15219 KALI DIBACA

Organisasi Profesi Anggap Meninggalnya Pasien Bukan Kesalahan Dokter, kuasa Hukum Korban Bakal Lapor Jokowi

Organisasi Profesi Anggap Meninggalnya Pasien Bukan Kesalahan Dokter, kuasa Hukum Korban Bakal Lapor Jokowi
example banner

BANDAR LAMPUNG I Realitas – Kuasa hukum almarhum Upik Roslina, berencana mengirimkan surat ke Kementrian Kesehatan dan Presiden Joko Widodo terkait putusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), terkait putusan tidak bersalah kepada empat dokter teradu.

“Pertama kami kecewa, sebab dalam keterangan saksi ahli, yang dibacakan jelas ada unsur kelalaian atau pelanggan disiplin, seperti almarhum Ibu Upik dan keluarga tidak pernah mendapatkan informasi penjelasan diagnosis serta tata cara tindakan medis dari dokter. Kemudian teradu (dokter) tidak tanggap dan mengetahui gejala awal kejelasan sindrom Steven Johnson, dan disebut campak, serta tidak melakukan pertolongan darurat atas dasar peduli kemanusiaan karena para tanggal 10 2016 pasien datang dengan wajah bengkak, mata merah namun disebut terkena campak,” ujar kuasa hukum korban dan keluarga Hery Rio Saputra, di kantor Lembaga Advokasi Damar, Rabu (24/7/2019).

Langkah akan menyurati Presiden ditempuh bukan tanpa alasan. Pertama mereka kecewa dengan keputusan tersebut, kemudian pihaknya mengkritisi persidangan yang dilakukan oleh Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) yang tidak transparan. Pihak kuasa hukum, wartawan dan unsur lainnya dilarang memoto, merekam atau menanyakan nama para majelis pimpinan sidang.

Bahkan pihaknya tidak diberikan hasil putusan/salinan, dengan alasan harus mengirimkam permintaan dulu ke MKDKI.

“Ini sebagai bahan evaluasi terhadap penanganan medis ke depannya, dan pola kerja MKDKOI yang tidak transparan, seharusnya ada lembaga di luar yang melakukan pengawasan terhadap dokter, bukan dari instansi yang sama, jadi kan terkesan melindungi,” katanya.

Rencana menyurati pun akan dilakukan setelah pengadu mendapatkan salinan putusan. “Kami awalnya kan memang melapor kan perkara ini ke Mapolresta Bandar Lampung, namun 2017 penyelidkan dihentikan karena belum ada unsur pidananya, makanya kita bawa ke MKDKI untuk pelanggaran disiplin, tapi sama saja,” paparnya.

Diberitakan sebelumnya, Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), mengadakan sidang pelanggaran disiplin, terkait perkara dugaan kesalahan pemberian obat di RS Urip Sumohardjo, pada Juni 2016. Pasien almarhum Upik Roslina, warga Perumnas Way Halim, yang meninggal 9 September 2016.

Sebelumnya korban sempat dirawat pada 24 Juli hingga 3 Agustus 2016, lalu mulai dirawat kembali pada 11 Agustus. Awalnya, ia mengalami masalah pada mata dan syaraf. Dokter Spesialis Syaraf Suharsono memintanya kembali untuk kontrol pada 8 Agustus. Namun, tangan dan sebagian badan Upik terdapat bintik-bintik merah pada 7 Agustus. Pihak keluarga menduga kondisi Upik makin memburuk karena pemberian obat antikejang.

Dalam sidang pelanggaran disiplin tersebut, terdapat empat orang majelis Pemeriksa disiplin yang di pimpin Dr. Dody Firmanda, pada Selasa (16/7/2019) di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Lampung.

Sidang tersebut, Berdasarkan Surat Konsil Kedokteran Indonesia Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia, Nomor 722/U/MKDKI/7/2019, akan dilakukan Sidang Pembacaan putusan nomor registrasi atas pengaduan : 08/P/MKDKI/III/2017 dengan empat dokter terjadi yakni Su, Ri, HM, dan Yu.

Dalam amar putusan sidang tersebut, keempat dokter yang merawat Upik tidak terbukti melakukan pelanggaran terkait disiplin kedokteran, dan telah menyampaikan laporan secara menyeluruh ke pihak keluarga.

Informasi yang didapat wartawan dalam sidang tersebut, majelis sempat membacakan tata tertib, para peserta tidak diperkenankan merekam, mengambil foto, hingga mewawancarai majelis.

“Kami kecewa dengan putusan tersebut, karena dari pemeriksaan saksi-saksi kan kami duga ada kelalaian. Majelis pun membacakan keterangan saksi ahli, kalau penyakit Steven Jhonson itu bertahap, ada proses pemeriksaan. Keluarga sudah lapor ke dokter malah ditanggapi dengan penyakit campak, yang dengan usia korban yang sudah lansia sepertinya tidak mungkin. Bahkan, selama dirawat tidak sama sekali ditempatkan di ruang isolasi,” katanya.(Kabardaerah)

 

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS