IKLAN YARA

Lebih Dari 7.000 Orang Dievakuasi dari Afghanistan ke Qatar

oleh -86.489 views
Lebih Dari 7.000 Orang Dievakuasi dari Afghanistan ke Qatar
UPDATE CORONA

DOHA I MEDIAREALITAS.COM –  Lebih dari 7.000 orang telah dievakuasi dari Afghanistan ke Qatar. Proses evakuasi berjalan tegang, ketika ribuan orang bergegas meninggalkan Kabul setelah Taliban menguasai Afghanistan.

Qatar dan Uni Emirat Arab lalu mendirikan pos-pos untuk penerbangan evakuasi, tak hanya untuk orang Afghanistan, tapi juga warga negara-negara Barat serta penerjemah Afghanistan, jurnalis, dan lainnya.

“Sejak dimulainya operasi internasional, lebih dari 7.000 orang telah dievakuasi dari Afghanistan ke Qatar,” kata seorang pejabat Qatar yang menolak disebutkan namanya kepada AFP.

“Atas permintaan LSM, lembaga pendidikan, dan organisasi media internasional, kami mengevakuasi ratusan karyawan Afghanistan dan keluarga mereka, serta mahasiswi di seluruh negeri,” lanjut pejabat itu.

“Antara lain memfasilitasi evakuasi warga dari Amerika Serikat, Jerman dan Inggris. Upaya evakuasi kami sedang berlangsung,” imbuhnya.

Pejabat Amerika mengonfirmasi, operasi evakuasi sempat terhenti selama sekitar tujuh jam pada Jumat (20/8/2021) karena pangkalan penerima di Qatar penuh sesak. Qatar menekankan, semua orang yang dievakuasi akan disediakan akomodasi dan kebutuhan lainnya yang diperlukan.

UEA juga menjadi pusat evakuasi. Otoritas Perancis dan Inggris memilih Dubai, Abu Dhabi, sebagai titik transit untuk mengevakuasi warganya. Menurut pemerintah, sejauh ini sebanyak lebih dari 8.500 orang telah transit di UEA.

Enam hari setelah Taliban kuasai Afghanistan, arus masyarakat yang mencoba melarikan diri dari negara itu terus meningkat, membanjiri negara-negara lain. Jalan-jalan menuju bandara Kabul tersendat, sementara keluarga-keluarga yang melarikan diri berkerumun di antara kawat berduri yang mengelilingi tanah tak bertuan tidak resmi, yang memisahkan Taliban dari pasukan AS dan sekutunya.

Presiden AS Joe Biden menyebutnya proses evakuasi ini sebagai salah satu pengangkutan udara terbesar dan tersulit dalam sejarah.

Di tengah proses evakuasi itu, sebuah pesawat militer AS terpaksa melakukan pendaratan di Jerman Sabtu (21/8/2021), setelah seorang wanita Afghanistan melahirkan di tengah penerbangan. Pejabat Angkatan Udara AS menyatakan, ibu itu melahirkan bayi perempuan sesaat setelah pesawat mendarat di Pangkalan Udara Ramstein.

Komandan di pesawat kargo C-17 menerangkan, dia memutuskan menurunkan ketinggian supaya nyawa si ibu tertolong. Begitu mendarat di Jerman, tim medis bergegas ke pesawat dan membantu persalinan wanita yang tak disebutkan identitasnya itu. Baik ibu dan putrinya dilaporkan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan kondisi mereka berdua stabil.

Pilih tetap tinggal

Sementara itu, berdasarkan keterangan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, hingga kini ada enam warga Indonesia yang masih berada di Afghanistan dan tidak ikut dievakuasi pulang ke Tanah Air pada Sabtu (21/8/2021) lalu.

Retno menuturkan tiga WNI yang tak ikut pesawat evakuasi TNI Angkatan Udara kemarin merupakan pekerja organisasi internasional. Ketiga WNI itu disebut mengikuti program evakuasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi internasional lainnya.

“Sementara itu, ada tiga WNI lainnya yang menikah dengan warga Afghanistan memutuskan tinggal di Afghanistan,” kata Retno dalam wawancara dengan CNNIndonesiaTV pada Sabtu (22/8/2021).

Pemerintah Indonesia menggunakan pesawat TNI AU mengevakuasi 33 orang dari Afghanistan. Sebanyak 33 orang itu terdiri dari 26 WNI, lima warga Filipina, dan dua warga Afghanistan yang merupakan suami dari WNI yang dievakuasi.

Retno menuturkan proses evakuasi WNI di Afghanistan ini dinilai menjadi yang terberat selama karirnya sebagai diplomat RI. Sebab, ada beberapa kendala yang terjadi saat proses evakuasi berjalan mulai dari penundaan izin mendarat hingga WNI kesulitan masuk Bandara Kabul.

Retno menuturkan Indonesia semula diberikan slot untuk mendaratkan pesawat evakuasi di Bandara Kabul yang saat ini dikelola pasukan NATO pada 19 Agustus. Namun, sempat ditunda sebelum akhirnya diizinkan mendarat dua hari setelahnya.

Selain itu, Retno mengatakan proses evakuasi memakan waktu lama karena menunggu para penumpang, terutama WNI, sampai ke bandara dari KBRI di Kabul.

“Di saat normal, KBRI ke Bandara Kabul itu hanya memakan waktu 40 menit saja, kemarin saya cek, para WNI butuh 5-6 jam untuk sampai ke bandara karena berbagai pemeriksaan di lapangan,” kata Retno.

Sumber : kompas