25219 KALI DIBACA

Iran Ingin Bekerja Sama Dengan Aceh Di Bidang Minyak Kelapa Sawit

Iran Ingin Bekerja Sama Dengan Aceh Di Bidang Minyak Kelapa Sawit
example banner

 

JAKARTA I Realitas – Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Imaduddin Abdullah, mengatakan rencana kerja sama Aceh dan Iran di bidang minyak kelapa sawit akan semakin memperluas pangsa pasar komoditas tersebut di tingkat internasional. «Saya melihat potensinya cukup besar karena beberapa negara utama yang kita ekspor kelapa sawit mulai menguranginya,» kata dia saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (5/7).

Imaduddin melihat, mulai berkurangnya impor minyak kelapa sawit oleh beberapa negara seperti India, Cina, dan Uni Eropa, membuat Indonesia harus bisa melirik negara lain sebagai tujuan ekspor. «Jadi, ini bisa mengganti pasar yang semakin sulit kita akses seperti Uni Eropa, China dan India,» katanya.

Meskipun demikian, ia juga mengingatkan untuk jangka panjang Indonesia perlu menyiapkan industri hilir agar mengolah minyak kelapa sawit menjadi beberapa produk olahan lain.

Industri hilir tersebut bertujuan agar produk olahan minyak kelapa sawit memiliki nilai tambah tinggi dan membantu pertumbuhan ekonomi nasional serta neraca perdagangan. Oleh sebab itu, ia menyarankan pemerintah segera menyiapkan industri hilir agar minyak kelapa sawit tidak hanya diekspor namun juga bisa diolah dalam negeri.

Sekretaris Atase Bidang Ekonomi Kedutaan Iran untuk Indonesia Mohammad Hassan Tavakoli mengatakan, Provinsi Aceh memiliki peluang besar untuk mengekspor minyak kelapa sawit langsung ke Iran tanpa ada perantara.

«Kami telah mendapatkan metode, serta peluang-peluang kerja sama di Aceh dan telah ada kesepakatan secara verbal, seperti misalnya para produser minyak sawit yang bisa langsung melakukan ekspor ke Iran tanpa perantara,» kata Mohammad Hassan Tavakoli saat melakukan kunjungan ke Provinsi Aceh.

Hassan Tavakoli menyebutkan bahwa kunjungan saat ini merupakan yang pertama kali dilakukan dirinya ke Provinsi Aceh. Hassan Tavakoli hadir untuk mengisi Seminar Komunikasi Antar Budaya Asia Tenggara dan Asia Barat yang berlangsung di Aula Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Kamis (4/7).

Dalam pertemuan itu, pihaknya juga berbincang dengan Kadin dan pelaku ekonomi Aceh. «Dengan Kadin, para pelaku ekonomi di Aceh kami telah melakukan perbincangan, dalam perbicangan ini kami telah mengenal lebih dekat kapasitas pelaku bisnis dari Aceh, demikian juga potensial yang ada di Iran kami perkenalkan di Aceh,» katanya.

SEMENTARA itu, dalam Seminar Komunikasi Antar Budaya Asia Tenggara dan Asia Barat, Kamis (4/7), Sekretaris Atase Bidang Ekonomi Kedutaan Iran untuk Indonesia Mohammad Hassan Tavakoli hadir sebagai salah satu pemateri. Seminar itu dibuka Wakil Rektor bidang Akademik dan Kelembagaan, Dr H Gunawan Adnan MA PhD.

Selain Hassan Tavakoli, pemateri lainnya guru besar UIN Ar-Raniry, Prof. Yusny Saby dan Prof. Alyasa’ Abubakar, Fauzan Santa dari praktisi film Aceh, Ir Muhammad Iqbal dari Kadin Aceh. Sedangkan sebagai keynot speaker, Direktur Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, Prof Dr Abdul Majid Hakimelahi.

“Kegiatan seminar ini diharapkan mampu melahirkan pencerahan khususnya bidang kebudayaan dan akdemik, sehingga ke depan dapat dilakukan kerja sama bidang akademik, terutama terkait dengan pertukaran mahasiswa Aceh dengan Iran, selanjutnya kita akan dapat melahirkan penelitian bersama berkaitan dengan sejarah, kebudayaan dan teknologi masa kini,” kata Ketua Panitia, Dr Abdul Rani Usman MSi.

Selain itu, pihaknya juga mengharapkan kepada pemerintah Iran untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak Aceh di masa mendatang, serta beberapa hal lain dapat dilakukan bersama seperti penulisan buku, penelitian dan workshop. “Fokus dari kegiatan tersebut adalah dalam rangkan menjalin kerja sama bidang akademik yang berkaitan dengan pengiriman mahasiswa ke berbagai kampus di Iran, pendekatan yang dilakukan khususnya dengan pendekatan budaya, ini telah berlangsung sejak setahun yang lalu,” kata Rani.

Direktur ICC, Prof Dr Abdul Majid Hakimelahi mengatakan, bahwa ia selama bertahun-tahun telah mepelajari dan mengkaji tentang sejarah peradaban dan budaya Indonesia serta tentang pancasila, dan secara berkesinambungan kecintaannya terhadap nusantara dan Indonesia semakin bertambah. “Lebih dari 50 negara yang saya kunjungi pada berbagai konferensi di dunia, tapi perasaan dan kekeluargaan yang saya dapatkan di Indonesia tidak saya dapatkan ditempat lain, saya rasa masyarakat Indonesia harus menghargai sifat kekeluargaan tersebut,” ujarnya.

Dr Abdul Majid menambahkan, bahwa ia menemukan bahwa orang Indonesia, akhlak dan moralnya sangat santun, budaya masyarakat Indonesia yang saling menghargai harus dirawat dengan baik. “Kami berharap dengan kegiatan ini merupakan awal kita melakukan kerja sama, dan ke depan akan kita lakukan kerja sama disegala sector, khususnya bidang akademik dan kebudayaan,” pungkas Abdul Majid. (ant/yos/Nrl)

 

 

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS