27619 KALI DIBACA

Harga Gabah Di Abdya Perlahan Mulai Anjlok

Harga Gabah Di Abdya Perlahan Mulai Anjlok
Foto: Realitas/Syahrizal Salah satu mesin pemotong padi tengah memanen padi milik petani di Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Abdya, Jumat (24/5/2019)
example banner

Blangpidie | Realitas – Harga gabah kering panen di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) perlahan mulai anjlok yakni berkisar antara Rp.4.400 per kilogram (kg).

Harga tersebut apabila dipotong menggunakan mesin pemotong padi (combine harvester).

Kondisi harga tersebut, cukup jauh berbeda dengan harga gabah pada musim panen padi tahun lalu, yakni berkisar antara Rp.5.000-5.500 per kg.

Sunusi, petani di Kecamatan Tangan-Tangan kepada wartawan, Jumat (24/5/2019) mengatakan, harga gabah pada musim panen tahun ini mulai turun.

Pada awal musim panen kemaren berkisar antara Rp 4.600-4.700 per kg.

Namun memasuki pertengahan musim panen harga gabah terus menurun dan sekarang berkisar hingga Rp. 4.400 per kg.

“Harga jual gabah untuk saat ini hanya sekitar Rp.4.400 per kg di tingkat agen pengepul, bisa saja harga ini terus anjlok, turunnya harga gabah ini, membuat petani di Abdya resah karena harus berpacu dengan waktu, sebab harga itu, per hari bisa berubah-rubah. Naik tidak mungkin, kalau turun iya,” ungkapnya.

Akibat terus anjloknya harga jual gabah itu, petani mengaku rugi dan dikhawatirkan tidak cukup untuk membiayai musim tanam kedua.

Harga jual gabah tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan petani mulai dari proses penggarapan lahan hingga memasuki masa panen padi.

Dimana, semua biaya seperti pemotongan padi dan biaya lainnya tidak turun, sehingga modal yang dikeluarkan petani lebih besar dari pada hasil penjualan padi.

Dengan kondisi harga gabah yang terus turun, tak ayal agen pengepul atau tengkulak gabah banyak mengincar hasil panen padi di Kabupaten Abdya.

Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti Aceh Selatan, Nagan Raya dan sejumlah daerah lain termasuk agen dari luar Provinsi Aceh seperti Sumatera Utara.

Para tengkulak mengincar hasil panen padi di Abdya karena dikenal sebagai daerah lumbung padi dengan kualitas bagus.

Jasmi petani lainnya memperkirakan harga masih akan terus turun seiring dengan melimpahnya stok gabah di tingkat petani.

Jika dibandingkan dengan harga gabah di Pulau Jawa, harga gabah di Abdya masih lumayan menguntungkan.

“Sampai musim panen berakhir, harga akan semakin murah, karena stok sudah melimpah, bahkan ada beberapa hamparan lain masih melakukan proses panen padi,” katanya.

Penurunan harga gabah ini tentu membuat petani sedih, lantaran nasib baik belum berpihak pada petani.

Memang saat awal panen lalu, pihaknya berharap harganya tinggi, paling tidak dapat menyiapkan modal untuk proses penggarapan lahan mendatang serta persiapan untuk kebutuhan menyambut Hari Raya Idul Fitri 1440 hijriah yang tidak lama lagi.

“Namun kini melihat harga yang semakin turun, kami tidak lagi dapat berharap meraih untung lebih,” tandasnya dengan nada sedih.

Ia berharap, Pemkab Abdya bisa ikut andil untuk membantu dan memberikan solusi untuk harga gabah di kabupaten setempat.

Paling tidak bisa stabil dan sedikit lebih menguntungkan petani.

Kondisi harga gabah yang mulai turun itu juga diakui oleh salah satu agen pengepul di Abdya. Ia tidak tahu persis mengapa harga itu terus turun, sebab segala keputusan harga itu ada pada agen penampung yang berasal dari Medan, Sumatera Utara.

“Kami menampung gabah petani sesuai dengan ketentuan harga yang diberikan oleh toke di Medan, kalau lebih dari ketentuan harga itu, kami tidak berani apalagi kita juga butuh ongkos untuk memuat padi hingga mengirimnya ke Medan,” singkat tengkulak yang enggan menyebutkan namanya. (Syahrizal)

example banner

Subscribe

MEDIA REALITAS