan dampak kenaikan harga beras ini.

Untuk Januari saja kontribusi beras terhadap inflasi sebesar 0,64 persen,.sehingga komponen inflasi volatile food meningkat menjadi 7,22 persen.

“Saya sampaikan tiga hal pertama dampak beras ke inflasi, pada bulan Januari kemarin inflasi dia (beras) berdampak 0,64 persen month to month, ini dia bobotnya 3,43 persen kalau pakai SBH 2022 yang baru dikeluarkan BPS. Itulah yang menyebabkan volatile food kita mencapai 7,22 persen inflasinya,” kata Aida dalam konferensi pers di RDG Februari 2024, di Jakarta, Rabu 21 Februari 2024.

Intinya, jika inflasi ini meroket, daya beli masyarakat jelas turun. Indonesia sendiri sebagai negara berkembang, konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Jika konsumsi rumah tangga merosot akibat harga beras mahal, jelas pemerintah akan semakin sulit menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sering dipuji IMF ini.(*)

Sumber:L6