IKLAN YARA

Korban Jiwa Gempa Haiti Nyaris 2.000 Orang, Banyak yang Belum Ditemukan

oleh -63.489 views
UPDATE CORONA

Jakarta I Realitas – Jumlah korban tewas akibat gempa bumi dahsyat yang kembali mengguncang Haiti Sabtu pekan lalu bertambah menjadi 1.941 orang.

Petugas penyelamat berhasil mengevakuasi 34 orang yang masih bertahan di bawah reruntuhan, tapi masih banyak yang belum ditemukan setelah gempa berkekuatan 7,2 pada Skala Richter itu.

Pencarian korban terhambat karena hujan deras selama beberapa hari terakhir akibat Badai Tropis Grace.

Sedikitnya 10.000 orang luka, membuat rumah sakit kewalahan.

PBB mengatakan sekitar 500.000 anak saat ini tak memiliki atau terbatas aksesnya terhadap tempat penampungan sementara, air bersih dan makanan.

“Kehilangan yang dialami keluarga-keluarga di Haiti sudah tak terhitung lagi karena gempa, sekarang mereka benar-benar bertahan dengan kedua kaki menapak pada genangan banjir,” kata Bruno Maes, perwakilan Unicef di Haiti.

Banyak yang tinggal di tenda darurat yang didirikan di lapangan sepak bola di kota Les Cayes–salah satu wilayah yang paling parah terdampak gempa.

“Kemarin [Selasa] malam, saya tinggal berlindung dekat sebuah gereja, tapi ketika saya mendengar tanah berguncang lagi, saya lari kembali ke sini,” kata penduduk setempat, Magalie Cadet kepada kantor berita AFP.

BACA JUGA :   Revisi UU ITE dan 3 RUU Lain Disepakati Masuk Prolegnas Prioritas 2021

Dia mengatakan, sangat sedikit bangunan yang masih berdiri di Les Cayes, sehingga orang-orang harus tinggal di jalan-jalan.

Warga Haiti yang tinggal di daerah terpencil mengatakan belum mendapatkan bantuan.

Program Pangan Dunia di bawah PBB (WFP) mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan otoritas Haiti untuk memberikan bantuan kepada korban gempa.

Dan, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mengatakan, bahwa telah bernegosiasi dengan geng bersenjata – yang sebelumnya menyerang orang-orang yang pergi ke Les Cayes dari ibu kota.

Mereka berjanji akan memberikan akses jalan bagi angkutan bantuan.

Tapi hujan deras yang dibawa Badan Tropis Grace telah membuat banyak jalan di daerah pegunungan tidak dapat dilalui.

Di bagian barat daya Haiti tampaknya mengalami kerusakan paling buruk akibat gempa, khususnya di sekitaran Les Cayes.

Bencana gempa itu menambah masalah yang dihadapi negara miskin itu, yang telah porak-poranda akibat krisis politik menyusul pembunuhan presiden akhir bulan lalu.

Perdana Menteri Ariel Henry yang saat ini memimpin negara sampai pilpres dilaksanakan, telah menyatakan keadaan darurat nasional selama satu bulan, dan mendorong warganya untuk “menujukkan solidaritas”.

BACA JUGA :   Mengaku Sebagai Polisi, Tiga Pelaku Pemeras Warga Diringkus Petugas

Menurut Badan Survei Geologi AS (USGS) pusat gempa terletak sekitar 12 km dari kota Saint-Louis du Sud.

Namun guncangannya terasa hingga ke Ibu Kota Port-au-Prince, yang sejauh 125 km, dan juga negara-negara tetangga Haiti.

“Banyak rumah hancur, banyak yang meninggal dan lainnya di rumah sakit,” kata Christella Saint Hilaire, yang tinggal dekat pusat gempa, kepada kantor berita AFP.

Perdana Menteri Ariel Henry, sebagai pejabat tertinggi di Haiti sejak presidennya dibunuh Juli lalu, mengatakan tim telah dikerahkan untuk melakukan bantuan darurat.

“Hal terpenting sekarang adalah menyelamatkan sebanyak mungkin orang yang mungkin masih terjebak reruntuhan.

Kami dengar bahwa rumah sakit setempat, terutama di Les Cayes, sudah terlalu banyak menerima korban luka,” ujarnya, yang mengaku telah terbang ke Kota Cayes.

USGS sebelumnya memperingatkan bahwa gempa bumi itu bisa menimbulkan ribuan korban jiwa dan luka-luka. Gempa susulan juga dilaporkan terjadi di lokasi, termasuk yang berkekuatan 5,8 SR.

Frantz Duval, pemimpin redaksi surat kabar Le Nouvelliste, mencuit bahwa dua hotel termasuk bangunan-bangunan yang sudah hancur di kota Les Cayes. Rumah sakit setempat sudah kewalahan menampung pasien.

BACA JUGA :   Densus 88 Tangkap Terduga Teroris Abu Rusydan, Pentolan Tim Lajnah

“Secara perlahan, kuat dan selama beberapa detik bumi berguncang di Haiti pada 14 Agustus 2021 sekitar pukul 8.30,” cuitnya di Twitter.

“Jalanan penuh dengan teriakan. Banyak orang mencari kerabat mereka, harta benda, pertolongan medis, dan air,” kata Uskup Agung Abiade Lozama, pemimpin gereja Episkopal di Les Cayes kepda The New York Times.

Naomi Verneus, warga berusia 34 tahun di Port-au-Prince, kepada Associated Press mengaku dibangunkan oleh gempa dan ranjangnya pun bergoyang.

“Saya bangun dan tidak sempat pakai sepatu. Kita telah mengalami gempa 2010 dan yang bisa saya lakukan cuma berlari.

Saya kemudian ingat dua anak dan ibu saya masih di dalam. Tetangga saya datang dan meminta mereka segera keluar. Kami pun berlarian ke jalan,” ujarnya.

Haiti telah diterpa rangkaian bencana alam sebelumnya, termasuk Badai Matthew pada 2016.

Peristiwa gempa kuat 2010 lalu menelan korban jiwa lebih dari 200.000 orang. Gempa juga mengakibatkan kerusakan parah terhadap infrastruktur dan ekonomi negara. (*)

Sumber: Dtc