14819 KALI DIBACA

Napi Cabuli 50 Anak Lewat Sosial Media

Napi Cabuli 50 Anak Lewat Sosial Media
example banner

JAKARTA I Realitas – Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri mengimbau masyarakat menerapkan tips ‘KETAPEL’ guna mencegah terjadinya pencabulan anak melalui media sosial.

Hal ini merujuk pada kasus narapidana berinisial TR (25) yang melakukan pencabulan terhadap 50 lebih anak melalui media sosial.

Kanit IV Subdit I Dirtipidsiber Bareskrim Polri, AKBP Rita Wulandari Wibowo, mengatakan ‘KETAPEL’ ini penting diterapkan oleh orang tua kepada anak-anaknya.

Tips pertama, ‘K’ yakni melakukan pengawasan terhadap gadget anak di media sosial.

“Kontrol gadget anak untuk mengetahui aktivitasnya di medsos,” ujar Rita, di Bareskrim Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (22/7/2019).

Kedua, ‘E’ yakni empati.

Orang tua diminta untuk membangun kedekatan emosional dengan anak.

Rita menyebut orang tua harus membatasi anak dari gadget, kemudian meluangkan waktu mendengarkan keluhan, pertanyaan dan membuka rahasia sang anak.

“Lalu ‘T’ adalah tahan emosi saat mendengar cerita pahit atas peristiwa yang dialaminya; ‘A’ yakni amankan foto, video, percakapan (yang disimpan dan di-capture), nomor telepon atau WA, nama akun, email dan link url orang asing,” ucapnya.

Kemudian ‘P’ adalah untuk Password, dimana orang tua diminta agar gadget anak diamankan dengan password dan memprivat akun medsosnya.

Dilanjutkan dengan ‘E’ yakni edukasi di rumah dan di sekolah tentang etika di medsos dan bijak berinternet.

“Terakhir, ‘L’ yaitu Lapor, orang tua diminta melapor ke patrolisiber.id jika anak mengalami online grooming dan datang ke Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) di Polres atau P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) jika mengalami kekerasan seksual,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri meringkus pelaku pencabulan anak yang berinisial TR (25) melalui media sosial atau grooming.

Tersangka sendiri sebenarnya adalah narapidana yang tengah menjalani hukuman bui akibat kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur.

Ia baru menjalani vonis 2 tahun dari putusan 7 tahun 6 bulan.

Wadirtipidsiber Bareskrim Polri, Kombes Pol Asep Safrudin, mengatakan awal mula kasus ini ditelusuri berasal dari laporan KPAI tentang adanya guru yang mengadu akun media sosialnya dipalsukan.

Berdasarkan penyelidikan, tersangka TR ternyata membuat akun palsu yang serupa dengan guru tersebut. Bermodalkan mengambil foto seorang guru di akun Instagram, tersangka lalu membuat akun baru dengan mengatasnamakan guru tersebut.

“Tersangka melakukan profiling, ibu guru x ini follower-nya di IG ada berapa banyak, yang anak-anak ada berapa banyak, kemudian setelah tersangka mendapatkan akun anak, di-follow sehingga anak ini jadi followers akun palsu,” ujar Asep, di Bareskrim Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (22/7/2019).

Kemudian, tersangka mulai menghubungi para murid guru tersebut via Direct Message (DM) untuk meminta nomor WhatsApp dari masing-masing korban.

Setelahnya, kata Asep, tersangka meminta para korban melakukan sejumlah perintah tertentu hingga mengirim foto atau video cabul melalui aplikasi percakapan WhatsApp itu.

“Setelah berkomunikasi, tersangka memerintahkan ke anak untuk melakukan kegiatan untuk melakukan apa yang diperintahkan. Apa yang diperintahkan? Yaitu membuka pakaian kemudian lebih dari itu si anak disuruh menyentuh bagian intimnya,” ucapnya.

Menurutnya, dari penelusuran tim Siber Bareskrim ada 50 anak yang telah berhasil diidentifikasi menjadi korban. Namun masih banyak pula yang belum teriidentifikasi. Pasalnya, ada lebih dari 1.300 foto dan video cabul yang dimiliki oleh tersangka.

“Hasil penelusuran lebih dari 1.300 dalam akun email-nya tersangka ada 1.300 foto dan video, semua anak tanpa busana, yang sudah teridentifikasi ada 50 anak dengan identitas berbeda,” tandasnya.

Atas perbuatannya, kepolisian menjerat tersangka dengan Pasal 82 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Pasal 29 UU Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Pornografi dan Pasal 45 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp 5 miliar.(Tribun)

 

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS