Singgung Macron, Mahfud Tegaskan Islam Agama Kasih Sayang

oleh -102.489 views
Presiden Prancis Emmanuel Macron. Foto: AFP

IDUL FITRI

Jakarta I REALITAS – Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menegaskan penghinaan terhadap kepercayaan tertentu tidak dapat diterima. Simbol maupun penyebar agama harus dihormati, terlebih oleh pejabat setingkat kepala negara.

“Macron (Presiden Prancis Emmanuel Macron) harus tahu bahwa agama Islam adalah agama rahmah (kasih sayang),” tegas Mahfud melalui akun media sosialnya, @mohmahfudmd, Kamis, 29 Oktober 2020.

Mahfud menyoroti sikap Macron pada Jumat, 23 Oktober 2020, yang menyudutkan agama Islam dengan membiarkan penerbitan ulang karikatur Nabi Muhammad SAW oleh majalah satire Charlie Hebdo. Sikap ini menyulut reaksi dari penjuru dunia karena dinilai melecehkan Islam.

Menurut Mahfud, Macron tidak laik menunjukkan sikap anti terhadap satu kelompok agama, terlebih yang hidup subur di negaranya. Macron selaku kepala negara seharusnya memahami makna ajaran dan simbol agama di dunia.

“Pemeluk agama apa pun akan marah kalau agamanya dihina. Kalau tak paham itu berarti dia mengalami krisis gagal paham,” ungkap mantan Ketua Mahkamah Konsitusi (MK) itu.

BACA JUGA :   Kelurahan Sudimara Timur, Ciledug Kota Tangerang Salurkan BLT Tahap II

Anggota Komisi I DPR Sukamta juga mengecam Macron karena membahayakan upaya membangun dunia yang harmonis. Simbol agama hal sakral bagi pemeluknya. Bagi umat Islam, Nabi Muhammad SAW sosok paling penting.

“Ucapan Macron jelas melukai hati umat Islam di seluruh dunia, kita sangat marah atas penghinaan ini. Macron telah memantik islamofobia, juga mendorong kebencian terhadap pemeluk agama, ucapannya sesungguhnya telah menodai prinsip-prinsip kebebasan dan nilai-nilai universal,” papar Sukamta.

BACA JUGA :   LSM Pijar Keadilan Lampung Timur Menyoroti Pekerjaan Lapen Desa Toto Projo Diduga Tidak Sesuai Dengan Spek Dan Terkesan Asal Jadi

Beberapa analisis menyebut tujuan Macron agar terpilih kembali pada 2022 sehingga membuat isu soal keamanan yang selama ini menjadi titik lemahnya.

Hal ini, kata Sukamta, menunjukkan betapa kerdilnya pikiran Macron karena menjual isu agama untuk kepentingan politik pribadi.

“Kita berharap pemerintah Indonesia juga proaktif untuk berkomunikasi dengan negara-negara Organisasi Kerja sama Islam (OKI), mendorong ada pernyataan bersama mengecam pernyataan Macron,” jelas Sukamta. (*)

Sumber : medcom.id