IKLAN YARA

Harga LNG Naik, Bisa Jadi Peluang Untuk Devisa

oleh -5.489 views
Harga LNG Naik, Bisa Jadi Peluang Untuk Devisa
Harga LNG Naik, Bisa Jadi Peluang Untuk Devisa
UPDATE CORONA

Jakarta I Realitas – Melambungnya harga batubara di pasar internasional ternyata diiringi dengan kenaikan harga harga gas alam cair Liquefied natural gas (LNG) di wilayah Asia Pasifik.

Hal tersebut terjadi setelah Eropa mengalami krisis energi.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, kenaikan harga komoditas LNG hampir serupa dengan batubara.

Keduanya berpotensi memberi keuntungan bagi Indonesia.

Selain itu, kebutuhan LNG dalam negeri pun relatif bisa terpenuhi dari kemampuan produksi saat ini.

“Sehingga ada yang bisa dimanfaatkan untuk memperoleh devisa,” kata Komaidi, Rabu (13/10/2021).

Menurut Komaidi, di tengah kondisi harga yang melonjak, kebutuhan domestik harus tetap jadi prioritas.

Jika kebutuhan domestik telah mencukupi maka sisanya dimungkinkan untuk diarahkan ke pasar ekspor.

Komaidi melanjutkan, ada sejumlah skema kontrak yang umumnya berlaku untuk LNG.

“Ada yang sudah terkunci dan ada yang masih diindekskan pada harga tertentu,” kata Komaidi.

Sebelumnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) sukses menjual 4 uncommited cargo dari Kilang Bontang ke pasar spot dengan harga cukup tinggi.

Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas Arief S. Handoko mengatakan, penjualan 4 uncommited cargo ini dilakukan pada September 2021 dan mendorong peningkatan penerimaan.

“Dengan rata-rata harga lebih dari 27 dolar AS per MMBTU, dengan estimasi penerimaan sekitar 250 juta dolar AS,” kata Arief, Selasa (12/10).

Di sisi lain, hingga kuartal III 2021 total produksi LNG mencapai 149,5 standar kargo.

Perolehan ini turun tipis 3,85 persen year on year (yoy) dari produksi periode sama ditahun sebelumnya yang sebesar 155,5 standar kargo.

Kata Arief, dari 149,5 standar kargo produksi pada sembilan bulan pertama, sebanyak 105,6 standar kargo diperuntukkan untuk pasar ekspor.

Sementara sisanya sebanyak 43,9 standar kargo dialokasikan untuk pembeli domestik.

“Untuk domestik, sebanyak 42,3 standar kargo (sekitar 96 persen) untuk kelistrikan,” terang Arief.

Sementara sisanya sekitar 1,6 standar kargo digunakan sektor industri termasuk pabrik pupuk. (*)

Source:Trb