IKLAN YARA

Paus Fransiskus Murka: Pendeta dan Biarawati Nonton Konten P*rno

oleh -28.579 views
Paus Fransiskus Murka: Pendeta dan Biarawati Nonton Konten P*rno

 GOOGLE NEWS

REALITAS – Melihat konten pornografi daring (online) adalah “kejahatan” yang tersebar luas yang bahkan para biarawati dan imam pun tidak asing, kata Paus Fransiskus awal pekan ini.

Berbicara kepada para seminaris, Paus berusia 85 tahun itu meminta setiap calon ulama untuk berpikir apakah mereka “memiliki pengalaman atau tergoda untuk menonton pornografi di dunia digital.”

“Ini adalah sifat buruk yang dimiliki begitu banyak orang, begitu banyak orang awam, begitu banyak wanita awam, dan juga para imam dan biarawati,” kata Paus.

Menekankan bahwa gambar-gambar seperti itu “melemahkan jiwa”, kepala Gereja Katolik Roma meminta semua orang yang dapat menghapusnya dari ponsel untuk melakukannya.

Menurut Katekismus Gereja Katolik, siapa pun yang terlibat dalam memproduksi atau menonton film porno melakukan “pelanggaran berat”.

Melihat konten pornografi daring (online) adalah “kejahatan” yang tersebar luas yang bahkan para biarawati dan imam pun tidak asing, kata Paus Fransiskus awal pekan ini.

Dia menekankan bahwa dia berbicara tidak hanya tentang “pornografi kriminal,” yang menggambarkan, misalnya, pelecehan anak, tetapi juga tentang apa yang disebut porno “normal”.

Pornografi “melanggar kesucian karena menyimpangkan tindakan perkawinan, pemberian pasangan yang intim satu sama lain,” dokumen doktrin gereja menjelaskan.

Sementara itu, laman Instagram Paus yang dikelola oleh tim Takhta Suci menjadi headline di tahun 2020 setelah ‘menyukai’ foto seksi model bikini Natalia Garibotto. ‘Suka’, meskipun dihapus pada hari berikutnya, diapresiasi oleh model.

“Hati yang murni, yang diterima Yesus setiap hari, tidak dapat menerima informasi pornografi ini,” kata Paus Fransiskus.

“Ibuku mungkin membenci foto-foto bokongku, tetapi Paus akan mengetuk dua kali,” katanya dalam sebuah wawancara saat itu.

Berbicara kepada para seminaris, Paus berusia 85 tahun itu meminta setiap calon ulama untuk berpikir apakah mereka “memiliki pengalaman atau tergoda untuk menonton pornografi di dunia digital.” (*)

Sumber; wartaekonomi