Banda Aceh|Realitas – Aqidah itu harus diwarisi dan dimantapkan kepada para generasi penerus, jika tak ingin mereka tergoda dan pindah ke agama lain, ungkap Ustadz Wardian, MT Rabu (05/04/2023).
Memberikan tausiah singkat usai Shalat Subuh berjamaah di Masjid Al-Zamzam Peunayong, Banda Aceh Dia menambahkan, era kini semua bisa terjadi.
Karena itu kita jangan terpaku pada shalat wajib 17 rakaat sehari semalam saja, melakukan pendalaman aqidah untuk anak cucu sangat perlu agar setelah kita tidak ada di atas bumi ini nanti, jangan sampai anak kita gampang terpengaruh bujuk rayu orang yang datang dari seberang sana.
Menurutnya, dalam kehidupan sehari-hari apa yang rasakan atau dinikmati harus selalu disyukurinya. Termasuk membaca doa di setiap pagi hari atas nikmat dibangunkan kembali oleh Allah SWT setelah mengalami kematian(ketiduran) sesaat semalaman itu.
Penting dilakukan ini, sebab jika ajal datang tidak bisa dimaju atapun dimundurkan sedetik pun, paparnya.
Dalam hal kematian Kita baru saja saksikan beberapa tokoh seperti Prof. Gunawan Adnan Wakil Rektor UIN Arraniry dan Rahmat Sesdis Baitalmal Aceh dan lainnya hanya berselang hari saja telah dipanggil menghadap sang Khaliq.
Ketika menyampaikan tausiahnya ini Ustadz Wardian Ali Sabi mengajak shalat wajib dan shalat sunat lainnya juga jangan disia- siakan. Contoh, Pahala shalat jenazah itu sebesar gunung Uhud.
Katanya lagi selain hubungan secara vertikal dengan Allah SWT, juga dalam hubungan secara horizontal harus selalu diperbaiki ibadah dan aqidahnya
Menyinggung segi kualitas ibadahnya, ada tiga hal paling besar bonus pahalanya. Shalat berjamaah itu paling besar pahalanya dan mengabdi pada kedua orangtua serta jihat fisabilillah.Sebagai pengganti jihad sekarang adalah berdakwah.
Sebaliknya tentang dosa yang paling besar katanya, yaitu meninggalkan shalat, kesyirikan, berzina, riba, berjudi, mabuk-mabukan.
Ustadz Wardian MT juga mengingat, setelah hidupkam di alam fana kita akan menuju ke alam akhirat kelak. Dalam perjalanan menuju ke sana, harus melewati masa dalam kuburan. Pertanyaan atau yang diusut di dalam kubur dengan di Yaumil Mahsyar berbeda. Kala di alam kubur tentang soalan imamuka, kiblatika, nabiuka dan lainnya, di Yaumil Mahsyar melainkan yang dipersoalkan atau ditanyakan awal sekali justeru ibadah kita, diawali tentang soalan shalat kita, puasa, zakat dan lainnya baru kemudian lainnya. (Adnan NS)




