11819 KALI DIBACA

3 Perempuan WNI Ditangkap atas Tuduhan Terorisme di Singapura Sudah Ditemui KBRI

3 Perempuan WNI Ditangkap atas Tuduhan Terorisme di Singapura Sudah Ditemui KBRI
example banner

JAKARTA I Realitas  – Kasus penangkapan tiga perempuan WNI di Singapura atas tuduhan terorisme turut ditangani
Pemerintah RI. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) menerima informasi dari Kementerian Dalam Negeri Singapura (MHA) terkait penangkapan tiga perempuan pekerja rumah tangga itu.

Mulanya otoritas Singapura menangkap satu orang yakni berinisial SS, kemudian disusul tiga PRT lainnya di waktu terpisah yakni AA (33), RH (36), dan Tu (31).

Keempatnya ditangkap berdasarkan Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri (Internal Security Act) Singapura atas tuduhan membantu pendanaan untuk mendukung kegiatan terorisme.

“Menindaklanjuti informasi tersebut, KBRI Singapura telah meminta akses kekonsuleran,” ujar Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu RI, Judha Nugraha, di Jakarta.

Dia menambahkan, WNI berinisial SS sudah ditemui pihak KBRI Singapura pada 13 September 2019.

Berdasarkan hasil penyelidikan, SS tidak memiliki hubungan aktif dengan jaringan terorisme sehingga dia dibebaskan dan langsung direpatriasi ke Indonesia pada 15 September 2019.

Sedangkan RH, TM, dan AA telah dikunjungi staf KBRI Singapura di Penjara Changi pada 19 September 2019.

Saat ini, ketiganya masih ditahan di penjara tersebut dan mendapat perlakuan baik, diberi makan tiga kali sehari, serta diizinkan beribadah.

“KBRI Singapura akan terus memantau kasus ini,” kata Judha.

Menurut MHA, ketiganya sudah bekerja di Singapura antara 6 dan 13 tahun. Selama periode itu mereka saling mengenal, sebelum menjadi radikal pada 2018.

AA dan RH pertama kali bertemu di acara sosial dan terus berinteraksi di hari libur. Sementara Tu terhubung dengan mereka melalui media sosial.

“Seiring waktu, mereka mengembangkan jaringan kontak online asing pro-militan, termasuk ‘pacar online’ yang berbagi ideologi pro-ISIS,” bunyi pernyataan MHA.

AA dan RH juga berniat berangkat ke Suriah dan bergabung dengan kelompok ISIS serta siap untuk mengangkat senjata dan menjadi pelaku bom bunuh diri. Sementara Tu ingin tinggal di Suriah bersama para pejuang ISIS.

Namun karena kelompok ISIS di Suriah dikalahkan, AA dan RH didorong oleh kontak online mereka untuk pindah ke Filipina selatan, Afghanistan, atau negara Afrika, untuk bergabung dengan sisa-sisa kelompok ISIS.

Mereka juga menyumbang dana untuk kelompok di luar negeri untuk tujuan terorisme, seperti mendukung kegiatan ISIS dan kelompok teroris yang berbasis di Indonesia yakni Jamaah Anshorud Daulah (JAD).

Ketiga perempuan diradikalisasi pada tahun lalu setelah menemukan materi online terkait dengan ISIS.

Sejak 2015, ada 19 pekerja rumah tangga asing, termasuk tiga dari Indonesia, yang teradikalisasi di Singapura. Namun tidak satu pun dari mereka punya rencana melakukan tindakan kekerasan di negara itu. Meski demikian MHA menganggap pemikiran radikal dan hubungan mereka dengan kelompok teroris di luar negeri bisa menjadi ancaman keamanan bagi negara.(IN/Red)

 

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS