Menlu: Isu Demokrasi dan HAM, Semakin Menjadi Perhatian di Dunia 2021

oleh -147.579 views

Jakarta I Realitas – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyebut beberapa isu yang akan menjadi perhatian dunia. Mulai dari demokrasi, hak asasi manusia (HAM), hingga lingkungan hidup.

“Isu demokrasi, hak asasi manusia dan lingkungan hidup diperkirakan akan semakin menjadi perhatian dunia,” kata Retno dalam paparan tahunan Kemlu yang ditayangkan virtual, Selasa (06/1/2021).

Selain itu, Retno juga berbicara mengenai digitalisasi yang akan memberikan pengaruh dalam aktivitas ekonomi ke depan. Meski begitu, digitalisasi juga memberikan tantangan, yakni meningkatnya kejahatan cyber.

“Digitalisasi akan banyak memberikan pengaruh pada aktivitas ekonomi ke depan. Di saat yang sama digitalisasi juga memberikan tantangan kejahatan cyber yang semakin meningkat dan peluang information infrastructure breakdown,” ujarnya.

BACA JUGA :   Dua Curanmor Asal Sumut Dibekuk Polisi Di Kota Langsa

Bicara mengenai tantangan saat ini, Retno menyisipkan harapan agar pandemi COVID-19 segera selesai. Vaksinasi yang akan dimulai di RI disebutnya akan menjadi optimisme baru ke depan.

“Kita berharap secara bertahap pandemi COVID-19 akan dapat teratasi. Ketersediaan beberapa vaksin menimbulkan optimisme baru,” ucapnya.

Meski begitu, kata Retno, kesetaraan akses vaksin di dunia saat ini masih menjadi tantangan. Dia berharap seluruh dunia dapat bergotong royong kerja sama untuk menyetarakan vaksin Covid, sehingga pertumbuhan global tidak terhambat.

“Namun kesetaraan akses terhadap vaksin bagi semua negara menjadi tantangan terutama di kuartal pertama dan kedua 2021.

BACA JUGA :   Pemerintah Aceh-Haji Uma, Bantu Pemulangan Jenazah Suheri

Vaksin juga menimbulkan harapan mulai terungkitnya kegiatan ekonomi. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global dapat mencapai 5,2 persen bahkan untuk kawasan Asia mencapai sebesar 6,9 persen,” ucapnya.

“Di sisi lain, kita masih melihat kekhawatiran berlanjutnya rivalitas antara negara besar. Jika tidak terdapat niatan negara-negara tersebut untuk mengurangi rivalitas dan lebih memajukan kerja sama maka upaya penanganan pandemi dan pertumbuhan ekonomi global dapat terhambat.

Diperlukan collective global leadership yang kuat, recover together, recover stronger through colletive global leadership,” lanjut Retno. (Dtc)