24719 KALI DIBACA

Kontroversi Acara Volcano Floating Party, Joget Dan Minum Di Atas Danau Toba

Kontroversi Acara Volcano Floating Party, Joget Dan Minum Di Atas Danau Toba
example banner

Danau Toba I Realitas – Akun Instagram Volcano Floating Party mengunggah foto yang memperlihatkan beberapa orang asing tertawa sambil memegang gelas layaknya orang berpesta.
Volcano Floating Party adalah sebuah paket wisata di atas Danau Toba yang menuai kontroversi. Sebagian menilai, pesta di atas danau purba tidak etis karena danau tersebut memiliki nilai sakral. Namun ada yang menilai jika hal tersebut menjadi daya tarik yang lain untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di Danau Toba. Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan telah menyejajarkan Danau Toba dengan destinasi wisata unggulan lain seperti Mandalika, Labuan Bajo dan Borobudur.
Halasan Maruli Manurung atau yang dikenal dengan Hamlet kepada Kompas.com bercerita jika dia adalah ‘orang setempat’ yang menggagas boat party bersama dua rekannya yang berasal dari Spanyol. Dua rekannya tersebut pernah berkunjung ke Danau Toba lima tahun yang lalu dan setahun terakhir kembali. Kemudian mereka membahas tentang wisata di Danau Toba. Sebagai pemuda yang ingin pariwisata di daerahnya berkembang, Hamlet mengusulkan ide antara lain jungle track dan boat party. “Dua kawan saya itu ternyata tertarik dengan boat party. Kemudian mereka banyak membantu baik dari pormosi, desain, hingga materi juga mereka bantu,” katanya. Menurutnya Volcano Floating Party adalah salah satu acara untuk menarik wisatawan datang ke Danau Toba dengan melihat sunset (matahari terbenam) di arah Sipolha. Acara itu dimulai dari jam 17.00 WIB dan berakhir pukul 22.00 WIB dan hanya digelar pada hari Sabtu. Acara ini digelar pertama kali pada bulan April 2019 lalu. “Itu hanya untuk awal dan promosi saja. Baru dimulai lagi di bulan Juli ini lah, sampai Agustus nanti. Ini kita kan masih merintis,” katanya.
Hamlet bercerita jika di acara tersebut juga ditampilkan tarian Batak dengan durasi antara 30 menit hingga satu jam. Selain itu juga digelar persembahan untuk Danau Toba. Dia yang mengaku sebagai orang Batak sangat mengerti adat dan aturan serta kesakralan Danau Toba. “Saya kan orang setempat. Saya sangat percaya bahwa Danau Toba sakral. Saya juga percaya kalau kita sopan di tempa sakral, maksudnya, minum di tempat itu, ber-dance di situ, kita juga ada Batak dance. Ada tuak, tapi juga tidak akan mengganggu kesakralannya,” katanya.
Menurutnya, selama ini yang dilakukan jauh lebih sopan dan tidak melanggar aturan. “Itu bukan penari telanjang, hanya menari jadi positif. Ini kan ada dance party ini bukan prostitusi. Hanya bayangkanlah kita manortor di pesta, minum sedikit tuak. Begitu lah di kapal itu. Tuak itu kan manfaatnya bukan hanya untuk mabuk, tapi menghangatkan. Karena di kapal itu juga dingin,” katanya. Namun dia mengakui jika bahwa di kapal milik pemerintah tersebut, dijual minuman ringan, makanan, serta minuman beralkohol rendah. Untuk hiburan juga ada sajian musik dari disc jokey yang dibawakan oleh salah satu temannya.
Kontroversi


Sony mahasiswa perguruan tinggi swasta di Medan, menilai pesta pora di atas danau purba itu tidak etis karena danau tersebut memiliki nilai sakral. Apalagi pesta di atas kapal dilakukan dengan meminum minuman keras. “Istilahnya, apakah pantas kegiatan seperti itu dilakukan di atas danau yang orang banyak juga tahu itu sakral. Mistisnya juga ada. Saya rasa itu tidak perlu ada,” ujar pria yang mengaku lahir di Balige.
Warga lain, Patar Hutagalung mengatakan lebih baik memasarkan wisata Danau Toba dengan kegiatan positif. Dia mencontohkan lebih baik menampilkan kesenian daerah dibandingkan musik-musik DJ. “Kan bule-bule pasti lebih suka musik tradisional daripada musik DJ ketika mereka di daerah yang kental dengan nuansa adat dan budayanya,” katanya.
Sementara Ojak Manalu, Direktur Rumah Karya Indonesia mengatakan, apa yang dilakukan di Volcano Floating Party tidak ada yang salah. Dia bercerita jika temannya pernah ikut dalam event tersebut dan tidak menemukan hal berlebihan. Menurutnya, justru yang dilakukan dapat menjadi daya tarik wisatawan asing berkunjung ke Danau Toba. “Itu kan yang buat orang-orang situ. Orang-orang batak juga, jadi mereka sudah sangat tahu lah adat atau aturan. Tak mungkin mereka membuat sesuatu yang bisa merugikan mereka. Itu dapur dan periuk mereka,” katanya.
Ia juga mengatakan untuk ikut kegiatan tersebut, wisatawan harus merogoh kocek sebesar Rp 300.000. Artinya, acara itu sangat segmented dan tidak akan ada anak-anak yang ada ikut di dalamnya. Jika mau blak-blakan, lanjut dia, ada di satu tempat terdapat warung remang-remang yang siapa saja biasa masuk tanpa harus mengeluarkan uang ratusan ribu. “Lagi pula mereka kan menggunakan kapal pemkab, artinya ada income di situ sehingga kapal itu tidak nganggur. Setiap Sabtu dari jam lima harus standby untuk itu. Saya pikir ini positif lah. Sepanjang tidak berlebihan dan bisa menjawab kekhawatiran-kekhawatiran orang,” katanya.(Kompas)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS