Desa Cilebut Barat, Sama Sekali Tak Mendapatkan Jatah Bantuan Sosial (bansos)

oleh -108.489 views

IDUL FITRI

Bogor I Realitas – Desa Cilebut Barat, sama sekali tak mendapatkan jatah bantuan sosial (bansos).

Warga di RW 14, Desa Cilebut Barat, sama sekali tak mendapatkan jatah bantuan sosial (bansos). RW 14 menaungi semua warga di Perumahan Pesona Cilebut 1. Lokasinya pun tak jauh dari kantor desa.

Salah seorang warga, Jaenal mengakui, belum pernah mendapatkan bansos yang dijanjikan pemerintah. Ia terpaksa gigit jari, hanya bisa memandangi lalu-lalang warga yang menenteng kantong maupun beras bansos.

“Padahal kita sudah diambil datanya, terkait siapa yang dapat untuk bansos itu, karena secara ekonomi terdampak juga. Tapi, ini sudah empat bulan berlalu, kami tidak dapat,”

Warga lainnya, Elias mengakui, polemik itu telah lama terpendam di warga kompleks tersebut. Mereka baru menyadari ada yang salah dengan alur pendataan. Apalagi, pengurus RT telah aktif melakukan pendataan dan komunikasi dengan warga.

Ketua RT 02, Wilman mengatakan, pengajuan data untuk warga-warga yang terdampak pandemi telah dilakukan, sejak Juni.

Ia mengaku, ada keterlambatan pendataan sehingga baru terlaksana pada menit-menit terakhir. Sebanyak enam KK di RT-nya yang seharusnya berhak menerima bansos tersebut.

Itu jumlah yang kita ajukan lewat bantuan Sapawarga (dari pemprov) ya. kalau yang bansos bupati memang kita tidak masuk dalam kategori. Saat pertama tidak keluar, harapannya keluar yang kedua. Ternyata kita tidak dapat,” tuturnya.

Wilman mendapatkan informasi, penyebab tak turunnya di masa awal pandemi karena data yang dipakai desa merupakan database tahun 2014.

Warga di perumahan itu memang tak termasuk dalam bansos jika mengacu pada data lama. Hanya saja, kondisi pandemi membuat sebagian warga ikut terdampak dan mempengaruhi kondisi ekonomi.

Saya tidak tahu teknisnya kenapa data itu hanya RW 14 saja yang tidak ada. Masalah rilis atau tidak tergantung dari desa keluar.

Soalnya kata (pemerintah) desa sudah dikirimkan semuanya. Asumsinya, didata online dari pihak desa, kita kirimkan dalam bentuk fisiknya, nah mereka yang memproses,” resahnya.

Sekretaris Desa Cilebut Barat, Kohar mengakui, RW 14 sempat bermasalah dan tidak mendapatkan bansos dalam bentuk apapun. Warga, kata dia, telah melaporkan langsung keluhan mereka di kantor desa.

Kohar mengakui, sejauh ini hanya RW 14 yang melaporkan kejadian tak tercover bansos. Sedangkan RW lainnya belum ada laporan apapun.

Saya tidak tahu apakah memang mereka tidak didaftarkan atau bagaimana, karena kalau terkait bansos itu sejak awal kami sudah minta data-data warga ke tingkat RW, mulai dari tahap pertama.

Malah waktu yang diberikan kepada kita juga terbatas dan mepet. Tapi tetap sudah diinformasikan ke RW-nya,” ungkapnya.

Kohar tak ingin berspekulasi terlalu jauh terkait iktikad pihak RW dalam menyelesaikan persoalan warganya itu. Hanya saja, seharusnya pihak RW bisa lebih memprioritaskan input data terkait bansos warganya.

Ketua RW 14, Wibowo membenarkan, hanya wilayahnya yang tidak mendapatkan bantuan. Padahal, kata dia, ada 75 KK yang diajukan untuk mendapatkan bansos sebelumnya. Ternyata, kata dia, data yang dipakai pihak desa yakni database dari tahun 2014

Kami sudah tindaklanjuti, kasih data. Pada Agustus semua RT RW diundang lagi untuk mengajukan data kembali terkait warga yang terdampak Covid-19.

Saya berpikir ngapain lagi saya data ulang, kan bisa pakai data yang sebelumnya (75 KK) itu. Saya ngambil simpel saja kenapa mesti didata ulang,” kata dia.

Menurutnya, seharusnya pihak desa yang input data. “Karena kan (aplikasi) Sapa Warga juga saya bingung, kenapa tidak disosialisasikan sampai saat ini.

Memang kami (RW) menerima handphone untuk Sapa Warga, tiba-tiba handphone rusak, sampai sekarang juga belum ada penggantinya.

Itupun saya instal lagi (Sapa Warga) setelah diminta sama RT (karena dianggap penginputan dari situ). Tak tahunya, penginputan yang Sapa Warga kan ditutup pas Juli kemarin,” pungkasnya. (Deddy Karim)